BAGIAN DUA PULUH DELAPAN

30 3 0
                                    

MELIHAT kepergian Fajar membuatku sadar oleh sesuatu. Hatiku memberontak menyuruhku untuk mengejarnya. Tanpa bisa kutolak pada akhirnya kedua kaki ini pun berjalan cepat menyusul Fajar yang hampir hilang oleh tembok.

"Fajar!"

Tiba-tiba tanganku mencekal tangan Fajar. Entah apa yang terjadi pada diriku. Semuanya menjadi lepas kendali.

Tentu saja Fajar sedikit terkejut dengan sikapku. Ada sesuatu yang membuatku sedikit tersentuh, tatapannya tidak berubah, masih datar tapi teduh. Hatiku tenang dan damai setelah menatap wajah yang amat kurindukan ini.

"Oh, hai?"

Masalahnya, aku bingung harus berkata apa. Kedatanganku menghampirinya hanya sekedar untuk menatap wajahnya saja, bukan untuk mengobrol dengannya. Tapi, aku ingin mendengar suaranya lebih banyak lagi. Lalu kulepaskan genggamanku padanya.

"Gue.... gue, semangat ujian, ya." kataku gugup setengah mati. Aku benci situasi seperti ini, situasi setelah hancurnya hubungan akan berakhir canggung. Aku tak berani untuk menatap wajahnya apalagi matanya. Tidak bisa.

"Lo juga."

Suasana pagi ini yang awalnya cerah mendadak berubah mendung dengan semilir angin yang dingin ketika menyentuh permukaan kulit. Aku sempat bergidik. Sama seperti sikap Fajar, dia begitu dingin. Tidak ada bedanya ketika masih berpacaran, hanya saja saat itu dia menjadi milikku.

"Lo sesi dua, 'kan?"

Aku tersentak mendengar Fajar bersuara lagi. Mungkin dia ingin berbasa-basi denganku tapi aku menganggapnya sebagai hadiah dihari anniv kami. Ya, hari anniv yang ke setengah tahun. Aku sedang berbincang dengan mantan dihari anniv. Terdengar sangat lucu.

"Iya, makanya berangkat sekarang." masih sama, pandanganku jauh dari jangkauan Fajar yang artinya aku sama sekali tak kuasa untuk menatapnya.

"Kok bisa?"

"Mau lihat kamu. Sekalian belajar bareng Kinan." sial, hatiku sakit sekali mengatakan itu didalam hati. Andai dia masih menjadi milikku tanpa rasa malu sedikitpun akan kukatakan langsung.

"Kinan? Kalian jadi akrab kayaknya." Fajar terlihat santai-santai saja saat berhadapan denganku. Seharusnya dia juga canggung mengingat aku adalah mantannya. Sungguh manusia yang luar biasa anehnya.

"Biasa aja nggak seperti apa yang lo pikir, kok."

Seperti mendapatkan tamparan keras, hatiku panas. Baru kali ini aku bicara menggunakan lo-gue pada Fajar. Apa ini? Rasa sakitnya kian bertambah banyak.

Nangis darah sumpah.

"Oh, gitu. Yaudah."

Ini yang paling aku benci. Fajar menyudahi obrolan. Padahal aku masih ingin berlama-lama dengannya.

"Nanti malam lo bisa chat gue kalau kangen."

DEG

What?! Aku tidak salah mendengarnya, bukan? Fajar berkata apa tadi? Kangen? Firasatku mengatakan kalau dia juga merindukanku. Aku jadi teringat perkataan Dirma kemarin, Fajar menjadi bisu setiap ditanya orang. Lalu kenapa saat ditanya aku, dia mau menjawab bahkan mau bertanya padaku.

Jadi, Apa aku masih memiliki harapan?

"Zella, ternyata lo disini." ujar Kinan dengan napas tak beraturan. Matanya menyorot ke segala arah seperti mencari sesuatu.

"Nyari apa?" tingkahnya ketahuan olehku. Dia sedikit terkejut tapi langsung ia samarkan dan mulai mengubah arah fokusku.

"Ayo ambil kartu ujian lo di Bu Eris."

Oh, aku lupa! Benar juga. Bagaimana bisa aku melupakan benda penting itu. Tanpa kartu tes, aku tidak akan bisa masuk ke ruang ujian. Ini terjadi karena pikiranku selalu saja dipenuhi oleh Fajar. Cintaku semakin besar saat dia pergi meninggalkanku. Untungnya, Fajar mengerti akan hal itu.

***

"Dapet?"

Aku mengangguk lemah. Kinan mengerutkan dahinya bingung dengan sikapku. Aku pikir akan semudah itu untuk mendapatkan kartu tes. Kenyataannya sulit. Bu Eris memang sudah memberikan benda itu padaku.

"Kalau minggu ini spp kamu belum dilunasi, maka jangan salahkan Ibu kalau nilai ujian kamu nggak keluar."

Lebih baik aku tidak usah diberi kartu ini jika pada akhirnya sama saja, nilaiku jadi taruhannya.

"Kenapa melamun?"

Aku terkejut saat tangan Kinan dikibas-kibaskan didepan wajahku. Lantas kutatap wajahnya yang penasaran menunggu jawabanku.

"Nggak ada apa-apa. Yaudah ayo kita ke perpus buat belajar." balasku seraya tersenyum untuk menyamarkan wajah penasaran yang terus terpancar pada wajah Kinan.

Bukan untuk apa, hanya saja masalah ini terlalu privasi. Aku malu sekaligus kecewa pada diriku sendiri. Aku lupa dengan masalah keuangan sekolahku. Kalau aku minta pada Ibuku rasanya percuma. Uangnya pasti sedikit karena membiayai aku saat di rumah sakit.

Langkahku terhenti karena tiba-tiba Kinan menahan tanganku yang sedang menggenggam kartu tes.

"Gue tahu apa yang Bu Eris katakan sama lo."

Kulihat wajah Kinan begitu serius menatapku. Kuharap dia tidak berpikiran untuk membantuku. Tidak, aku tidak mau direpotkan. Masalah ini sepele dan aku bisa menanganinya dengan cepat.

"Tanpa penolakan, gue bakal bayar seluruh pembayaran spp lo."

-<<<FAJAR>>>-

Yohooo welkom bekkk gaisss

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yohooo welkom bekkk gaisss

Ada yg kangen Fajar gk? Kangen gk?😱Masa ga kangen si😒 yauda de gpp(¬_¬)

Oke gais jadi gini ceritanya ya gitu ceritanya sedih bet kan:"(

Fajar kembali tp kembalinya dia udh ga sm gw eh sm Zella wkwk:v

Btw gw pelakor mau rebut Fajar kan pas bgt tu dia lg jomblo yekan:v

Eh gajadila apaansi biarla jd milikny Zella tar diamuk gw:"

Yauda segini dlu, semangat membacany dan jangan lupa Vomenntnya ya meskipun belum ada yg berniat memberikannya gamasala saya bukan termasuk orng yg memaksa ko⊙_⊙ ehehehe:v

Salam, Sankhaa

FAJAR [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang