LANGKAH kecilku terhenti kala melihat sepasang kaki menghalangi jalan. Aku mendongak untuk melihat siapa pemilik kaki, tidak lain tidak bukan adalah Dirma.
"Nih," dia menyodorkan sebuah kantung plastik kepadaku.
Aku menerima meski ragu, belum sempat aku bertanya, Dirma sudah pergi begitu saja. Tidak biasanya dia bersikap acuh kepadaku. Biasanya dia akan banyak bicara saat membahas sesuatu dari yang penting sampai tidak penting.
Selang beberapa detik, aku baru sadar akan sesuatu. Dirma sudah beda. Bedanya kali ini dia sudah bersama Maura. Lalu untuk apa aku merasa kehilangannya? Untuk apa aku bertanya hanya untuk bisa berbicara dengannya?
"Kaca?" gumamku bingung dengan benda yang kini sudah kugenggam. Kaca? Oh, aku lupa! Ternyata Dirma menuruti keinginanku yang ingin diganti rugi tentang retaknya kaca milikku yang nyaris tidak bisa digunakan karena bentuknya benar-benar remuk.
"Kaca dari dia atau Fajar?"
"Kalau dari Fajar pasti bukan Dirma yang ngasih,"
"Tanya nggak, ya?"
Aku berjalan pelan sembari berbicara sendiri macam orang gila. Sikap anehku tertangkap oleh Fajar yang baru saja datang ke sekolah. Dia berlari menghampiriku.
"Pagi, darling."
Sontak aku langsung berhenti jalan, lagi. Sial jantungku tidak normal ketika Fajar membuatku salah tingkah. Ketahuilah, selama berpacaran, dia tidak pernah mengucapkan kalimat tadi, kecuali hari ini.
Sebenarnya, Fajar kenapa sih?!
Fajar mengerutkan dahinya kala melihatku sedang menatapnya horor, "Kenapa?"
"Pagi," balasku kikuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju kelas.
"Makasih fotonya, La. Tahu nggak? Semalam gue sampai nggak bisa tidur."
Aku hanya menganggukan kepala sambil tetap melanjutkan perjalanan diikuti Fajar disampingku. Entah kenapa ekspresi dia pagi ini sangat ceria. Tentu saja ekspresi itu jarang diperlihatkannya. Ada apa ya?
"Tanya dong kenapa,"
Dih! Dia kenapa sih? Aneh sumpah. Hilang kemana sifat dinginnya itu? Aku tidak biasa melihat dia jadi seperti ini.
"Kenapa?"
"Lupain."
"Marah?"
"Lo bawa apa?" bukannya menjawabku, dia mengalihkan perhatiannya pada kantung plastik yang kubawa.
"Marah, ya?"
"Coba gue lihat,"
"Pasti marah,"
"Dari siapa?"
"Iya, kalau aku jawab dari siapa, kamu pasti marah."
"Dari Dirma."
Aku menghela napas pelan. Sudah kuduga, Fajar merubah ekspresi wajahnya. Yang tadinya ceria sekarang kecewa. Tatapan tajamnya pun kini sudah kembali setelah hilang entah kemana. Kini Fajar menjadi Fajar yang aku kenal. Cowok dingin, judes, kasar, kaku, batu, kerikil, pasir. Ngaco!
"Kalau kamu nggak suka, sekarang aku buang."
Bohong! Aku sedang berbohong. Yang pasti aku tidak akan mau untuk membuang barang pemberian Dirma. Rasanya aku mendapatkan sesuatu yang istimewa dan berharga. Meskipun hanya kaca tapi tetap saja itu dari Dirma.
"Gue duluan," Fajar mempercepat langkahnya meninggalkan aku sendirian disini.
Disini, kedua mataku terus saja menatap kepergian Fajar yang semakin lama semakin hilang ditelan belokan koridor. Aku menghembuskan napas. Kuangkat kantung plastik itu didepan wajahku.
"Hanya gara-gara ini dia marah lagi."
***
"UNBK akan dilaksanakan tanggal 7. Jadi, untuk satu minggu ini kalian akan benar-benar disibukkan oleh tambahan jam pelajaran. Khusus untuk kelas dua belas, kalian pulang jam setengah lima." ujar Pak Karta selaku kepala sekolah, mengadakan apel pagi khusus kelas dua belas pagi ini.
Suasana ramai oleh mulut yang tidak terima dengan keputusan Pak Karta tidak bisa terelakan lagi. Hingga Pak Karta dibuat repot harus berteriak kencang untuk menghentikan aksi ribut muridnya.
"Kalau ada yang tidak terima dengan keputusan ini, silakan angkat tangan dan maju ke depan!"
Pada akhirnya tidak ada yang berani memprotes. Pak Karta mengembuskan napas kasar kemudian melanjutkan bicara, "Baiklah, apel pagi saya akhiri."
Semua peserta apel membubarkan diri mereka pergi dari area lapangan. Saat berjalan aku jadi memikirkan sesuatu. Bukan mengenai UNBK, tapi tanggal tujuh itu ... tanggal anniversary ke setengah tahun aku dan Fajar.
Kurasa tanggal itu amat istimewa sampai harus bertepatan dengan hari UNBK diadakan. Aku sungguh terharu.
Sesampainya di kelas, aku terduduk lesu di bangku. Dirma baru saja masuk dan duduk dibelakangku. Ingatanku kembali pada kaca yang membuat Fajar marah. Lantas aku menoleh membuatnya mengerutkan dahi.
"Gue ... nggak bisa nerima ini, Dir." kataku seraya mengembalikan barang pemberiannya. Dia menampilkan ekspresi datar kali ini.
"Lah kok dikembalikan? Kacanya jelek atau gimana?"
"Udah ikhlas gue, jadi ambil aja nggak masalah kok."
"Nggak bisa lah. Gue beli buat lo terus kalau gue ambil lagi buat apa? Lagi pula gue jarang ngaca, Zel."
Sebentar aku diam, lalu menatap Dirma tepat dikedua matanya, "Gue maunya kaca dari Fajar."
Jeda beberapa detik kemudian Dirma terkekeh pelan, "Yakin?"
"Iya,"
"Serius?"
"Iya,"
"Serius nggak mau?"
"Iya, ih!"
"Oke lah daripada ke buang mending gue kasih ke Maura."
DEG
"Maaf, ya."
"Santai aja, Zel. Nanti gue bilang ke Fajar suruh beliin lo kaca."
Eh?
-<<FAJAR>>-

KAMU SEDANG MEMBACA
FAJAR [Tamat]
Teen FictionTamat Ini kisahku dengan dia. Ini aku yang merasa asing namun diam-diam selalu dicintai. Ini kisahku dengan mereka. Ini aku yang mulai sadar bahwa aku hidup tidak sendirian. Ada mereka yang selalu berusaha menggapaiku meski aku selalu menghindarinya...