BAGIAN ENAM BELAS

12 3 0
                                    

SEPERTI yang dikatakan oleh Fajar, sekolah kami mengadakan pertandingan basket hari ini. Pertandingan yang diadakan setahun sekali itu benar-benar menarik perhatian seluruh murid. Bagi mereka yang merasa jago basket maka harus diikutsertakan dalam pertandingan tersebut. Mengingat bahwa potensi basket di sekolah ini cukup bagus, tidak heran jika banyak piala yang tersusun rapi di etalase dekat ruang guru. Dan yang sering memenangkan pertandingan antar sekolah tidak lain tidak bukan adalah Fajar, pacarku.

Aku dan Kinan sudah berada ditengah-tengah para penonton. Semuanya berdiri penuh semangat ditepi lapangan. Memandang pemain favorit mereka. Sialnya yang banyak digemari adalah Fajar dan Dirma. Dua cowok itu teman di sekolah namun rival dalam pertandingan. Yang aku sukai dari mereka berdua adalah tetap berteman meski banyak permasalahan.

Dan, inti dari permasalahan mereka tak jauh dari aku. Tanpa aku sadari pula, aku sering merenggangkan kedekatan mereka.

Mau bagaimana lagi? Aku membutuhkan Fajar sebagai pacarku dan aku juga membutuhkan Dirma sebagai temanku.

Apakah aku terlalu serakah?

Sadar dimana aku berada, akhirnya aku hanya diam saja. Melupakan keinginan Fajar yang memintaku untuk menyemangatinya. Heh, tadi dia meminta Kinan juga. Sebab aku kecewa akibatnya aku tidak mengabulkannya. Aku lebih memilih untuk menyemangati tim Dirma. Dia mewakili kelasku, aku tidak boleh jahat dengan kelasku sendiri.

Ramainya teriakan yang diciptakan oleh penonton membuatku muak. Berulang kali aku menutup telinga. Kinan yang merasa terganggu oleh sikapku pun turut menghentikan teriakannya untuk menyemangati Fajar.

"Mau keluar atau tetap disini?" tawarnya ramah seperti biasanya. Ya, dia kembali pada sikapnya yang ramah tidak kaku lagi.

"Gue keluar kalau Fajar menang," balasku cuek. Bahkan aku enggan untuk menatap wajah cantiknya. Aku jujur mengatakan cantik karena memang Kinan terlalu cantik untuk dilihat. Kurasa aku kalah jauh dengannya. Hm, aku harus sadar diri. Mungkin Fajar mendekati Kinan karena fisiknya. Jika iya, lalu kenapa Fajar mau berpacaran denganku sedangkan wajahku jauh dari kata cantik?

"Yakin banget kalau dia menang,"

"Gue tau keunggulan pacar gue. Jadi, lo nggak usah sok tau."

Kinan menganggukan kepalanya berulang kali. Aku berusaha fokus menonton. Di lapangan sudah berlangsung pertandingan basketnya. Dengan lincah Fajar mendrible bola hingga dia berhasil memasukan bola dalam ring lawan. Sontak penggemar Fajar berteriak kagum padanya. Aku juga ingin melakukan itu, tapi ketika mataku tak sengaja bertemu dengan mata Dirma, aku menelan keinginanku.

Sejak pertadingan dimulai, aku belum mengeluarkan teriakan sedikitpun.

Karena aku tidak pernah suka keramaian.

"Gue harus adil." batinku memutuskan untuk menyemangati yang pantas untuk diberi semangat.

"SEMANGAT DIRMA! GUE YAKIN LO BISA MENANGIN KELAS KITA!"

Selesai berteriak, beberapa orang disekitaku menatapku tidak suka. Apa salahku? Seharusnya aku tidak mendapatkan tatapan itu. Lagi pula aku sudah melakukan hal benar. Tidak menyemangati tim lawan. Jadi, apa salahku?

"Zella, lo dilihatin Fajar!" ujar Kinan membuatku terkejut. Bola mataku mencari keberadaan Fajar dan dia sedang menatapku penuh kekecewaan.

Tidak memperdulikan Fajar, aku mengalihkan perhatianku ke arah tim dari kelasku. Mataku pun bertemu lagi dengan mata Dirma. Dia baru saja melambai ke arahku dengan senyuman hangatnya. Entah kenapa aku cukup senang melihat senyumannya itu.

Pertandingan pun masih berlanjut. Kini tim kelasku mulai bergerak. Lebih tepatnya Dirma sekarang sedang sibuk mendrible bolanya yang dipantulkan diatas permukaan lapangan dan ya, dia berhasil memasukan bola ke dalam ring lawan.

"Yeay!" seruku girang.

"Wah, sekarang seimbang!" Kinan ikut menyorakan keberhasilan Dirma. Kami berdua saling bertos ria. Sejenak aku melupakan permasalahan yang terjadi diantara kami berdua.

Teriakan kagum yang terjadi di area penonton semakin menambah kemeriahan acara ini. Aku pun semakin bersemangat untuk menyemangati Dirma. Tidak peduli jika Fajar kecewa padaku, dia harus merasakan apa yang aku rasakan.

Hingga tanpa sadar, Dirma sudah jatuh terlentang sambil mengaduh kesakitan. Aku terkejut bukan main. Kekhawatiranku sudah memuncak, tidak bisa kutahan lagi. Oleh karenanya, aku bergegas menghampiri Dirma. Terlambat! Maura sudah ada disamping Dirma. Cewek itu membantu Dirma berdiri sedangkan Dirma merangkul bahu Maura. Aku hanya bisa melihat semua itu dengan diam saja. Tanpa berniat untuk ikut mengantarkan Dirma ke UKS.

"Jangan dilihatin, mending samperin."

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara Fajar yang muncul dibelakangku. Dia menatapku dengan tatapan datar dan lebih terkesan malas denganku.

"Ada Maura," balasku seadanya.

"Disini juga ada gue. Tapi lo malah fokusnya ke Dirma. Lo masih belum terima kalau mereka balikan?"

Aku menatap Fajar serius, "Kamu melawan Dirma yang sekelas denganku. Apa aku salah jika lebih fokus dengan dia?"

"Tanpa lo sadari, baru saja lo lupa kalau gue pacar lo." balas Fajar tajam seraya mengacungkan jari telunjuknya tepat didepan wajahku, "Kecewa gue."

Aku menghembuskan napas jengah. Sesuai dengan firasatku sebelumnya, hal tidak baik itu ternyata terjadi juga. Dirma mengalami kecelakaan kecil saat bertanding. Disisi lain pun aku kembali ditinggal pergi oleh Fajar. Apalagi baru saja dia mengacungkan jari telunjuknya. Tega sekali dia kepadaku.

"Kita kembali ke kelas ya, Zel." ajak Kinan yang baru saja datang menghampiriku.

"Tinggalin gue!"

Segera aku meninggalkan Kinan sendirian di lapangan. Saat melangkah pergi pun tak sengaja aku menabrak bahu Siska. Dia mengaduh jengkel tapi tetap saja aku tidak peduli.

Tujuanku kini hanya satu, menemui Dirma meskipun harus bertemu lagi dengan Maura.

-<<FAJAR>>-

FAJAR [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang