SESAMPAINYA di rumah, aku langsung melemparkan tas punggung dan tubuhku diatas ranjang. Entah kenapa aku tersenyum sekarang. Ternyata seorang cowok dingin seperti Fajar memiliki rasa cemburu. Aku tidak menyangka dia akan berkata seperti itu di whatsapp. Jika saja malam itu aku tidak menonaktifkan data, maka wajahku akan semerah tomat.
Fajar cemburu! Ingat itu baik-baik!
"Kemajuan yang lumayan!" seruku girang sembari meloncat diatas pulau kapuk kesayangan.
"Fajar cinta sama aku!"
"Kamu berhasil, Zella!"
Aku tahu aku sangat gila melakukan hal sereceh ini. Tapi siapa yang tidak senang jika manusia dingin ternyata bisa dicairkan. Aku berhasil melumpuhkan Fajar! Aku berhasil membuat Fajar sadar!
"Kalau berhasil bikin Fajar sadar, gue janji nggak akan ikut campur lagi."
Tiba-tiba aku ingat dengan perkataan Dirma yang berjanji tidak akan mencampuri urusan pribadi hubunganku bersama Fajar jika saran darinya waktu itu berhasil membuat Fajar sadar. Jadi, Dirma tidak akan mencampuri lagi? Tidak akan mengganggu lagi? Dirma tidak akan menggangguku lagi? Ternyata begitu dan aku baru mengingatnya. Tapi tidak masalah selagi Fajar sudah berubah meskipun Dirma rela mengorbankan hubungannya kandas. Dirma memperjuangkan hubunganku. Kenapa dia baik sekali?
Kabar baik ini sebaiknya aku beritahukan saja kepada Dirma. Setidaknya sebagai kesepakatan terakhir bahwa janjinya itu harus dipastikan akan dia lakukan atau tidak. Segera kucari nomornya dan mengetikan beberapa kata disana.
Zella : Malam ini ada waktu nggak?
Setelah memastikan pesanku terkirim, aku menonaktifkan data dan beranjak keluar kamar. Rasa lapar menghasutku untuk mencari makanan di dapur.
Sejenak aku melupakan apa yang sudah kulewati. Aku ingin memanjakan diri ini dulu sebelum berkutat pada kehidupanku yang lain. Sudah terlalu lama aku melupakan diri sendiri karena sering memusingkan perihal, ada apa dengan Fajar?
Baiklah. Biarkan aku sendiri untuk beberapa puluhan menit ke depan.
***
Suara dering ponsel menyapaku ketika aku baru menginjakan kaki diambang pintu kamar. Tanpa menganggurkan telepon lebih lama lagi langsung aku terima saja dan itu dari Dirma.
"Pasti lagi banyak duit." katanya memulai obrolan ini. Tentu saja setelah aku mendengar perkataannya bergidik geli. Dirma selalu saja seperti itu. Sangat menyebalkan meskipun tidak semenyebalkan Fajar. Eh?
"Tunggu gue di Cafe Cornday satu jam lagi."
Dirma mendecak, "Kalau nggak mau, bagaimana?"
"Anggap aja malam ini gue lagi kaya dan pengin ngabisin uang."
"Oke!"
Aku mengakhiri telepon sepihak. Sudah saatnya aku menata kembali kehidupanku yang semula tidak teratur karena permasalahan hati yang menyangkut nama Fajar didalamnya. Setelah semuanya kelar, aku akan lebih fokus untuk menciptakan keharmonisan dalam hubunganku. Begitu banyak pertanyaan yang selama ini membusuk di otak dan baru sekarang aku sudah mendapatkan jawabannya. Jawaban yang begitu berlogika untukku karena setelah kupikir lebih jauh lagi ternyata aku yang salah.
Tanpa sadar aku lebih dekat dengan cowok lain dari pada cowokku sendiri.
Tapi malam ini aku berjanji bahwa pertemuanku dengan Dirma itu untuk terakhir kalinya. Pertemuan yang membuat kami dekat seperti biasanya. Aku akan menyudahinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
FAJAR [Tamat]
Teen FictionTamat Ini kisahku dengan dia. Ini aku yang merasa asing namun diam-diam selalu dicintai. Ini kisahku dengan mereka. Ini aku yang mulai sadar bahwa aku hidup tidak sendirian. Ada mereka yang selalu berusaha menggapaiku meski aku selalu menghindarinya...