BAGIAN LIMA PULUH DUA

22 3 0
                                        

PAGI buta sekali aku sudah ada di kamar rawat Kinan. Cewek itu masih tertidur. Perlahan aku berjalan mendekati, membelai dahinya penuh kasih sayang.

"Gue bawa perias yang kata Ibu lo adalah perias favorit lo, Nan."

Yang kuharapkan kedua mata yang terpejam rapat itu terbuka. Tapi Kinan tak kunjung membukanya. Napasnya masih teratur. Mungkin ia masih dialam mimpinya.

Acara kelulusan akan dimulai pukul 8. Saat ini pukul 5.30, masih ada waktu dua setengah jam untuk mempersiapkan diri. Mbak Silvia segera merias diriku terlebih dahulu selagi menunggu Kinan bangun.

Sekitar satu jam, aku sudah selesai dirias. Kutatap pantulan wajahku dicermin yang kubawa dari rumah. Bahkan aku sampai tidak mengenali wajahku sendiri, pangkling karena tak pernah memakai make up sedari dulu. Dan kebaya berwarna putih ini sangat pas ditubuhku. Aku sampai berpikir, kalau aku adalah seorang pengantin.

Ah, ngaco!

Mbak Silvia berkata padaku, "Kinan belum bangun, terus bagaimana?"

Aku menoleh ke arahnya, lalu berganti ke arah Kinan. Benar, cewek itu belum membuka matanya. Sungguh bimbang, cemas, sedih menjadi satu bergumul dihati.

"Rias aja, Mbak. Saya mau lihat secantik apa wajahnya setelah dirias. Dan sebelum dia melakukan operasi."

Mbak Silvia mengangguk. Lantas dia langsung mengerjakan pekerjaannya sebagai perias langganan Kinan. Merias wajah pucat itu dengan amat telaten.

Aku tergugu saat berbagai macam make up itu menyentuh wajahnya. Rasanya ingin menangis. Tapi kutahan sekuat tenaga. Aku tidak boleh merusak riasan di wajahku.

Dan acara kelulusan tinggal setengah jam lagi. Aku semakin gelisah karena Kinan belum juga bangun dari tidurnya.

Tangan Mbak Silvia menepuk bahuku, "Kalau kamu nggak berangkat sekarang, kamu bakal telat. Kinan, biar Mbak yang jaga. Nanti kalau Kinan udah bangun, Mbak video call kamu, biar Kinan juga ikut acara kelulusannya."

Memang sulit rasanya meninggalkan Kinan. Apalagi kondisi cewek itu tidak bisa kuprediksi. Napasnya yang teratur membuatku berpikir macam-macam. Apa dia akan selamanya tidur seperti itu?

Pada akhirnya aku setuju. Aku mulai melangkah keluar dari kamar rawat itu. Berjalan menyusuri koridor dan ketika sudah keluar sepenuhnya dari rumah sakit, aku memberhentikan sebuah taksi. Melaju menembus jalan raya menuju sekolah.

Selama perjalanan, telingaku terus berdengung. Entah apa yang terjadi. Yang pasti sekarang aku tidak bisa mendengar suara apapun yang berada disekitarku. Bahkan suara hiruk-pikuknya manusia dijalan raya benar-benar tidak masuk ke pendengaran.

Aku menghela napas gelisah. Kumantapkan hatiku bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja. Kinan pasti akan segera bangun dari tidurnya. Lalu akan melakukan operasi. Aku yakin itu.

Sesampainya di sekolahan, aku langsung turun lalu membayar ongkos. Berjalan memasuki area lapangan yang sudah penuh oleh murid seangkatan dan para orang tua mereka.

Mataku memandang ke segala arah. Menangkap sosok Ibuku tengah duduk disalah satu kursi tamu dibagian belakang yang dikhususkan untuk orang tua.

Aku berlari menghampirinya. "Ibu?!"

Ibu menatapku takjub. Tak percaya putrinya ini berubah drastis setelah di rias. Beliaupun bangkit, meraih tubuhku lalu mendekapnya erat.

"Kamu cantik banget, Zella."

Aku melepaskan dekapannya, menatap Ibu lembut. "Anaknya siapa dulu."

Ibu tersenyum lebar. Tapi tatapannya tidak sesemringah senyumannya. Terkesan penuh kesedihan, kekecewaan, kecemasan. Aku bisa merasakannya.

"Yaudah kamu duduk dikursimu sana."

Aku mengangguk. Menuruti perintah Ibu. Mencari tempat duduk yang berada dibagian depan. Karena bagian belakang itu hanya untuk orang tua murid saja.

Jantungku berdebar kencang. Acara sudah dimulai. Semua kursi sudah ditempati. Aku berusaha menutupi kegelisahan yang melanda hatiku. Panas rasanya. Sebenarnya ada apa?

Tiba-tiba ponsel digenggamanku bergetar. Membuatku sedikit berjengkit. Aku segera menilik siapa penelponnya.

Mbak Silvia menelpon!

"Hallo, Mbak! Gimana sama Kinan? Udah siuman?"

"Mendingan kita beralih ke video call aja biar kamu bisa lihat sendiri."

Ucapan Mbak Silvia terdengar mencurigakan. Tapi aku segera menghubunginya balik lewat video call.

"Surprise!!"

Mataku membelalak tak percaya dengan apa yang kulihat.

"KINAN!!"

Saking kagetnya aku sampai berteriak, membuat semua murid kelas dua belas menatapku heran. Aku hanya tersenyum kikuk. Segera membekap mulutku sendiri. Lantas kuarahkan kamera ke arah panggung. Disana Pak Kepala Sekolah sedang berpidato.

"Nggak nyangka gue, Nan, lo udah siuman!"

Kinan terkekeh disana, "Gue tahan diri gue biar nggak tidur terus buat nemenin lo hari ini. Gimana disana? Masih lancar-lancar aja kan?"

"Lancar kok, Nan. Lo baik-baik aja, 'kan?"

"Baik kok, kayaknya bisa langsung sembuh tanpa dioperasi haha."

Aku menatapnya tajam, "Kalau lo bicara kayak gitu lagi, gue bakal bunuh diri sekarang!!"

"Kalau lo bunuh diri, siapa yang nemenin masa tua Ayah? Siapa yang nemenin Fajar? Siapa yang ngingetin sama dunia kalau gue pernah ada?"

"Kinan.... gue mau lo dioperasi. Katanya mau jadi saudara yang saling menyayangi?"

"Nggak usah, Zel. Gue udah sembuh dih, nanti gue pulang kok."

"Sembuh apaan coba? Sembuh dari kesedihan iya tapi sembuh dari penyakitnya belum!"

"Gue janji gue bakal pulang nanti dan kita bisa berpelukan lagi."

"Ngomong apa, sih, lo?"

Kinan diam. Matanya terus menatapku disebalik layarnya. Benar-benar tatapan yang tidak bisa kuartikan.

Akhirnya aku membiarkannya menonton acara kelulusan sampai selesai. Video call masih berlanjut. Aku terharu mendengar pengumuman kalau kami semua lulus. Air mata kebahagiaan mengaliri pipi.

Semasa ujian hanya berisi kesedihan didalam hidupku. Tak ada semangat untuk mencari nilai setinggi-tingginya.

Hanya satu hari dimana aku benar-benar belajar, hari terakhir ujian saat malamnya aku belajar bersama teman Fajar yang pintar fisika.

-<<<FAJAR>>>-

FAJAR [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang