TANGAN Kinan menarik lenganku lembut. Ketika kesadaranku kembali sepenuhnya dengan segera kutepis genggaman tangannya. Menatapnya datar membuat Kinan menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Ngapain masuk kesana? Bukannya lo ngajak gue ke restoran? Kalau lo bermaksud hal lain mendingan nggak usah aja. Gue mau pulang sekarang."
GLEK
Aku mendengar dengan jelas baru saja Kinan meneguk ludahnya kasar. Apakah ucapanku terlalu menohok hatinya? Tapi aku hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh otakku yakni menjauhi segalanya yang berhubungan dengan masa lalu.
Aku benar-benar tidak mau mengulanginya lagi. Karena menangis itu terlalu menyebalkan. Aku tidak suka.
"Gue...." Kinan berpikir sejenak dengan raut wajah masam kemudian wajahnya kembali ceria, "...gue mau lo ketemu sama keluarga gue dulu, Nan."
Apa katanya? Bertemu dengan keluarganya? Yang benar saja.
"Gue mau pulang!"
"KINAN!"
Lantas mulutku bungkam begitu mendengar teriakan seseorang yang kulihat sedang berdiri di depan pintu masuk. Seorang wanita paruh baya terlihat begitu penasaran. Tapi aku tak bisa mengenali wajahnya karena wajah wanita itu sedang menggunakan masker kecantikan.
Heh? Masih sore sudah perawatan?
"MASUK! JANGAN KELAMAAN DILUAR NANTI MASUK ANGIN! KAMU SAMA SIAPA DISANA?"
Tidak bisakah wanita itu berkata dengan nada yang biasa saja? Gendang telingaku hampir pecah ketika suara yang cukup kencang itu menyapa pendengaran.
Melihat gelagat ketidaknyamananku langsung membuat Kinan merasa bersalah.
"Maafin Ibu gue, Zel. Dia dari dulu selalu begitu, suka berteriak dan nggak bi--"
Karena terlalu malas untuk mendengarkan penjelasan Kinan lebih lanjut segera kupotong saja ucapannya, "Jadi, lo mau nyamain Ibu Kinan gue sama Ibu lo, gitu?"
Kinan menggelengkan kepalanya beberapa kali seraya tetap bertahan dengan senyuman manisnya, "Kesamaan memang dimiliki oleh orang mana pun. Hanya saja perbedaan yang terkadang membuat orang lupa apa yang menjadi kesamaan diantara mereka."
"Ngomong apa, sih?"
Entah kenapa aku jadi emosi setelah mendengarkan perkataannya yang sok bijak itu. Terlebih lagi apa katanya tadi? Kesamaan? Aku tidak menyangka dia menyamakan Ibunya Kinan dulu dengan Ibunya. Aku sangat tidak setuju dengan pendapatnya.
"Lain kali gue ganti nama, bagaimana?" tanyanya yang menjurus pada penawaran yang membuatku semakin terheran-heran.
Belum sampai aku menjawab, sosok wanita itu yang disebut Kinan sebagai Ibunya mendatangi kami berdua. Mungkin kami atau lebih tepatnya Kinan terlalu lama menganggurkan panggilan Ibunya tadi.
"Ibu sudah bilang, kan? Jangan terlalu lama diluar nanti masuk angin. Udah tahu ada tamu malah nggak diajak masuk rumah. Keterlaluan kamu, Nan."
Satu kata untuk wanita itu, cerewet. Tiba-tiba hatiku sesak setelah mengatai Ibunya Kinan didalam hati. Aku jadi iri dengan kehidupan Kinan yang super harmonis. Mendapatkan Ibu yang sangat perhatian dan peduli akan kesehatan anaknya.
Bagaimana denganku? Aku percaya aku akan mendapatkan keadilan dalam kehidupan nantinya. Aku selalu menunggu dan terus menunggu.
Perhatian wanita itu beralih ke arahku, "Ayo, jangan sungkan untuk masuk ke rumah. Jarang banget anak saya bawa teman sekolahnya ke rumah. Kamu beruntung bisa ambil hati anak saya yang nggak mau berteman sama orang lain." ajaknya seraya menarik lenganku lembut diikuti Kinan dibelakang.

KAMU SEDANG MEMBACA
FAJAR [Tamat]
Novela JuvenilTamat Ini kisahku dengan dia. Ini aku yang merasa asing namun diam-diam selalu dicintai. Ini kisahku dengan mereka. Ini aku yang mulai sadar bahwa aku hidup tidak sendirian. Ada mereka yang selalu berusaha menggapaiku meski aku selalu menghindarinya...