BAGIAN SEMBILAN

29 4 0
                                    

NAPASKU memburu setelah selesai melaksanakan praktek basket di lapangan pagi ini. Pak Gunawan menutup buku daftar nilai seraya mengucapkan kalimat penutup pelajaran. Semuanya termasuk diriku berjalan kembali ke kelas untuk berganti pakaian. Namun langkahku terhenti kala tidak sengaja mataku menangkap seorang cowok yang tengah berjalan santai menuju ke area belakang sekolah.

Aku sedikit berlari menyusulnya, "Fajar."

Dia menoleh. Wajahnya datar seperti biasanya tapi tidak dengan tatapannya. Sorot matanya sangat teduh. Darahku berdesir dan ya, cukup lama aku tidak melihat tatapan seperti itu.

"Kamu baik-baik aja kan?" tanyaku seraya menyunggingkan senyuman. Mengingat perkataan Fajar yang dahulu mengatakan bahwa senyumanku ini adalah hal paling dia sukai. Semoga saja Fajar mau merubah ekspresi wajahnya.

"Biasa aja." katanya datar sedatar wajahnya.

"Soal semalam...." aku bergumam bingung dan ragu untuk membahas soal kejadian semalam.

Tidak kusangka Fajar mengusap kepalaku pelan. Didalam hatiku ingin sekali berteriak kegirangan karena mendapatkan usapan manja dari pacar. Jadi, begini rasanya.

"Nggak usah inget kejadian yang tadi, udah berlalu juga kan?"

Aku tergelak dengan ucapannya. Ingatanku masih tajam. Fajar pernah mengatakan kalimat itu lewat pesan singkatnya beberapa hari lalu. Hatiku terharu dan entah kenapa mataku sudah berkaca-kaca.

"Manusia aneh kamu!" aku menyentak Fajar dan memeluk tubuhnya yang sangat aku rindukan. Aroma parfum cowok ini menjadi aroma favoritku semenjak hidupku dipenuhi oleh namanya. Bahkan aku membeli parfum dengan merk yang sama dengan yang Fajar pakai. Segila itu ketika aku sudah mencintai seseorang terlalu dalam.

Fajar mengusap kepalaku berkali-kali. Dia membiarkanku memeluk tubuhnya. Cowok dingin ini konon katanya hampir tidak pernah mau disentuh oleh cewek manapun sebelum mengenalku. Aku tahu itu semua dari Dirma yang sudah lama mengenal siapa Fajar sebenarnya.

Kepalaku mendongak menatap wajah tampan cowok ini, "Jarang banget kamu kayak gini sama aku."

"Anggap aja ini bentuk permintaan maaf karena semalam gue marah besar sama lo."

Aku melepaskan pelukanku dan menggenggam erat tangan Fajar yang tak kalah putih denganku. Ya, cowok ini selalu menjaga kebersihan tubuhnya dan aku sangat menyukainya.

"Terus, keadaan Naya bagaimana?"

Rasa penasaran sudah membumbung tinggi dalam kepalaku. Bukan hanya Fajar saja yang menyayangi gadis kecil itu tapi aku juga. Semenjak pertama kali melihat Naya di rumahku--bertepatan dengan Fajar menyatakan cintanya--aku mulai menyukai gadis berambut keriting itu. Sangat lucu dan manis.

"Dia udah rebahan di kamarnya. Lagi pula luka ringan meskipun kalau berjalan pincang."

Aku terkekeh geli dan meninju lengan Fajar, "Kamu harus tanggung jawab. Dia kecelakaan juga gara-gara mencari kamu."

"Salah dia sendiri nggak hati-hati. Gue kan nggak bikin dia celaka, La."

Benar juga! Berdebat dengan Fajar tidak akan ada menangnya. Dia selalu punya kalimatnya sendiri untuk melumpuhkan lawan bicaranya. Terkecuali dengan Ayahnya. Fajar berpikir berkali-kali jika harus berdebat dengan dia. Mulutnya mati rasa hanya dengan melihat wajah sangar milik Pak Dani.

"Lo masuk kelas gih. Gue mau nongkrong sebentar."

Aku mengangguk tak lupa juga dengan senyuman yang masih aku pertahankan.

"Senyumannya dipending dulu, La." sindir Fajar memandangku tak suka, "Takut mati gue."

Segera jemariku meraih lengan Fajar dan mencubitnya sekeras mungkin. Dia mengeluh kesakitan dan dibalasnya dengan tawa yang begitu menambah keceriaan dalam diriku.

FAJAR [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang