SEKITAR setengah jam aku menunggu dokter keluar dari ruangan yang tengah digunakan untuk merawat Naya. Saat ini aku gelisah. Pikiranku kacau tak keruan. Dirma yang berada disampingku pun turut gelisah. Aku tahu dia sedang bingung akan melakukan apa supaya bisa menenangkan aku.
Eh?
Seharusnya kami tak lagi bersama. Jika saja aku berhasil mengatakan hal itu, pasti sekarang aku sudah santai menikmati hidupku hanya bersama Fajar. Tapi kenapa sepertinya semesta tidak mengizinkan hal itu terjadi?
"Zella? Lo baik-baik aja kan?" tiba-tiba Dirma menyentuh kepalaku dan mengusapnya pelan. Tentu saja aku menatapnya dengan tatapan sedikit kesal. Tidak suka diperlakukan seperti itu oleh Dirma. Aku tidak mau mengulangi perasaanku yang dulu. Tidak mau!
"Berhenti melakukannya, gue nggak mau disentuh." jawabku sambil mengembalikan tangannya dari kepalaku.
"Gue tahu ada dimana pacar lo."
Seketika mataku mendelik mendengar perkataan Dirma, "Jujur!"
"Dimana lagi kalau bukan di clubbing." sambungnya sambil memutar bola matanya malas, "Itu tempat kesukaan kami, Zel. Jadi, untuk sekarang lo nggak usah ganggu dia dulu. Dia butuh ruang dan waktu untuk dirinya sendiri."
Tanpa berbasa-basi langsung saja aku tampar wajah menjengkelkan milik Dirma. Penjelasan dia membuatku semakin muak. Clubbing bukanlah solusi jika Fajar membutuhkan ruang dan waktu. Aku kecewa sekali mendengarnya. Padahal dari dulu aku berharap Fajar berhenti melakukan dunia malamnya yang sangat bobrok itu.
"Lo gila, Dir! Tempat kesukaan? Apa enaknya ada disana? Yang ada malah dosa!"
"Karena dosa itulah terkadang manusia lebih mudah terhasut."
"Pokoknya gue mau jemput Fajar!"
"Silakan kalau memang lo berani kesana sendirian. Jangan salahkan gue kalau semisal ada yang mengganggu lo."
Aku menghentakkan kakiku kesal. Aku kesal dengan semua orang! Mereka selalu membuat jiwaku tidak tenang. Ada saja perkara yang memaksaku untuk ikut bergabung didalamnya. Tapi perkara ini menyangkut Fajar. Dia tidak boleh berlama-lama disana. Bahaya!
"Akan gue lakukan apapun demi Fajar!" sentakku tepat didepan wajah Dirma.
Aku memundurkan diri dan melangkah menjauhi Dirma dengan perasaan yang berkecamuk. Seumur hidup baru kali ini aku akan menginjakan kakiku ke tempat maksiat itu. Astaga.
"Bagaimana yang kecelakaan? Siapa yang jagain? Jangan lo nyuruh gue jagain tuh bocah, males."
Sebentar aku menghentikan langkahku dan melirik ke samping, "Beberapa menit lagi keluarganya datang." setelah itu aku melanjutkan perjalananku menuju tempat itu.
Dirma tidak tahu aku sedang menyeka air mataku yang baru saja keluar. Tubuhku lemas sekali. Aku tidak kuat jika harus menjadi pemain utama dalam kehidupan yang sangat berat ini. Padahal niatku hanya ingin bertemu dengan Dirma dan mengutarakan kabar Fajar yang sudah sadar oleh cintanya kepadaku. Tapi kenapa harus berakhir seperti ini. Berapa banyak waktu lagi yang harus aku cari agar aku bisa secepatnya memberitahukan kepada Dirma?
"Gue ikut!" aku berjengit kala lenganku dicekal kuat oleh Dirma yang ternyata menyusulku yang hampir menaiki motor.
"Nggak perlu, Dir, gue bisa sendiri."
"Lo sendirian sedangkan Fajar lagi bersenang-senang disana. Apa lo nggak khawatir sama diri lo sendiri?"
"Gue ... nggak tahu," akhirnya aku mengalah dan memilih untuk menangis sekeras-kerasnya dihadapan Dirma. Sungguh jiwa yang payah.

KAMU SEDANG MEMBACA
FAJAR [Tamat]
Novela JuvenilTamat Ini kisahku dengan dia. Ini aku yang merasa asing namun diam-diam selalu dicintai. Ini kisahku dengan mereka. Ini aku yang mulai sadar bahwa aku hidup tidak sendirian. Ada mereka yang selalu berusaha menggapaiku meski aku selalu menghindarinya...