BAGIAN EMPAT PULUH DUA

16 3 0
                                    

MATAKU berkedip mendengar pertanyaan Dirma. Sekarang aku berusaha mengingat-ingat, apakah Fajar pernah membuatku pingsan di masa lalu?

Semakin keras usahaku mengingat, nyatanya tidak ada kejadian itu yang terlintas dipikiranku.

"Serius lo nggak inget?" Dirma kembali bertanya, membuatku kembali sadar setelah beberapa menit bergelut dengan pikiran.

"Bahkan gue kenal Fajar itu semenjak dia datang ke rumah gue. Kayaknya nggak pernah sebelum itu gue berurusan sama dia."

Dirma menghela napas, "Oke, gue bantu lo ingetin."

Cuaca saat siang itu mendadak mendung. Padahal bel istirahat baru saja berbunyi. Banyak murid bersorak kecewa melihat tetesan air hujan mulai turun dan semakin deras.

Sekelompok cowok yang masih berada di lapangan bergegas mencari tempat teduh. Mereka juga mengumpat karena kegiatannya terganggu oleh hadirnya hujan yang terlalu mendadak. Permainan bola basket pun terpaksa dihentikan.

Terlihat seorang cowok masih di lapangan meskipun dirinya terguyur hujan. Ia tidak menghiraukan teriakan temannya untuk ikut berteduh. Cowok itu malahan asik memainkan bola basketnya tanpa berniat memasukannya ke dalam ring.

DUAR!!!

Begitu mendengar petir yang menggelegar, cowok itu terkejut bukan main hingga membuat bola yang ia mainkan memantul dengan kecepatan tinggi hingga melayang mengenai seorang cewek yang tengah berlarian disepanjang koridor dekat lapangan.

"Astaga!" jeritnya tertahan baru saja ia membuat orang lain celaka.

"Fajar! Lo budeg apa gimana? Hujannya tambah deras goblok!" sentak Dirma jengkel kemudian menarik tangan Fajar dan menyeretnya menuju koridor tempat cewek asing itu pingsan.

"Buset, Fajar! Lo bikin temen gue pingsan!"

Fajar mematung ditempatnya berdiri. Ia belum bisa mencerna kejadian yang baru saja terjadi dan itu karena ulahnya sendiri. Sampai Dirma membawa cewek itu pergi pun tidak menyadarkan Fajar untuk segera mengikuti kemana perginya mereka berdua.

"Sampai disini lo udah inget?" Dirma menjeda penjelasannya.

Aku ingat kejadian itu. Kejadian yang terjadi saat aku kelas sepuluh. Ya, benar. Tapi aku mengira penyebab aku pingsan karena terkejut mendengar petir. Ternyata yang menyebabkannya adalah Fajar.

"Kalau itu Fajar, kenapa dia nggak minta maaf sama gue?"

"Sebenernya dia mau minta maaf tapi..."

Dengan tergesa-gesa Dirma membawa Zella ke UKS. Beruntungnya, ruangan kesehatan itu sepi. Lalu Dirma menidurkan Zella disalah satu ranjang disana.

"Nih." seorang cewek dibelakang Dirma memberikan minyak kayu putih padanya dan Dirma langsung menerimanya.

"Makasih, ya." balasnya. Nada bicaranya cukup bergetar. Ia gelisah bukan main melihat temannya terbaring lemas seperti itu.

"Kenapa bisa pingsan?" tanya cewek itu penasaran. Matanya melirik Zella datar.

"Kesamber petir." balas Dirma enteng. Ia hanya tidak mau kegelisahannya ketahuan orang lain.

Cewek itu terkekeh. Ia melihat Dirma yang masih sibuk mengoleskan minyak kayu putih ditelapak tangan Zella, memberikan kehangatan agar temannya tidak menggigil karena hawa dingin hujan semakin menusuk.

"Kayaknya dia spesial banget, ya, buat lo."

"Mungkin." balas Dirma sedikit ragu dengan pernyataan yang dilontarkan cewek asing itu.

"Kenapa?"

"Dia bukan hak gue."

"Maksudnya?"

Dirma membulatkan matanya. Ia hampir membuka rahasianya sendiri. Bahkan didepan orang asing yang sama sekali tak pernah ia kenali.

"Nggak penting. Btw lo penjaga UKS?" meski gugup, Dirma berusaha mengalihkan perhatian cewek itu.

"Gue mau ambil minyak kayu putih, sih. Berhubung lo butuh, ya, gue pinjemin dulu."

Dirma mengangguk.

"Oh iya, kenalin nama gue Kinan. Gue kenal sama cewek ini." tunjuknya pada Zella yang masih memejamkan matanya.

"Lo kenal sama Zella?"

"Iya. Dia itu--" ucapannya terhenti oleh sebuah suara yang mengalihkan perhatian mereka.

"Permisi."

Keduanya menoleh ke arah pintu. Fajar berdiri kaku disana. Tatapannya mengarah ke Zella yang masih belum sadar.

"Heh! Lo datang juga."

Fajar berjalan mendekat. Ia belum sadar akan keberadaan cewek yang sedari tadi melihatnya tanpa berkedip sedikitpun.

"Gimana keadaannya?" tanyanya sembari menyentuh dahi Zella lembut.

"Lo lihat, 'kan? Dia belum sadar daritadi. Lo sih nggak hati-hati." omel Dirma menatap Fajar jengkel.

Fajar hanya memasang wajah datar. "Namanya siapa?"

Dirma menaikan sebelah alisnya, "Kenapa? Mau kenalan, yaaaa."

Fajar melirik Dirma sekilas, "Gue mau minta maaf sama dia kalau gue tahu nama dia."

Andai kelas sepuluh sudah mendapatkan nametag, maka Fajar tak perlu susah payah menanyakan nama cewek itu pada Dirma.

"Cari tahu sendiri." balas Dirma sambil memasang watadosnya.

Fajar menghela napasnya. Ia sudah kebal dengan sifat menyebalkannya Dirma. Untuk itu, ia segera mengundurkan diri tanpa berniat menunggu sampai Zella bangun.

Tapi langkahnya terhenti kala lengannya dicekal oleh seseorang yang tanpa ia sadari sudah ada dibelakangnya.

Cewek itu tidak bersuara. Ia tetap diam dan fokus menatap Fajar sampai membuat cowok itu kebingungan. Tapi itu tidak bertahan lama karena cewek itu langsung melepaskan genggamannya.

"Woi, Dirma!! Lama banget lo ngelamunnya?"

Dirma gelagapan. Aku kesal menunggunya melamun selama itu. Kukira dia akan menjelaskan sesuatu.

"Tapi apa, Dir?" aku bertanya padanya agar dia melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong.

"Tapi... gue nggak mau dia minta maaf sama lo. Yaudah gue biarin aja."

Lantas kupukul lengannya bertubi-tubi. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Padahal rasa penasaranku sudah memuncak. Eh, dia malah kembali menyebalkan lagi.

"Emang tengik lo!"

Dirma tertawa lepas menanggapi kekesalanku. Tangannya terulur dirambutku lalu mengacaknya gemas.

"Sehat terus ya, Zel."

Entah kenapa setelah Dirma mengatakan itu, aku tertegun. Tersirat keprihatinan mendalam dari dalam matanya yang menyorot ke arahku.

-<<<FAJAR>>>-

Hai gais kambek lg bersama bang fajar oh salah bersama saya sang orang tua dari tokoh cerita ini😀
Maap y lama banget ga apdet, sibuk ui:"
Selamat membaca dan semoga bahagia:)💃

Salam, Sankhaa

FAJAR [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang