AKU memejamkan mataku cukup lama sambil mengambil napas sebanyak mungkin. Hingga sebuah genggaman terasa hangat dipergelangan tanganku. Setelah kubuka mataku, ternyata Dirma yang melakukannya.
"Gue selalu ada buat lo." suara itu bukan berasal dari mulut Dirma melainkan suara milik seorang cewek yang berdiri angkuh dibelakang Dirma. Dia berjalan pelan mendekati Dirma kemudian merangkul lengan cowok itu, "Itu, 'kan yang mau lo bilang sama Zella?"
Dirma mendelik melihat kedatangan Maura. Dia kini terlihat seperti suami yang menduakan istrinya, hanya diam membeku.
Maura menatapku dengan tatapan sinis, "Masih ingat sama kata-kata gue, 'kan? Masih ingat nggak?!"
Kinan yang tidak terima aku dibentak memajukan tangannya untuk menampar Maura tapi aku berhasil mencegahnya. Sorot mataku memperingati Kinan untuk tidak ikut campur urusan pribadiku. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin Kinan jadi korban atas segala kesalahanku.
"Tenang aja gue masih ingat," balasku setenang mungkin. Disini aku sedang berusaha menciptakan suasana hatiku agar tidak mudah emosi lagi.
"Apa yang bisa bikin gue percaya kalau lo masih ingat kata-kata gue hah?! Jelas-jelas lo masih deketin pacar gue! Nggak cukup punya Fajar mau embat Dirma juga, iya?"
Tahan.
Aku melipat tanganku didepan dada sambil menatap Maura tepat di matanya, "Lo perlu tahu satu hal, Ra. Gue nggak mau semua yang lo katakan tadi. Gue pulang dulu." tanpa banyak berpikir lagi, aku langsung mengendarai motorku dan melajukannya secepat mungkin.
Diperjalanan aku menangis dalam diam. Malu untuk bersuara karena akan dianggap gila oleh pengendara lain. Saat ini kubebaskan mataku untuk mengeluarkan air mata. Agar semua beban dalam hatiku bisa berkurang.
Entah kenapa jalan raya terasa sangat panjang hari ini. Rasanya sangat lama untuk sampai ke rumah secepat biasanya. Aku sudah muak dan ingin berguling di kasur. Satu-satunya pelampiasanku saat sedang sedih seperti sekarang.
Sialnya aku gagal mengendalikan emosi. Akhirnya aku terpaksa menghentikan motor ditepi jalan. Melepas helm dan mengambil udara sebanyak-banyaknya. Tidak peduli itu udara kotor yang terpenting aku ingin membuang beban berat ini. Hingga tatapanku jatuh pada seorang wanita paruh baya yang berjalan tergopoh-gopoh diseberang jalan.
"Tante Elis?" segera aku turun dari motor dan berlari menghampiri wanita itu setelah berhasil menyebrang dengan selamat, "Tunggu!"
Wanita itu menoleh. Aku cukup tertegun dengan wajah pucatnya.
"Tante Elis, 'kan?"
Sambil mengangguk, "Iya, lalu kamu siapa?"
Aku tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya aku melihat Ibunya Fajar secara langsung. Dulu aku melihat beliau di foto saja. Itupun aku dapat dari Fajar. Untungnya ingatanku mengenai wajah beliau masih tajam.
"Saya temannya Fajar, tante."
"Oh iya? Kamu yang namanya Zella bukan?"
Hah? Kenapa Tante Elis tahu namaku? Dari mana dia tahu?
"Eh, iya, tante. Kalau boleh tahu tante ngapain sendirian disini?"
Tante Elis tergagap bingung harus menjawab apa. Wajahnya pucat dan berkeringat. Hatiku rasanya tidak tega.
"Kayaknya tante kurang sehat. Ayo saya antar pulang."
Tanpa penolakan sedikitpun, Tante Elis menerimanya dengan senang hati. Tercipta senyuman indah di bibirnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Sepertinya Fajar sudah mengenalkan aku pada Ibunya. Jika tidak, kenapa beliau tahu namaku padahal kami baru bertemu hari ini.
Anehnya sekarang hatiku membaik. Dalam perjalanan pun terasa tenang. Meskipun sedikit gugup karena saat ini aku sedang berkendara dengan Ibunya mantanku.
Oh, pengalaman yang buruk.
"Fajar di sekolah nggak nakal, 'kan?"
Aku tersentak oleh pertanyaannya. Harus kujawab apa?! Rasanya mulutku kaku sekali.
"B-baik, tante. Dia belajarnya giat banget, kok."
"Kamu nggak bohong,'kan?"
"S-saya jujur, tante."
"Yaudah saya percaya sama kamu, nak. Saya hanya berpesan sama kamu, tolong temani anak saya. Fajar itu nggak akan nakal kalau sama kamu, nak. Yang bisa mengendalikan dia hanya kamu. Sebagai Ibunya saya gagal mendidik dia jadi laki-laki yang baik. Kalau saya punya waktu banyak, ingin sekali meminta maaf sama dia."
"Tante ngomong apa, sih? Jangan bilang begitu, tante. Fajar, 'kan anak tante bukan anak saya. Saya hanya teman dia," balasku sambil terkekeh pelan. Percayalah, aku sedang mencoba untuk tidak terlihat gugup.
"Teman apa pacar hm?" tanyanya diikuti gelak tawa khas orang tua. Aku memasang wajah masam. Ternyata orang tua suka penasaran dengan kehidupan para remaja.
Beruntungnya pertanyaan beliau tidak kujawab karena kami sudah sampai di rumahnya.
"Saya langsung pulang, ya."
"Nggak mau minum dulu, nak?" tawarnya ramah, "Sekalian nunggu anak saya pulang."
Cepat-cepat aku menggelengkan kepala. Mati juga aku kalau harus bertemu Fajar sekarang.
"Lain kali aja, tante. Soalnya saya ada urusan di rumah. Maaf ya, tante."
Tante Elis mengangguk sekali sembari tersenyum lebar melihatku yang kembali melajukan motor secepat kilat. Aku tahu itu tidak sopan. Tapi mau bagaimana lagi, hatiku mendadak tidak tenang setelah mendengar nama Fajar diucapkan oleh Tante Elis.
-<<<FAJAR>>>-
Hiyaaaa updet lg dong wkwk
Ayo ngaku siapa yang pernah diposisi zella? Nganterin ibunya mantan wkwk
Btw ngeri jg ya kalau diposisi zella, ketemu calon mertua yg kandas ui:vOk ketemu lg di part selanjutnya
Jangan lupa vommentnya yang selalu aku tunggu ya💕
Salam, Sankhaa

KAMU SEDANG MEMBACA
FAJAR [Tamat]
Novela JuvenilTamat Ini kisahku dengan dia. Ini aku yang merasa asing namun diam-diam selalu dicintai. Ini kisahku dengan mereka. Ini aku yang mulai sadar bahwa aku hidup tidak sendirian. Ada mereka yang selalu berusaha menggapaiku meski aku selalu menghindarinya...