BAGIAN EMPAT

36 5 0
                                        

SEKEMBALINYA dari belakang sekolah aku termenung dibangku. Ternyata jam kosong, pantas saja sedikit orang yang bersemayam di kelas. Mereka pastinya berkeluyuran disekitar sekolah atau malah berkumpul di kantin. Tapi aku memilih untuk bertapa di dalam saja. Lagipula tidak ada kepentingan diluar.

Rasa bosan menghasutku untuk memainkan ponsel. Padahal aku berniat untuk tidak memainkan ponsel hari ini. Tetap saja penasaran apakah Fajar membalas pesanku atau tidak seperti biasanya. Untuk itu aku segera mengaktifkan data seluler dan tepat saat itu juga pesan dari Fajar masuk.

Fajar : Gue buang suratnya

Zella : Iya nggak papa

Ternyata surat buatanku dibuang secara percuma. Sudahlah lupakan saja. Benda itu tidak penting bagiku. Kukira Fajar akan meminta maaf setelah kejadian tadi, faktanya pesan darinya terkirim beberapa jam lalu.

Fajar : Nggak usah inget kejadian yg tadi, udah berlalu juga kan

Kalimat apa ini? Kenapa aku merasa dia selalu menyepelekan perasaanku?

Fajar : Lala

Air mata lolos mengaliri pipiku. Aku tidak tahu lagi dengan Fajar. Beberapa menit lalu dia bersikap seolah tak peduli denganku tapi apa ini?

Zella : Nggak papa, kamu urusin aja hidupmu sendiri

Fajar : Kok gitu?

Zella : Terus gimana?

Fajar : Lagi marah?

Zella : Nggak

Fajar : Oh yaudah maaf ya

Sial sekali pesan darinya terlanjur terbaca. Aku malas membalasnya lagipula juga tidak berselera untuk berbasa basi.

Fajar : Lala

Baru saja aku akan menonaktifkan data tapi pesan selanjutnya terkirim. Apa maumu Fajar?!

Fajar : Lo udah nggak sayang gue lagi ya?

Fajar : Kalo enggak juga nggak papa

Fajar : Lala

Fajar : Maafin

Zella : Kenapa nggak ngomong langsung aja? Beraninya di chat doang

Fajar : Nasib

Zella : Nasib yang gimana coba?

Fajar : Ngajak bertengkar?

Zella : Iya!

Segera kunonaktifkan data dan menyimpan ponselku. Muak sekali terhadap cowok brengsek ini. Kapan ya kapan dia buat aku bahagia? Kapan Fajar?!

Ketika bel pergantian jam pelajaran berbunyi saat itu juga seluruh murid kelas ini berhamburan masuk. Aku tahu mengapa, pelajaran yang diampu oleh Bu Venty bukanlah Guru yang ramah tapi mudah marah.

Aku pun segera merapikan penampilanku yang terasa berantakan. Tak lupa rok yang sedikit basah akibat rerumputan.

"Keluarkan buku kalian, pelajari materi Hukum Ohm. Lima menit lagi kita ulangan dan tidak ada penolakan!"

Mulut kami semua menganga terkejut. Bagaimana bisa dengan entengnya melakukan ulangan mendadak? Jelas kami tidak terima!

"Bukannya minggu kemarin Bu Venty nyuruh kita menggarap soal-soal kan? Kenapa malah ulangan?" Siska-salah satu murid pintar kelas ini bersuara. Kuharap semoga saja Bu Venty menunda ulangan dan digantikan oleh menggarap soal-soal.

FAJAR [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang