Part ini lumayan panjang. Bacanya hati-hati biar nggak nabrak. Oke!
***
KULIHAT kepergiannya lewat jendela kamar. Rasanya aneh saat melihat dia pergi. Ada kebahagiaan yang terpancar dalam diri Fajar. Aku tahu itu karena baru saja Fajar tersenyum manis ke arah jendela kamarku.
"Gue nggak percaya lo sebegitu sayangnya sama gue, Jar." aku menghembuskan napas kasar. Tubuhku merosot ke bawah hingga dinginnya lantai terasa membekukan tulang-tulangku.
"Tanpa gue sadari selama ini dia... dia," aku tidak kuasa untuk meneruskan kalimatku sendiri yang nyatanya sukses membuat air mata tumpah begitu saja.
Aku duduk termenung sambil menenggelamkan wajahku ditumpukan tangan. Merasakan kesakitan ini sendirian, tanpa pernah siapapun tahu akan hal itu.
Tapi aku menangis karena apa? Seharusnya aku senang, seharusnya ada senyuman yang terukir dibibir. Sebab semua pertanyaan yang membusuk diotak terjawab sudah. Tentang kenapa dia seperti ini dan seperti itu.
"Lagi-lagi gue salah benci sama orang!" aku memukul lantai dengan melupakan ngilu ditulang jariku.
Fajar terlalu misteri untukku. Terlalu jauh digapai. Terlalu... banyak kesakitan yang ditahannya selama ini.
"Karena nggak ada yang baik kalau kita kembali bersama. Gue tetep bakal kehilangan lo."
Bibirku bergetar hebat ketika kalimat itu terlintas dipikiran.
Andai waktu itu bisa kujawab, "Kalau nggak baik setidaknya lo masih baik, baik buat gue." maka diriku tidak akan berakhir dalam penyesalan ini.
"Mungkin dengan menjadi orang asing adalah keputusan yang tepat. Tapi gue nggak janji bisa lupain lo."
Andai waktu itu bisa kujawab, "Kita aja yang asing tapi hati kita tetap terikat satu sama lain. Mungkin lo emang jauh dari gue, tapi percayalah, disitu ada hati yang menangis pengin lo kembali."
Lalu ingatanku kembali pada enam bulan itu, dimana Fajar datang ke rumahku untuk menyatakan perasaannya. Tepat pukul 9 malam.
"Siapa, ya?" tanyaku setelah membuka pintu saat terdengar ketukan yang cukup menganggu. Awalnya aku mengira itu orang tuaku yang baru pulang dari pekerjaannya. Tapi... saat kubuka pintunya, bukan orang tuaku yang kulihat melainkan seorang cowok yang berdiri santai sambil tersenyum manis ke arahku.
Saat itu aku tidak tahu siapa Fajar. Dia tidak pernah hadir di mataku. Di sekolahpun aku benar-benar langka melihat keberadaan dirinya. Mungkin satu dua kali aku pernah melihatnya tapi hanya sekilas.
"Gue Fajar dari kelas XII Ips 3. Atau lebih jelasnya temennya Dirma, pacar lo."
Alisku bertaut. Apa-apaan ini? Cowok ini sok tahu tentang aku dan Dirma. Padahal kami berdua hanya sebatas teman dekat. Apa mungkin dimata orang lain terlihat berbeda?
"Kok Dirma nggak pernah kasih tahu gue kalau lo temennya?" plak! Pertanyaan macam apa ini?! Segera aku membenarkan ucapanku, "Maksudnya kenapa lo bilang kalau gue pacarnya?" plak!
Kurasa jantungku tidak stabil. Padahal baru pertama kali aku berbicara dengannya tapi efeknya terlalu berlebihan untukku. Aku menghirup udara sebanyak-banyaknya "Jadi, lo mau apa kesini?" pertanyaan terakhirku membuat Fajar menatapku geli.
Andai saja andai pertanyaanku yang dua tadi adalah suara hati, maka aku tidak akan gugup seperti ini. Hei, ayolah, bersikap biasa saja dan santai. Lagipula masih misteri kenapa cowok ini datang malam-malam begini.

KAMU SEDANG MEMBACA
FAJAR [Tamat]
Ficção AdolescenteTamat Ini kisahku dengan dia. Ini aku yang merasa asing namun diam-diam selalu dicintai. Ini kisahku dengan mereka. Ini aku yang mulai sadar bahwa aku hidup tidak sendirian. Ada mereka yang selalu berusaha menggapaiku meski aku selalu menghindarinya...