Tamat
Ini kisahku dengan dia. Ini aku yang merasa asing namun diam-diam selalu dicintai. Ini kisahku dengan mereka. Ini aku yang mulai sadar bahwa aku hidup tidak sendirian. Ada mereka yang selalu berusaha menggapaiku meski aku selalu menghindarinya...
SESUAI keputusan dari Pak Karta, kini seluruh murid kelas dua belas menambah jam pelajaran atau yang biasa disebut les.
Guru pengajar Kimia sedang menjelaskan materi didepan sana. Ketika kulirik jam di dinding sudah menunjukan pukul 16.15, tinggal menunggu seperempat jam lagi untuk pulang.
Aku terkantuk-kantuk, tentu saja tidak fokus mengingat saat ini sudah sore dan tubuhku benar-benar lelah. Suatu keberuntungan bagiku karena guru itu tidak termasuk golongan guru killer. Dengan memanfaatkan keadaan segera kuraih ponsel yang sedari tadi menganggur dilaci meja.
Ajaibnya, sekarang rasa kantuk yang amat berat mendadak hilang. Bukan karena ponsel sudah berada digenggaman, sebuah pesan yang dikirim Fajar-lah yang menjadi alasannya.
Fajar : Sori tadi gue ninggalin lo
Aku menyunggingkan senyum tipis. Melirik sebentar ke arah guru, ketika sudah dirasa aman barulah aku mulai mengetik balasan untuk Fajar.
Zella : Yang penting kamu gak ninggalin aku beneran
Kulihat terakhir onlinenya lima menit lalu. Mungkin dia juga sama sepertiku dan lain, bosan dengan les dadakan ini.
Zella : Ayo pulang males banget capek
Fajar : Pulang aja jangan ngajak gue
Wajahku tertekuk sebal kala membaca balasannya.
Zella : Hm🤔
Fajar : 😏
"Hoi!"
Baru saja aku hendak membalas pesan dari Fajar, suara pelan bernada berat itu menyapa telingaku. Aku terkejut bukan main. Hampir saja ponselku kulempar kalau saja bukan Pak Hito yang membuatku terkejut melainkan Dirma.
"Apa sih ganggu!"
"Jangan main ponsel,"
"Masalah?"
"Ajak gue juga dong." Dirma mengeluarkan ponsel di saku seragamnya, jemarinya menari sebentar diatas layar, lalu dia hadapkan layar ke wajahku yang menatapnya sebal, "Mau nggak lo?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"HUWAAA!!" teriakku sekencang mungkin. Betapa terkejutnya aku kala melihat foto pacar jelmaan iblisku terpampang indah didepan mataku. Sengaja kusebut Fajar sebagai jelmaan iblis. Jika kujabarkan artinya, maka akan memakan banyak waktu untuk melakukannya. Jadi, tidak usah, ya?
"Zella? Kamu kenapa teriak-teriak?"
Lantas mulutku bungkam begitu mendengar suara Pak Hito sudah ada dibelakangku, menatapku terheran-heran. Aku tersenyum kikuk melihat kedatangannya.
"Eh, nggak kok, Pak. Ini saya cuma lagi ngilangin rasa ngantuk doang. Ya, kan, Dir?" aku mendelik ke arah Dirma memaksa untuk membenarkan ucapanku. Bersyukurnya aku karena Dirma menuruti perintahku, dengan menganggukan kepalanya beberapa kali sambil memanyunkan bibirnya.
"Oh, baiklah. Kalau begitu kita akhiri pelajaran hari ini dan ... sampai bertemu dihari selanjutnya." ujar Pak Hito menutup pelajaran, membuat seluruh penghuni kelas berteriak kegirangan.
"Yeay! Pulang juga akhirnya!" seruku sambil menguap sebentar.
Melupakan Dirma yang aneh, aku melanjutkan untuk memasukan buku-buku ke dalam tas. Ketika sudah rampung, aku memakai tasku dan berjalan keluar kelas.
"Ah!" betapa terkejutnya aku kala melihat Kinan sudah berada didepanku tepat saat aku baru saja keluar, "Bilang dulu kalau ada lo disini!"
Kinan tersenyum semringah, dia mengamit lenganku membuatku bingung, "Gue mau ngobrol sama lo, boleh?"
Tanpa meresponnya, segera kutepis tangannya yang menggenggam lenganku kasar, "Lain kali aja."
"Lain kali artinya sama sekali, kan?"
Aku menghela napas. Kutatap bola matanya datar, "Ada kepentingan apa lo mau ngobrol sama gue?"
"Bukan disini tapi di restoran aja biar sekalian bisa makan,"
"Males, ah!"
"Kalau lo pikir gue mau bahas soal persahabatan kita itu salah besar, gue udah berhenti ngebahas. Plis, hari ini gue mau ngobrol panjang sama lo, Zella."
Untuk kedua kalinya, aku mengabaikan Kinan dan memilih untuk melangkahkan kaki meninggalkannya dan dia langsung berseru senang, mengikuti jalanku dibelakang.
Sesampainya di parkiran, aku berhenti sejenak membuat Kinan bertanya-tanya.
"Gue bawa motor," kataku sambil menatap motorku yang terparkir disamping motor milik Fajar. Eh? Fajar memarkirkannya disamping motorku?
"Yaudah kita pakai motor lo dulu, cepet."
"Maksudnya? Kan lo yang ngajakin gue, Nan?" dahiku berkerut menanggapi dia yang sangat membingungkan.
"Nanti lo bakal tahu, kok."
Tanpa memperpanjang obrolan, aku memilih untuk menaiki motorku dengan Kinan yang duduk di jok belakang. Segera kunyalakan mesin dan melaju membelah jalan raya.
Kinan membimbingku mengikuti arah yang dia tuju, aku hanya menurutinya saja tanpa penolakan. Entah kenapa sekarang aku sangat tenang, tidak seperti yang sudah-sudah. Apakah diriku sudah menerima kehadiran Kinan dalam hidupku?
Motorku pun berhenti didepan rumah megah, dua kali lipat besarnya dari rumahku. Aku mendongak menatap setiap sisi rumah tersebut.
"Rumahku besar, tapi aku merasa kecil disana. Apa kamu tahu, apa penyebabnya?" Kinan bertanya padaku dengan ekspresi wajah sedih, membuatku tidak tega dan segera menariknya dalam pelukanku.
"Kamu kan memang kecil, Nan." balasku seraya tersenyum masam.
"Ya, mungkin benar, aku sangatlah kecil hingga harus dikucilkan."
Aku kembali sadar setelah merasa ada cairan hangat menyapa pipiku. Segera kuhapus air mataku saat mengingat kenangan lama itu. Masih membekas terlalu dalam di ingatan. Apakah aku sanggup untuk mengulang masa-masa itu? Mungkin, iya.
Rumah yang kulihat sekarang ini, miliknya keluarga besar Kinan. Aku sudah menebak bahwa dia akan mengajakku ketempat dimana jiwa gelapku kembali mematikan pikiranku dalam sekejap. Bisa saja aku menolak untuk datang kesini, tapi entah kenapa aku sangat ingin, ada sesuatu yang menginginkan aku berada ditempat ini. Sesuatu itu adalah kenangan.