BAGIAN DUA PULUH EMPAT

25 3 0
                                    

NAFASKU tertahan setelah mendengar kalimat mengerikan yang diucapkan Ibu. Bercerai katanya? Sepertinya hidupku terlalu sukar untuk bahagia. Buktinya kemarin aku baru putus dengan Fajar dan sekarang apa?

Orang tuaku akan bercerai?

Aku mendengus geli seraya mengacungkan jempol ke arahnya, "Ibu adalah seorang Ibu yang hebat!"

Ibu tertegun mendengar jawabanku. Menurutku kalimat ini untuk memujinya, tapi mungkin Ibu merasa aku sedang menghinanya.

"Sehebat itulah Ibu sampai menghancurkan kehidupanku lagi! Lebih baik aku mati saja!"

"ZELLA!" Ibu mulai emosi dan hampir melayangkan telapak tangannya ke wajahku.

"Apa?" tanyaku dengan suara lumayan dalam, kelam. Bahkan mungkin sekarang ekspresiku sudah tidak keruan. Wajah yang pucat telah berubah sedikit kemerahan. Lemasnya tubuhku benar-benar tidak bisa menahan gejolak api kemarahan meskipun sedikit saja. Terlalu memaksa untuk diekspresikan. Aku benci pada diriku sendiri.

"Apa kamu sadar dengan kalimat yang kamu ucapkan itu hah?!"

Ditempat berbaring, aku menaikan sebelah alisku, menatap wajah garangnya terheran-heran. Untuk apa dia sampai semurka itu padaku? Lihat saja sekarang tangannya mulai mengepal. Oh, rupanya dia sedang kesal denganku. Baguslah, usahaku untuk membuatnya kesal, marah, kecewa tidak sia-sia.

Bukan bermaksud untuk menjadi anak durhaka. Tapi apa gunanya menjadi anak penurut jika orang tua saja sudah mengasingkan anaknya. Untuk apa? Apalagi dari kecil aku kurang didikan mereka. Sudah kukatakan, orang tuaku lebih menyayangi Kinan dan entah apa itu alasannya. Jika kutanya, apakah aku anak tiri? Bukan! Aku asli anak kandung dari pasangan Hasan Anurtika dan Dewi Anurtika.

Kemungkinan terbesar, Kinan berhasil mencuri hati kedua orang tuaku karena fisiknya yang cacat dulu.

Tapi ... Bagaimana bisa aku membenci Kinan padahal aku sudah menganggapnya sebagai saudaraku sendiri?! Saudara yang selalu mengerti keadaanku, mengerti semua kesedihanku. Aku tidak akan sampai hati untuk membenci Kinan.

"Aku sadar, Bu ... rasanya aku nggak tahan lagi untuk sadar dalam hidup yang udah hancur berantakan,"

"Berhenti bicara sembarangan, Zella! Ibu nggak suka, ya kalau--"

"Kalau nggak suka, kenapa masih ada disini?!"

"Karena kamu anakku! Kamu anakku...hiks."

"Sejak kapan aku diakui menjadi anakmu, Bu?!"

PLAK

Hatiku semakin perih, semakin berat, semakin tidak stabil. Tanpa bisa kutahan, setetes air mata lolos begitu saja. Mengalir membelai pipiku yang sedikit merah akibat tamparan Ibu. Bibirku pun turut bergetar. Emosiku juga naik. Aku semakin tidak terarah. Kedua tanganku entah kenapa memukul ranjang yang kupakai untuk berbaring. Sedangkan Ibu mulai panik dan berusaha untuk menenangkanku dengan mencekal tanganku kuat-kuat. Tapi usahanya gagal karena aku menghempaskannya.

Hampir saja tubuhnya menabrak dinding kalau dia tidak menyeimbangkan tubuhnya sendiri. Aku semakin memberontak. Berteriak tidak jelas nyaris seperti gambaran orang kesurupan.

Mungkin ini ... puncaknya seseorang yang depresi berat.

Mungkin ini ... adalah akhir dari kesabaran.

Tidak lama kemudian pintu kamarku terbuka, menampilkan sosok dokter dan seorang suster dibelakangnya, tergesa-gesa untuk mengatasiku yang dilanda kekacauan ini.

"AKU MAU PULANG! AKU MAU PULANG UNTUK MATI! LEPASKAN AKU DOKTER! APA KAU TIDAK MENDENGARKAN AKU?! LEPASKAN AKU!!"

Pandanganku mendadak buram setelah sebuah suntikan menyentuh kulitku. Tubuhku semakin lemas dan aku mulai kehilangan kesadaran. Sepenuhnya menjadi hitam gulita. Kuharap setelah ini aku tidak akan hidup lagi.

Aku sedang berharap.

Tidak ada salahnya untuk berharap, bukan?

Manusia selalu memiliki harapan setiap harinya. Yang terkadang harapan itu malah berubah menjadi hanyalan semata.

Seperti apa yang aku harapkan sebelumnya. Ingin ditemani Fajar sampai akhir dunia, tapi dunia telah menjauhkanku darinya, dunia yang dimiliki oleh Ayah tercinta.

Oh, tercinta.

Aku mencintai Ayahku sampai kapanpun. Rasanya mulutku tidak bisa berhenti tersenyum. Melihat usaha seorang Ayah yang tidak mau anaknya menangis terlalu lama.

"Hei, jangan menangis. Aku yang terluka tapi kamu yang menangis." ujar Kinan seraya menepuk punggungku pelan. Wajahnya seperti menertawaiku yang mudah menangis. Kulihat dia tenang-tenang saja saat Ayah sedang mengobati lutut Kinan yang berdarah akibat tersandung batu ketika kami sedang berlari-lari didepan rumahku.

Aku tahu lukanya cukup parah. Jika aku ada diposisinya pasti sangatlah sakit. Melihat darah saja langsung membuatku hampir pingsan.

Tangisku semakin menjadi kala Ayah mulai membersihkan darah yang terus mengalir di lutut Kinan. Tapi Kinan justru tertawa akan hal itu.

"Jangan menangis, Zella! Om, lihat anakmu itu malah menangis keras. Beritahu padanya aku baik-baik saja." Kinan mengadu ke Ayah dengan wajah gelisah. Gelisah karena aku tidak mau berhenti menangis.

"Seharusnya kamu malu sama Kinan, Zel. Dia terluka juga karena diajak berlari-lari sama kamu, kan? Cepat minta maaf sama Kinan."

Aku tertegun mendengar perkataan Ayah yang cukup kasar di telingaku. Entah kenapa hatiku sakit sekali saat seorang Ayah tidak membela anaknya malah membela orang lain. Kinan terluka karena kesalahannya sendiri bukan karena aku. Dia tidak berhati-hati saat berlari bersamaku.

"Maafin aku, Nan. Aku janji nggak akan bikin kamu terluka lagi," kataku seraya mengusap pipiku yang berlumuran air mata. Tangan mungilku terlulur ke arahnya dan dengan senang hati Kinan menjabat tanganku.

"Nggak usah minta maaf. Ini salahku, Zella. Sudahi tangismu itu! Aku nggak suka kamu nangis."

Aku tertawa dalam tangis. Kinan menjadi harapan dalam hayalanku. Harapan untuk terus menjalani hidup didalam kenestapaan. Aku tidak tahu kenapa orang tuaku lebih menyayanginya daripada anaknya sendiri.

Terutama Ayah, aku melihat sisi keAyahannya hanya kepada Kinan saja. Sedangkan Ibu? Hm ... dia masih ingat siapa aku di rumahnya.

-<<<FAJAR>>>-

Yuhuuu~

Ketemu lagi sama akuuuuu ≥3≤
Gimana? Masih betah sama ceritaku?😏 semoga si masih betah karena aku gamau ditinggalin sama kalian para readersku ≥3≤

Oke, jadi buat kalian yang kangen fajar sama dirma, tenanggg~
Mungkin di part selanjutnya mereka akan muncul. Mungkin tapi lho yaaaa😏

Kalau kalian kangen akusiiiii ya aku bakal update cepet😏

Oke oke cukup oyy! Cerewet banget akuuuu😭

Yauda jangan lupa VOMMENTNYA ya gaessss~

See you, Sankhaa

FAJAR [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang