Tamat
Ini kisahku dengan dia. Ini aku yang merasa asing namun diam-diam selalu dicintai. Ini kisahku dengan mereka. Ini aku yang mulai sadar bahwa aku hidup tidak sendirian. Ada mereka yang selalu berusaha menggapaiku meski aku selalu menghindarinya...
APA yang kini kutatap, aku tak sanggup menduga. Dirma juga sama terkejutnya melihat aku ada tidak jauh darinya. Ia segera melepaskan rangkulannya dibahu Maura.
Disana, Maura merapatkan jaketnya, menutupi perutnya. Wajahnya pias, dia juga terkejut.
Aku melangkah mendekatinya. Tapi langkahku didahului oleh langkah besar seseorang dibelakangku. Fajar berjalan cepat menghampiri Dirma.
Aku menjerit tertahan saat kulihat Fajar melayangkan pukulannya ke wajah Dirma. Menghajar cowok itu bertubi-tubi. Tanpa memberikan Dirma waktu untuk membalasnya.
"Maura lo apain goblok!?" bentak Fajar menggelegar. Tangannya masih menyerang wajah Dirma. Dapat dipastikan wajah cowok itu penuh lebam.
Aku segera melerai mereka. Tak tega dengan kondisi Dirma. Tanganku menggenggam lengan Fajar kuat. Menahan cowok itu supaya tidak melanjutkan pukulannya.
"Berhenti! Jangan pukulin Dirma terus! Gue mohon, Fajar." ujarku mencoba membuat Fajar meredam emosinya.
Fajar mendelik ke arahku, "Dia pantes dapet itu." katanya lalu mengalihkan tatapannya ke Dirma yang kesusahan untuk berdiri. "Cowok brengsek selalu pantas dihajar!"
Aku ikut menatap Dirma, lalu menatap Maura yang ketakutan, menyudut ditembok. Isak tangisnya terdengar begitu menyayat hati. Aku berjalan mendekatinya.
"Ra? Tolong jujur sama gue, Dirma nggak ngapa-apain lo, 'kan?" tanyaku dengan bibir bergetar hebat.
"Maura hamil anak gue, Zel." sahut Dirma lirih.
Entah bagaimana aku menjelaskan apa yang kurasakan saat ini, tapi hatiku sudah bergejolak. Tubuhku memutar sepenuhnya menatap Dirma dengan tatapan terluka.
"Apa? Lo bilang apa? Hamil anak lo?"
Fajar menarikku lalu mendekap tubuhku. Tentu saja aku memberontak, sedangkan Fajar semakin mempererat dekapannya.
"BOHONG! NGGAK MUNGKIN LO KAYAK GITU!" teriakku. Saat ini aku mati-matian menahan isak tangisku. Belaian tangan Fajar dikepalaku tidak berpengaruh sama sekali untuk menenangkanku.
"Urusan ini biar gue aja yang selesaiin. Lo mending gue anter pulang aja, ya."
"NGGAK!" bentakku berapi-api. Aku menghempaskan tubuhnya sekuat tenaga. Menatap Fajar penuh emosi. "GUE NGGAK MAU PULANG SEBELUM DIRMA JELASIN SEMUANYA!!"
Mataku kembali menatap perut Maura. Tidak mungkin! Dirma tidak mungkin melakukannya!
"Zella," panggil Dirma lemah.
"NGGAK! JANGAN BICARA APAPUN!!"
"Gue harus bicara!" bentak Dirma dengan napas terengah-engah. Ia berjalan gontai ke arahku. Menatapku tajam.
Sekali lagi, aku tak suka dengan dirinya yang berubah serius. Aku tak suka! Karena jika dia begitu, pasti ada masalah besar. Dan memang ada masalah besar saat ini.
"Lo harus percaya sama gue, Maura hamil anak gue. Lo harus percaya, Zel."
"Mustahil!"
"Berhenti, Dirma! Jangan bicara lagi!" sahut Fajar yang sudah siap untuk memukul Dirma lagi.
"Lo yang berhenti bicara, Fajar! Gue nggak butuh lo disini!!"
Fajar tercengang dengan ucapanku. Matanya berkilat api kemarahan. Kulirik tangannya masih mengepal.
"Maura itu pemilik hati gue, apa salah jika gue memberinya bukti cinta gue?"
"Anjing!" umpat Fajar. Tanpa berpikir panjang lagi, dia melayangkan pukulannya lagi.
"Kenapa lo jadi sebrengsek ini, Dirma!?" sentak Fajar mencengkram kerah cowok itu kuat.
Dirma tertawa hambar. Ia menyeringai, "Bukannya seharusnya lo seneng? Lo bisa sebebasnya dapetin Zella tanpa gangguan dari gue."
"Gue nggak pernah minta itu sama lo!"
"Tapi hati lo memintanya, Fajar. Gue tahu gimana kondisi hati lo saat Zella deket sama gue. Zella bukan hak gue. Sekuat tenaga gue tahan selama dua tahun buat nggak jatuh cinta sama dia. Karena apa? Karena gue pengin dia sama lo!"
"Lo pake cara salah anjing! Nggak seharusnya lo lampiasin ke Maura goblok!"
"Gue nggak lampiasin. Gue murni ngelakuin itu karena emang gue cinta sama dia. Kami sama-sama nerima. Jadi, lo nggak usah buang tenaga marah sama gue."
"Otak lo udah mati?! Iya?!"
"CUKUP!"
Ketika mendegar suaraku, mereka berdua berhenti. Pipiku sudah dibanjiri air mata. Sudah! Aku sudah tidak kuat untuk melihat semua ini. Tanpa banyak berpikir lagi, aku langsung pergi meninggalkan mereka yang masih terbawa emosi.
Berlari secepat mungkin. Menghindari kejaran Fajar yang meneriaki namaku dibelakang sana. Aku tak peduli. Aku tak peduli dengan hal apapun yang menyangkut mereka berdua.
Sekali lagi, aku tak peduli.
Segera aku memberhentikan sebuah bis, lalu masuk ke dalam. Meninggalkan Fajar yang masih saja mengejarku yang mustahil bisa dikejar karena laju bis semakin cepat.
"Kinan...." bisikku lirih. Menyenderkan kepalaku pada kaca bis. Menangis hebat tanpa memperdulikan tatapan aneh dari penumpang lain. "Gue butuh lo."
-<<<FAJAR>>>-
Selamat malam semua~
Gimana? Masih betah baca? Kalau gabetah silakan cari cerita lain biar gabosen baca cerita😃
Karena dengan membaca kalian akan lebih bisa membaca, iyalah! Gimanasi! Ikutan emosi saya!
Ok maap:v
Ada yg mau liat Fajar marah? Ou ada kok ftonya. Bentar yak aku pajang dlu hihihihihihihihihihihih
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kaget gak? Masa gak kaget sih? Kaget dong kan Dirma jadi cowok bejat!😱
Aslinya kugarela:" tp mo gmn ini emg udh jalan ceritanya dia kek gtu huhuhu:"
Pdhl aku baru kali ini bikin karakter cowok seunik Dirma huaaaa:"()
Tp ggpla yg pnting ceritaku masih berlanjut eaks:v