BAGIAN TIGA PULUH TIGA

26 3 0
                                    

SESEORANG bertubuh tinggi keluar dari mobil kemudian terkejut melihatku terduduk dijalanan.

"Zella?"

Lalu dia membantuku berdiri dan meneliti diriku dari atas ke bawah, "Lo ngapain disini?"tanyanya terheran-heran apalagi dia semakin penasaran dengan mataku yang sembab.

"Gue lagi cari angin." balasku sambil mengusap wajahku.

"Terus itu motor lo kenapa bisa tergeletak gitu kayak habis jatuh,"

"Kinan, gue mohon jangan banyak tanya. Gue lagi badmood banget!"

"Pak Subro!" Kinan memanggil seseorang yang sepertinya sopirnya, "Bawa motor temen saya ke bengkel, ya, Pak. Kayaknya rusak parah. Lagian bengkelnya itu diujung jalan. Saya pulang sama temen saya." perintahnya yang langsung dilaksanakan oleh orang bernama Subro itu.

"Ayo, Zel, ke rumah gue dulu." ajaknya sembari menarik lenganku.

Aku menahan langkahku, "Ngapain?"

"Gue tahu lo lagi ada masalah keluarga dan gue yakin lo nggak bakal balik ke rumah. Mendingan nginep di rumah gue dulu dan kalau lo udah baikan, gue anter pulang. Oke?"

Aku cukup tersentak oleh ucapannya. Semua kalimat yang dia ucapkan sama persis dengan apa yang dulu Kinan ucapkan. Tanpa aku memberikan penjelasan, Kinan langsung peka dengan keadaan diriku. Kinan sangat hafal dengan sifatku yang mana bila sedang tertekan oleh masalah pasti pelariannya mengamuk di jalanan sepi.

Entah kenapa aku semakin yakin kalau dia benar-benar Kinan. Apalagi dia juga memiliki kalung yang sama persis denganku. Tidak mungkin jika kalung itu beli di toko aksesoris. Karena kalung itu khusus dibuat Eyang Surya untuk kami berdua saja.

Pada akhirnya aku tidak bisa menolak ajakan Kinan. Lantas aku pun masuk ke mobilnya sedangkan dia yang menyetir. Pak Subro sudah pergi membawa motorku menuju bengkel. Aku cukup lega karena motorku ada yang menjaga.

"Seberat apapun masalah lo, hadapi aja, jangan takut. Yang namanya kehidupan itu pasti selalu ada aja masalahnya. Beda lagi kalau udah mati. Bukannya kita itu hidup cuma sekali?"

Mobil Kinan mulai melaju perlahan. Hatiku semakin kacau setelah mendengar nasehatnya. Aku tahu kehidupan itu penuh dengan masalah. Tapi rasanya tidak adil jika aku yang terlahir sebagai manusia yang tidak tahu apa-apa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit sedari kecil?

Aku mungkin percaya dengan kata orang bahwa setelah kesedihan akan datang kebahagiaan. Sekarang aku terus mencari, apa itu kebahagiaan? Aku tidak mendapat kebahagiaan bersama keluarga. Aku tidak mendapat kebahagiaan bersama kekasih. Aku tidak mendapat kebahagiaan bersama teman. Aku kehilangan semua kebahagiaan itu.

"Kalau suatu saat nanti ada kehidupan kedua, gue mau jadi tanah aja nggak mau lagi jadi manusia."

Kinan mencuramkan alisnya dan menatapku sekilas, "Lah kenapa? Mendingan jadi manusia karena manusia itu makhluk yang sempurna."

"Gue tetep pilih tanah karena meskipun selalu diinjak pada akhirnya semua manusia ada dibawah tanah, membusuk dengan sendirinya. Tanah nggak pernah balas dendam, dia hanya menjalankan tugasnya untuk melindungi manusia agar ketika ada yang ingin melukainya maka tanahlah yang menjadi penghalangnya."

"Tetep aja tanah itu selalu diinjak sama manusia."

"Manusia nggak akan memiliki kaki kalau nggak ada tanah. Intinya manusia harus selalu melihat ke bawah, saling tolong menolong tanpa melihat kasta."

Kinan tersenyum semringah. Dia menghela napas lega, "Gue bersyukur banget bisa kenal sama lo, Zel. Seorang cewek yang kuat meskipun dihidupnya banyak banget masalahnya. Mungkin orang lain bakal bunuh diri tapi lo kuat, lo nggak kayak gitu."

"Gue nggak mau mati karena terpaksa. Gue mau mati karena ikhlas."

"Bisa aja lo." kemudian kami tertawa bersama lajunya mobil yang membawa kami menuju kediaman Kinan.

***

Setelah perjalanan sekitar 30 menit akhirnya kami sudah sampai di rumahnya Kinan. Rumah yang pernah aku singgahi beberapa hari lalu. Bedanya kali ini aku benar-benar nyaman dan merasa ingin menjadi keluarga mereka.

Kami pun turun dari mobil dan Kinan mengajakku memasuki rumahnya. Setelah masuk aku langsung duduk di sofa untuk melepas lelah.

"Lo istirahat dulu disini, gue ambilin minum."

"Nggak usah, Nan. Gue disuruh nginep aja udah makasih banget. Nggak usah, ya."

Kinan menatapku geli, "Ya kali gue cuma nyuruh lo nginep doang. Makan minum juga lah. Yaudah bentar."

Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali. Bersyukurnya hatiku sekarang membaik. Mungkin jika tidak ada Kinan maka malam ini bisa saja aku menjadi orang gila. Berteriak sendiri sambil memukul orang yang melewatiku. Hanya dengan membayangkannya saja membuatku ngeri.

"Eh, ada temennya Kinan rupanya."

Lamunanku buyar ketika suara seorang wanita masuk ke pendengaran. Lantas aku bangkit dan membungkukan kepala sebagai tanda kehormatan.

"Iya, Tante, saya...." mataku mendelik melihat wajah itu. Wajah yang selama ini yang menjadi biang kerok atas hancurnya keharmonisan orang tuaku, "....temennya Kinan,"

-<<<FAJAR>>>-

FAJAR [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang