BAGIAN EMPAT PULUH LIMA

22 4 0
                                        

AKU tak menyangka akibat dari status yang kubuat dijadikan bahan perbincangan hangat oleh kalangan kelas dua belas. Ya, semenjak menjadi pacar Fajar, namaku sedikit tenar. Siapa, sih, yang nggak kenal cowok dingin itu?

Bahkan untuk sekadar masuk ke kelas pagi ini rasanya enggan. Rasanya tak ingin menjawab apapun pertanyaan yang pastinya akan segera menyerangku jika aku masuk ke kelas.

Dan sekali lagi, aku tak menyangka, kabar putusnya aku dan Fajar sudah menyebar luas. Aku tak tahu siapa yang membeberkan informasi ini.

Dirma? Kurasa tidak mungkin. Cowok tengik itu tidak mungkin membuatku malu. Apalagi Fajar juga sahabat karibnya.

Kinan? Kurasa juga tidak mungkin. Cewek itu tidak berangkat selama tiga hari semenjak ujian berakhir. Dia tak memiliki teman selain diriku untuk menyebarkan info ini.

Saat pikiran tengah kacau memikirkan perkara ini, seseorang berjalan mendekat ke arahku. Aku pun mendongak. Mataku pun terbelalak melihat siapa orang yang sudah berdiri didepanku ini.

 Mataku pun terbelalak melihat siapa orang yang sudah berdiri didepanku ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ada waktu buat gue?" tanya Fajar, menatapku intens. Aku dibuat gelagapan olehnya.

Untung suasana koridor lumayan sepi. Pagi ini adik kelas masih jam masuk sedangkan kelas dua belas entah ada dimana.

"Ngapain?"

Kedua matanya menyipit. Jawabanku sama persis dengan isi pesan yang kukirim saat itu, saat dimana Fajar menawariku belajar dengan temannya yang pintar fisika.

"Kalau nggak ada yaudah."

Dengan santainya ia memutar tubuhnya hendak meninggalkanku. Tapi aku cepat menahan lengannya. Tubuhnya pun kembali menghadapku.

"Apa lo nggak bisa bersikap santai aja sama gue?" tanyaku.

Fajar menaikan sebelah alisnya. Jemarinya bergerak menyisir rambutnya yang sedikit menutupi dahinya. Semakin menatapku tajam. Aku menghela napas jengah.

Mungkin ini rasanya jika sepasang kekasih sudah menjadi mantan, tak semanis asmara yang merajai sang hati manusia.

"Kalau gue bisa, itu udah gue lakuin dari dulu."

Aku menggeleng, tidak setuju dengan apa yang diucapkannya. "Oh ya? Kenapa bisa begitu?"

Ekspresi Fajar sekarang sulit untuk kubaca. Tidak pasti dia sedang kesal, marah ataupun sedih. Terlalu datar sehingga aku menjadi pening.

"Gue nggak akan pernah bisa santai kalau menyangkut soal lo. Gue selalu serius, nggak pernah main-main sama lo. Karena lo harus tahu sesuatu tentang gue, La." Fajar menjeda ucapannya sejenak sembari menghela napas berat, "Gue mencintai lo dengan cara gue sendiri."

Seolah-olah waktu berhenti berputar. Menjadikan suasana disekitarku mendadak senyap sepi. Aku membuang wajahku untuk menyembunyikan kegundahan dalam hatiku ketika mendengar kalimat itu terdengar dari mulutnya.

FAJAR [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang