BAGIAN TIGA BELAS

21 3 0
                                    

PETIKAN senar gitar menyapaku ketika aku baru saja tiba di kantin. Ditempat duduk paling ujung ada sekumpulan cowok sedang menyanyi dengan giringan nada indah yang diciptakan oleh tangan Fajar. Ya, cowok itu ternyata sedang bersantai-santai setelah membuatku kesal semalam. Tidak ada kata maaf, baik dari mulutnya ataupun lewat pesan. Tidak ada!

"Pesan apa, Zel?" aku menoleh terkejut mendengar seseorang bertanya ramah disebelahku. Itu, Kinan. Untuk pertama kalinya selama bersekolah di SMA Garuda, ada orang yang mau menanyakan sesuatu kepadaku saat di kantin. Luar biasa, aku cukup kagum pada perubahan hidupku semenjak Kinan datang didalamnya.

"Gue? Lo nanya gue?" tanyaku ragu.

Kinan melebarkan senyumannya, "Iya, Zel. Sekarang kita berteman. Jadi, apa salahnya gue bertanya sama lo?"

"Ah, nggak salah." jawabku cepat. Konsentrasiku terbagi menjadi dua. Yang satu sedang menikmati permainan gitar yang merdu, yang lainnya tertuju pada Kinan. Ah, menyebalkan! Kalau boleh, sekarang juga aku ingin sekali bergabung bersama Fajar disana. Tapi, niatku ini terhalang oleh ego perempuan yang tak mau bergerombol dengan laki-laki. Sungguh, bagiku itu lebih mengerikan dari pada berada di keramaian.

"Pesan apa?" lagi-lagi aku terkejut. Aku ini kenapa? Padahal Kinan hanya bertanya dan jawab saja. Mungkin respon tubuhku terlalu berlebihan dan belum terbiasa dengan perbincangan antara kami berdua.

"Air putih."

"Hah?" Kinan melongo mendengar pesananku. Dia tahu beberapa menit lalu aku sempat menahan lapar ketika guru pengajar terlalu lama menjelaskan materi saat waktu hampir mendekati jam istirahat.

"Iya."

Kinan hanya mengangguk dan berjalan mendekati kerumunan di warung mbak Wati. Tubuh kecilnya langsung raib setelah menyelinap diantara celah orang yang memesan.

Disini, aku hanya menghela napas. Duduk sembari melanjutkan pendengaranku yang sempat terjeda. Fajar masih memetik senar gitarnya. Tetap merdu dan menenangkan. Seandainya jika aku boleh meminta, aku ingin sekali mendengarnya secara langsung didekatnya. Mungkin aku juga bisa ikut bernyanyi meski lirih.

Oh, aku sedang berhalusinasi.

"Semangkuk bakso dan es lemon buat Zella!" seru Kinan seraya meletakan makanan tersebut diatas meja. Aku menatapnya heran. Seharusnya dia membawakan air putih saja, eh kenapa malah yang lainnya?

"Jangan bilang lo traktir gue?"

"Hari ini nggak, lo bayar sendiri. Gue cuma ngambilin buat lo aja."

Lah?

"Kenapa, Zel?" tanyanya ketika melihat ekspresi polos yang aku perlihatkan.

"Ini bukan pesanan gue, Nan."

"Jangan menyiksa perut. Udah makan aja. Gue bercanda kok, gue emang mau traktir lo dan ... nggak ada penolakan!"

"Pengin banget jadi teman gue, Nan?"

"Gue cuma melanjutkan pertemanan kita yang kandas bertahun-tahun."

"Jujur aja, gue belum bisa percaya kalau lo itu Kinan, teman semasa kecil gue."

"Waktu yang bakal buat lo percaya kalau gue emang Kinan."

"Nggak segampang itu,"

Kinan meletakan sendoknya setelah menyuapkan sebuah bakso ke mulutnya dan mengunyahnya sebentar, "Butuh bukti?"

Aku mengangguk sekali. Tidak butuh waktu lama bagi Kinan untuk berpikir. Jemarinya meraba lehernya yang kulihat sangatlah putih ketika kerah seragamnya sedikit terbuka.

FAJAR [Tamat]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang