Yuna tengah makan sendiri di kantin dengan mendapatkan tatapan aneh dari para siswa lainnya. Mungkin, penampilan nya beda dari yang lain. Mereka fashionable dan Yuna jauh dari kata itu.
Sarapan yang dia bawa dari rumah dengan membawa nasi goreng telur membuatnya merasa cuek dengan apa yang dikatakan oleh mereka. Toh, Yuna yang makan, bukan mereka.
Tiba-tiba Yuna tersedak dan saat itu juga ada air putih datang tanpa di undang hadir di meja.
Yuna terdiam lalu mendongkakan kepalanya melihat siapa yang memberikan air itu.
"Hai. Itu buat lo" Redo dan kedua upil semut duduk.
Redo disamping Yuna, Sakri dan Nais dihadapannya. Dan itu semua membuat para perempuan penghuni kantin menatap Yuna tidak suka. Apalagi perempuan itu.
"Makasih" Yuna meneguk air dan mengelap bibirnya dengan tangan.
Sakri dan Nais saling melempar tatapan lalu tersenyum garing.
"Itu masakan lo?" Tanya Redo sambil menunjuk makanan di kotak bekal.
Yuna mengangguk kecil lalu kembali makan tanpa menghiraukan mereka.
Sakri dan Nais ikut-ikutan menelan ludah seolah ingin merasakan masakan yang terlihat enak itu.
"Anu, gue boleh nyoba nggak? Soalnya gue nggak pernah lagi makan nasi goreng" kata Nais membuat Redo dan Sakri melotot.
"Apa-apaan sih Nais!" Sakri menendang kaki Nais seolah mengisyaratkan 'jangan'
Yuna berhenti mengunyah lalu satu persatu melihat mereka dan membenarkan kacamata sambil menutup kotak bekalnya.
"Maaf, aku permisi" Yuna melenggang pergi dari kantin dengan tertunduk.
"Cewe aneh" gumam Redo lalu tersenyum melihat kepergian Yuna.
"Eh, lo tau anak baru kelas 12 IPA 1?" tanya Sakri.
"Kenapa emang?" Nais memajukan kursinya berusaha mendekat karena akan ada gosip baru.
"Katanya sih cantik"
"Cantik itu relatif. Yang langka itu tulus" kata Redo lalu mengangkat tangan kanannya sambil melihat pelayan kantin.
"Apalagi hatinya kuat" sambung Nais.
"Tumben lo pinter. Dapet transferan otak dari mana?" Tanya Sakri lalu tertawa.
"Dari anak Om Irpan dan Tante Maya yang cantik"
"Bu, saya pesan ketoprak sama teh hangat" kata Redo.
Pelayan itu mencatat pesanan untuk diberikan pada penjualnya langsung.
"Kalian apa?" Lanjutnya.
"Samain aja. Lo jangan minta lebih! Gue bawa uang 100 ribu doang" Sakri membekap mulut Nais agar suara pesanan tambahan tidak terucapkan.
"Udah?"
"Iya"
Pelayan itu pergi dan bekapan mulut Nais terbebas dari tangan Sakri. Dengan cepat Nais membersihkan bekas bekapan Sakri dengan tissue basah, sekalian pake hand sanitizer supaya virusnya hilang dan musnah.
"Nama dia aneh nggak sih?" Tanya Redo.
"Hah? Gimana?" Tanya mereka kompak.
"Lupain aja" Redo menaruh ponselnya di meja lalu menoleh ke samping. Tiba-tiba ada perempuan yang nampak asing bagi Redo tengah melambaikan tangannya.
Redo menengok kebelakang dan samping lalu melihat perempuan itu lagi merasa heran. Entah kepada siapa dia tersenyum.
Perempuan itu menunjuk ke Redo sambil menaruh tangannya di telinga seolah meminta nomor ponselnya. Memang perempuan itu cantik, rambutnya panjang dan berkulit putih.
KAMU SEDANG MEMBACA
DO.NA [End]✓
Teen FictionCinta memang unik, pilu menjadi rindu, sayang bertahap menjadi cinta. Kisah ini mungkin terlalu rumit dalam kehidupan nyata. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya warna ini muncul ketika ada dia. Dia itu aneh, perempuan yang tidak bisa di tebak. An...
![DO.NA [End]✓](https://img.wattpad.com/cover/218396175-64-k354493.jpg)