Hari ini merupakan jam olahraga. Yuna berjalan ke loker untuk mengambil baju olahraga dan menggantinya.
Tidak sengaja Yuna bertemu dengan Dita di kamar mandi. Dita tengah memakai bedak dan memoles lipstik.
Ternyata, Dita pandai memoles wajahnya. Yuna tersenyum sambil menaruh baju di dekat wastafel. Pakaian mereka sama-sama memakai pakaian olahraga.
"Eh Yui" Dita menampilkan giginya yang bersih.
"Lagi ngapain?"
"Aku lagi masak nih, Yui" jawab Dita aneh.
Yuna tahu jika dirinya lah yang salah bertanya. Semua orang juga tahu apa yang dilakukan oleh Dita sekarang. Yuna hanya basa-basi saja, tapi terlalu basi.
"Kamu jadwal olahraga?" Tanya Dita.
"Iya. Kamu juga?" Yuna melepaskan kacamata dan membenarkan rambutnya.
Dita mengangguk "Iya, kebetulan jadwal olahraga kita sama dan gurunya juga sama"
"Oh gitu"
Dita terkejut saat Yuna menggerai rambutnya. Dita berdecak kagum melihat kecantikan Yuna yang tersembunyi.
Yuna sedikit menoleh ke arah Dita "Kenapa?"
"Kamu cantik kalo kayak gitu, Yui" puji Dita yang langsung membuat Yuna menggeleng.
"Bisa aja kamu, Dit. Kamu yang lebih cantik"
Buru-buru Dita memegang rambut Yuna dengan gemas "Sini-sini biar aku yang kuncir rambut kamu"
Yuna tertawa kecil melihat kegembiraan yang terpancar dari wajah Dita. Akhirnya, rambut Yuna di kuncir satu dengan miring di kanan membuat Yuna menjadi lucu.
"Tuh kan kamu lucu, Yui" Dita baru sadar jika Yuna memiliki paras yang cantik.
"Jangan puji-puji aku terus, Dit. Aku malu"
Dita tertawa saat melihat Yuna yang kini tengah merasa malu. Yuna memakai kacamata dan merapihkan pakaiannya.
"Ayo ke lapangan. Keburu rame" kata Yuna dengan di angguki oleh Dita.
Mereka baris per kelas. Jadinya, Yuna dan Dita terpisah. Yang ada Yuna tengah bersampingan dengan Redo dan di belakangnya Nais dan Sakri.
Posisinya sama seperti upacara dulu. Yuna sebenarnya tidak terlalu menyukai pelajaran ini. Apalagi, Yuna saat ini belum makan sama sekali.
"Rambut lo lucu" kata Redo tersenyum pada Yuna.
"Makasih, Do" kata Nais dan Sakri bersamaan.
Pletak
"Bukan lo!" Redo menjitak mereka berdua.
Yuna menoleh ke arah Redo "Nais sama Sakri udah mewakili"
Nais dan Sakri nampak sombong dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Na, nanti pulang sekolah anter gue yuk"
"AYO" Sakri dan Nais yang menjawabnya lagi. Redo memejamkan matanya ingin sekali memusnahkan kedua upil gajah itu ke planet mars.
"Bukan ke kaliiaaaan" Redo menahan amarahnya dengan sedikit menekan perkataannya.
"Kemana?" Tanya Yuna pelan.
"Ke toko buku"
Yuna berfikir dulu sejenak. Yuna baru sadar jika Yuna harus membeli buku novel keluaran baru. Kebetulan, uang tabungannya sudah cukup untuk membeli buku itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
DO.NA [End]✓
Teen FictionCinta memang unik, pilu menjadi rindu, sayang bertahap menjadi cinta. Kisah ini mungkin terlalu rumit dalam kehidupan nyata. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya warna ini muncul ketika ada dia. Dia itu aneh, perempuan yang tidak bisa di tebak. An...
![DO.NA [End]✓](https://img.wattpad.com/cover/218396175-64-k354493.jpg)