Kelas 12 IPA 3 sungguh berisik, mulutnya tidak terkontrol. Teriak-teriak sambil membuat konser kecil di depan.
Redo dan kedua upil semut datang dengan membawa tas yang di taruh pada satu pundaknya. Bajunya sengaja di keluarkan dan itu sudah kebiasaan.
Redo dan Nais langsung duduk di kursi lalu menyenderkan tubuhnya di kursi.
Berbeda dengan Sakri, dia mengeluarkan buku catatan uang kas kelas sambil berkeliling meminta jatah asupan duidddd.
"WOY BAYAR UANG KAS" tepukan tangan dan teriakan Sakri membuat pasrah penghuni mengeluarkan uang 5000.
"Nih" kata salah satu murid.
"Lo kemarin belum bayar hutang sama gue. Jadi 10.000, goceng lagi mana?" Tagih Sakri sambil menghitung uang.
"Katanya lo yang bayarin. Lo bilang mau Sedekah. Gimana sih"
"Oh yaudah deh" bodohnya Sakri mengiyakan dan melanjutkan penagihan.
"Woy cewek berwujud kunti. Bayar lo!"
"NANTI AJA. GUE KAGAK PUNYA UANG. GUE CUMA PUNYA KARTU OSIS. MAU LO?" wanita itu nyolot sama seperti toa dengan make up diwajahnya yang tebal sampai beda dengan tangannya.
"Ngegas mulu aneh" sindir Sakri.
Redo dan Nais tertawa melihat Sakri yang disemprot oleh terkait. Biasanya gini, terkadang orang yang nagis selalu ngalah daripada orang yang di tagih karena selalu dihadiahi oleh bacotan-bacotan alasan yang membuat rasa iba menjalar dalam hati. Emmmm
"Selamat pagi" suara sepatu dengan ucapan itu membuat semua siswa tergesa-gesa menempati posisi.
"SELAMAT PAGI PAK"
Pak Boy datang dengan membawa tumpukan buku.
"Haduh gue yakin Pak Boy mau ngasih tugas. Terus bilang 'nanti kumpulkan di meja bapak. Bapak ada rapat' pasti gitu" bisik Nais pada telinga Redo.
"Sotauu lo!"
"Anak-anak, bapak ingin memperkenalkan kalian dengan murid baru yang akan menempati kelas ini"
Sontak saja kelas menjadi berisik saat mendengar akan ada murid baru. Pikiran mereka cantik atau tampan. Sangatlah antusias.
"Tuh kan bener apa kata gue" ucap Sakri sambil memukul bahu Redo.
"Ya tapi informasi lo kemarin salah" bela Redo.
"Tapi kan buktinya bener"
"Oh bakalan ada murid baru yah?" Tanya Nais pada Redo dan Sakri.
"Bukan"
"Terus?"
"Ada tukang kebun baru" kata Sakri sambil melotot.
"Emang iya Do?" Nais tidak percaya pada ucapan Sakri.
Redo menetralkan pikiran dan suara agar frekuensi tidak menggema di kelas ini.
"Anak baru Nais. Bukan tukang kebun baru" katanya.
"Si Sakir bohong aja ih. Pamali. Nanti Tuhan marah, kena azab lo nanti ditayangin di Indosiar bahkan di ANTV. Nanti lo yang terkenal, bukan gue" Nais mendengus kesal dan memperhatikan guru di depan.
"Ngomong apaan sih pasung?!"
"Ribut mulu lo pada" Redo membekap mulut Nais supaya tidak membalas ejekan Sakri.
"CEWE ATAU COWOK PAK?" Teriak Sakri sekaligus mewakili rakyat 12 IPA 3.
"Muridnya perempuan"
Sontak saja kaum hawa kecewa dan kaum adam bersiul ingin cepat melihat wanita cantik.
KAMU SEDANG MEMBACA
DO.NA [End]✓
Ficção AdolescenteCinta memang unik, pilu menjadi rindu, sayang bertahap menjadi cinta. Kisah ini mungkin terlalu rumit dalam kehidupan nyata. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya warna ini muncul ketika ada dia. Dia itu aneh, perempuan yang tidak bisa di tebak. An...
![DO.NA [End]✓](https://img.wattpad.com/cover/218396175-64-k354493.jpg)