Cinta memang unik, pilu menjadi rindu, sayang bertahap menjadi cinta. Kisah ini mungkin terlalu rumit dalam kehidupan nyata.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya warna ini muncul ketika ada dia.
Dia itu aneh, perempuan yang tidak bisa di tebak. An...
Rintik hujan terdengar mengalun bagaikan alunan musik yang syahdu mengiri kebersamaan dua sejoli yang tengah memadu kasih.
Redo dengan repleks mencegah air hujan membasahi kepala Yuna. Redo dan Yuna berlari kecil untuk mencari teduhan. Redo ingat jika di dalam box motor terdapat payung.
"Aku ambil payung dulu"
"Iya"
Yuna sebenarnya merasa senang jika rintikan hujan itu menetes langsung di telapak tangannya. Redo tiba dengan sebuah payung dan mereka berteduh di payung tersebut.
Punggung Redo sedikit basah karena payungnya lebih ke arah Yuna. Redo tidak mau jika Yuna sakit.
"Do, payungnya di tengah biar kita sama-sama nggak kebasahan" kata Yuna seraya menatap mata Redo.
"Aku nggak mau kamu sakit"
"Itu bukannya kesempatan kamu?"
"Maksudnya?"
"Nanti juga kamu paham" Yuna menadahkan tangannya di bawah rintikan hujan.
Redo tersenyum saat Yuna merasakan kebahagiaan. Tidak ada yang lebih bahagia dibandingkan dengan melihat wajah Yuna yang berseri. Kebahagiaan Yuna akhirnya terpancar. Meneduh di atas payung berdua memang pemandangan yang sangat romantis. Di warnai dengan indahnya tetesan air hujan di dedaunan.
"Kamu itu harus seperti hujan" ucap Redo.
"Kenapa?"
"Hujan itu nggak pernah sekalipun menyerah walaupun terjatuh berkali-kali. Dedaunan membutuhkan air untuk hidup dan suatu saat nanti orangtua kamu dan Kila akan membutuhkan bantuan kamu"
"Kamu juga harus kayak payung"
"Kenapa?"
"Payung itu selalu berguna untuk manusia"
"Hubungannya sama aku apa?"
"Kamu harus jadi laki-laki yang berguna, harus tahu kondisi dan menempatkan hati sesuai tempatnya" jawaban Yuna berhasil membuat Redo tertawa karena perkataan Yuna terlalu terbelit-belit.
"Kenapa ketawa?"
"Jawaban kamu kayak rumus matematika. Rumit" ejeknya.
"Nggak pa-pa"
"Tuhan tahu kondisi hati setiap ciptaannya. Ciptaannya juga tahu kondisi pasangannya. Hujan tahu kondisi bumi, bumi tahu dia harus membutuhkan hujan. Dan aku butuh kamu di samping aku" gombalan Redo membuat pipi Yuna menjadi seperti tomat. Kebaperan ehm.
"Yah jadi baper" goda Redo seraya tertawa di tengah rintikan hujan yang menerpa tanah.
Yuna tidak bisa menyembunyikan tawanya akibat ulah Redo yang usil. Bermain dengan air hujan memang mengasyikkan.
"Aku akan menjadi pelindung di saat kamu terperosok ke jurang" batin Redo sambil melihat tawa Yuna.
----
@RedoBS
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.