Hallo semua? Maaf baru update lagi. Banyak kesibukan soalnya. Sebenernya, aku bakalan up cerita ini dan Heart Beat minggu depan karena minggu sekarang lagi ujian. Tapi, aku ngerasa nggak enak aja kalau nggak up. Jadi, aku bakalan sempetin buat up. Tenang aja oke😉
Happy reading 🤗🤗🤗
"Do, sebenernya lo suka yah sama Anu?" Pertanyaan Sakri membuat Redo menoleh ke arahnya.
Redo terbangun dari posisi tidurnya lalu berjalan menuju balkon kamar dengan memasukan tangan kanannya pada saku celana.
Nais dan Sakri mengikutinya lalu duduk sambil senderan di ujung tiang. Sakri membawa bantal dan Nais membawa remote tv.
"Setelah gue mencium ketek Sakri, gue yakin ini merupakan tanda-tanda kalo lo suka sama si Anu" Nais sedikit mengendus aroma ketek Sakri. Dan bodohnya Sakri dengan santai tidak memberontak malahan Sakri mengangkat tangannya. Iwww jorok:(
"Bau nggak ketek gue?" Tanya Sakri.
"Lumayan"
"Oon lo jadi orang. Mendingan cium si Jon di bawah"
Si Jon merupakan ikan hias kesayangan Redo karena ikan itu sudah menemaninya dengan kedua upil ini.
"Enak aja lo! Gue tabok pake pancingan nih!" Ancam Redo dengan menunjuk pada Sakri.
"Sabar Do, sabar. Gue becanda" Sakri menutup wajahnya dengan bantal.
"Kapan acara nembaknya?" Celetuk Nais sambil memainkan remote tv.
Redo menjambak rambutnya sendiri merasa pusing dengan perasaannya. Redo ikutan duduk di samping Sakri dengan meletakan ponsel di sampingnya.
"Gue bingung sama diri gue sendiri. Kalo gue bingung gue takut jerawatan. Kalo nggak bingung serasa hidup di dunia sia-sia" kata Redo.
"Mendingan mati kalo gitu, Do" ucap Sakri dengan sedikit lantang.
"Ya janganlah! Gue belum punya amal"
"Makanya sedekah kayak gue. Setidaknya lo bisa membuat seseorang bahagia. Itu juga termasuk amal. Apalagi kalo lo bahagiain si Anu" tangan Sakri perlahan meraih ponsel Redo tanda sepengetahuannya karena Redo sibuk menunduk sambil memainkan ujung celana pendeknya.
Lalu Sakri memberikannya pada Nais "Chat si Anu" bisik Sakri pelan.
Nais mengangguk kecil "Oke"
"Apa yang oke?" Suara Redo membuat Sakri langsung menoleh lalu memberikan kode kepada Nais untuk menjawab.
"O..oke oke ituuu ketek Sakri oke. Iya Sakri keteknya oke, patut dapet akreditasi A hehe" jawaban Nais membuat Redo menaikan alis kanannya.
"I..iya Do. Eh btw kita boleh kan nginep disini?" Sakri mengalihkan pembicaraan supaya Redo tidak curiga.
"Boleh, asal jangan minta makan sama Wi-Fi gratis" jawab Redo dengan sedikit menekan perkataannya.
"Ah elah kagak seru lo. Bisa mati gue kalo nggak makan. Wi-Fi gue di rumah lemot kayak pemikiran si Nais. Tetangga pada tahu kata sandinya. Gue mau ganti nggak boleh sama Papski. Dia bilang, dengan cara ini kita beramal"
"Bayar goceng. Hidup di dunia nggak ada yang gratis" tandas Redo.
Tiba-tiba pinggang Sakri ada yang mencolek menandakan jika Nais sudah berhasil dengan misi rahasianya.
Buru-buru Sakri menaruh ponselnya kembali tanpa terlihat oleh Redo.
"Gue kebelet pengen kencing" Sakri berlari keburu Redo tahu kejahilannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DO.NA [End]✓
JugendliteraturCinta memang unik, pilu menjadi rindu, sayang bertahap menjadi cinta. Kisah ini mungkin terlalu rumit dalam kehidupan nyata. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya warna ini muncul ketika ada dia. Dia itu aneh, perempuan yang tidak bisa di tebak. An...
![DO.NA [End]✓](https://img.wattpad.com/cover/218396175-64-k354493.jpg)