43. DO.NA

2K 249 26
                                        


Kesedihan yang mendalam tengah di rasakan oleh Redo. Tangisannya meminta Yuna untuk sadar tidak di dengar. Di perjalanan menuju rumah sakit dengan ambulans hanya di hiasi oleh tetesan air mata. Redo tidak henti-hentinya mengusap rambut Yuna dan mencium tangannya.

Redo tidak mau Yuna seperti dulu. Terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit. Kondisi saat ini memungkinkan Redo terpuruk.

Darah yang menodai baju Redo membuat kondisi semakin dramatis. Redo tidak memberitahu siapapun tentang ini. Yang Redo pikirkan hanyalah Yuna. Sosok wanita yang dia cintai.

"Na, kamu jangan pergi. A-aku ada disini. Kamu tahan yah, aku janji, aku akan balas pelaku nya" Redo mengusap tangan Yuna lalu memeluknya.

"Aku lalai karena aku nggak bisa jagain kamu. Aku yang buat kondisi kamu kayak gini, aku nggak bisa berbuat apa-apa"

"Na, tolong sadar"

Keringat bercampur dengan air mata membasahi pipi Redo. Jika Redo bisa memilih takdir, Redo akan menukar posisi untuk saat ini. Redo ingin menggantikan Yuna. Redo tidak mau Yuna sakit. Apa yang di rasakan Yuna pasti sangatlah sakit. Hidup memang menyimpan banyak misteri.

"Kalo Kila pelakunya, aku nggak segan-segan masukin dia ke penjara dan menuntut dia lebih berat lagi" Redo mengepalkan tangannya sendiri sembari menatap tajam membayangkan sosok Kila yang jahat.

Dia masih mengira jika Kila adalah pelakunya. Namun, sosok Kila dan Revi entah dimana. Masih misteri juga.

Mata Yuna perlahan membuka melihat laki-laki yang dia cintai tengah menangisinya.

"Do" katanya dengan nada lemas.

"Na, kamu jangan banyak bicara dulu. Darah kamu banyak. Kita lagi di perjalanan menuju rumah sakit. Kamu tahan yah. Demi aku"

Yuna menanggapinya dengan senyuman "Hm"

"Kamu kenapa bisa kayak gini, Na? Aku khawatir, aku kehilangan kamu dalam waktu yang nggak sebentar"

Yuna hanya bisa terdiam berusaha menggapai wajah Redo untuk di usap olehnya. Dengan perlahan, akhirnya Yuna bisa menyentuh wajah Redo kembali.

Tetesan air mata Redo jatuh tepat ke pipi Yuna. Redo menundukkan kepalanya sambil menangis menyaksikan darah yang semakin banyak. Wajah Yuna nampak pucat, di satu sisi kehabisan darah dan menahan rasa sakitnya. Tetapi, Yuna berusaha agar tetap terlihat baik-baik saja dengan cara memperlihatkan senyumannya.

"Kamu nggak boleh nangis. Kalo kamu nangis, kesadaran ku perlahan akan menghilang" ancam Yuna.

Redo dengan cepat mengusap air matanya "Aku nggak nangis"

Yuna baru saja hendak pingsan kembali, tetapi Yuna berusaha agar tetap sadar. Redo pun selalu menyemangatinya. Akhirnya, Yuna bisa kembali merasakan kebahagiaan karena Redo mengkhawatirkan keadaan dirinya.

"Cinta kita nggak akan pernah berhenti. Jika maut memisahkan, kita akan bersatu kembali di dunia yang berbeda" kata Yuna dengan nada rendah.

"Di dunia ini tidak ada yang kekal. Untuk dunia ini, aku dan kamu akan mengukir cerita bahagia" jawab Redo lalu mencium dahi Yuna.

---

Hari di rumah aja tengah dilakukan oleh Irpan dan Maya. Mereka sarapan berdua tanpa Redo. Ponsel Irpan berdering.

Nama 'Redo' membuat Irpan langsung menjawab. Maya pun harap harap cemas.

"APA!!"

Maya ikutan terkejut "Kenapa, Yah?"

"Redo menemukan Yuna, Yuna kritis"

Kabar mengejutkan akhirnya terdengar. Dengan cepat Irpan dan Maya bergegas ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan Yuna dan Redo.

DO.NA [End]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang