44. pagi yang buruk

1K 100 5
                                        

_______

Saat hujan berhenti semalam, Keysha pikir benar-benar akan berhenti namun ternyata tidak, hujan di pagi hari ini semakin lebat, membuat mood Keysha untuk datang sekolah menjadi buruk.

Masih setia bergelung dengan selimut tebalnya, Keysha semakin meringkuk, angin yang berhembus lewat sela-sela jendelanya membuat tubuh Keysha menggigil apalagi AC yang masih menyala dalam suhu kecil.

Saat hendak kembali memejamkan matanya Keysha mendengar suara derap langkah kaki samar samar menghampirinya, Keysha sudah bisa menebak siapa orangnya, itu pasti Kelvin dan tak lama suara keras Kelvin membuat Keysha berdecak kesal.

"bangun woy, udah jam berapa!!" Teriak Kelvin sembari berkacak pinggang.

Dengan terpaksa Keysha menurut, menyibak selimutnya dan beringsut duduk, menatap kelvin kesal.

Kelvin mengurut batang hidungnya frustasi"buruan mandi, gue tunggu 15 menit, kalau Lo nggak turun juga, gue tinggal"

Keysha tahu, dari kalimat Kelvin, sudah jelas bahwa tidak ada bantahan, tapi Keysha yang tidak tahu diri merengut dan menatap Kelvin memelas.

"Boleh nggak bang-"

"Nggak boleh, buruan mandi gue tunggu di bawah" Kelvin memotong ucapan Keysha karna dia sudah tahu apa yang adiknya itu pikirkan. Meminta persetujuan agar Kelvin membolehkan Keysha untuk tidak datang kesekolah.

Keysha mendengus, menatap punggung Kelvin yang sudah berjalan keluar kamarnya, dengan malas Keysha berjalan menuju kamar mandi.

15 menit Keysha baru menyelesaikan semua persiapannya, dari mulai mandi, memakai baju, menyiapkan buku paket pelajaran hari ini, membaluri wajahnya dengan bedak tipis serta liblam di bibir kecilnya, memasang sepatu kets, setelahnya Keysha meraih tasnya yang tergeletak di atas ranjangnya lalu berlari keluar kamar menuju meja makan.

Di sana sudah ada tiga orang yang sedang duduk nyaman di masing-masing kursi, papanya, kakaknya dan Widya yang membuat Keysha bertamabah badmood.

Keysha duduk di samping Kelvin, meletakan tas yang tadi ia pegang ke atas meja dengan kasar.

Ternyata benar, papanya pulang pagi ini dan bahkan membawa calon istrinya pulang kesini.

"Keysha mau makan apa, biar Tante ambilin" ucap Widya membuka suara, dia menatap Keysha sembari tersenyum lembut.

"Bisa sendiri" ucap Keysha jutek membuat Kelvin yang di sebelahnya menatapnya memberi peringatan sedangkan papanya berusaha untuk tidak terlalu peduli dan memilih menenangkan Widya.

Keysha mengabil dua roti Tawar dan memberikannya pada kelvin, Kelvin menatap Keysha bertanya "minta selai"balas Keysha memperjelas.

"Sok-sokan, bahkan ngoles selai aja Lo nggak tahu gimana caranya" sindir Kelvin dan meraih dua roti tawar dari tangan keysha dan mulai mengoleskan selai coklat pada salah satu roti tawar itu.

Kesyha mencebik, memilih untuk menunduk karena sindiran Kelvin membuatnya merasa malu. Sesekali melirik papanya yang makan rotinya dengan tenang.

"Keysha, Tante minta maaf kalau-" ucapan Widya terhenti kala Keysha berdiri dari duduknya dengan menimbulkan suara decitan kursi yang cukup keras.

"Udah telat kalau Tante mau minta maaf sekarang, dari Keysha cuekin Tante waktu pertama kali Tante injakin kaki disini, harusnya Tante sadar kalau Keysha nggak suka sama Tante, tapi" Keysha menjeda kalimatnya, melirik perut Widya yang masih rata.

Keysha tersenyum sinis "Tante malah hamil sama papa keysha, minta maaf Tante gak guna"

Brakk

"Sudah cukup Keysha!!"bentak Ridwan, ia menatap putrinya itu dengan wajah yang sudah merah menahan emosi.

"Papa!" Protes Kelvin, namun dia kembali diam saat Ridwan menatapnya marah.

Tidak merasa takut sama sekali, ini sudah yang kesekian kalinya Ridwan membentak Keysha setelah Widya datang kerumahnya, dan anggap saja Keysha sudah biasa.

"Dari awal kamu selalu bicara kasar sama Tante Widya, papa diemin, papa maklumin karna papa tau kamu pasti kecewa dan butuh waktu buat terima semuanya, tapi ternyata waktu yang papa kasih nggak buat kamu mikir dan sadar, kalau kamu marah, marah sama papa, jangan sama Tante Widya, dia baik, nggak pantas kamu sakiti hatinya Keysha!" Ridwan menghela nafas lelah, ia mengurut pelipisnya dengan kedua tangannya, Sedangkan Widya di sampingnya sudah terisak.

Keysha, dia menatap Ridwan tidak percaya, matanya sudah berkaca-kaca, ini adalah kalimat terpanjang dari Ridwan yang paling membuat Keysha kecewa, marah, sedih. semuanya!

"Jadi yang lebih pantes disakiti hatinya itu Keysha? Papa sadar nggak kalau Keysha kecewa sama papa, dari awal Keyhsa nggak minta papa buat cariin Keysha mama baru, Keysha nggak butuh. DARI AWAL KEYSHA BILANG ITU SAMA PAPA!! tapi papa nggak mau dengerin Keysha"

"Key udah, duduk sekarang" ucap Kelvin menenangkan sembari menarik-narik lengan Keysha untuk kembali duduk.

"Nggak! Biar papa tahu, kalau nggak di kasih tahu papa nggak akan ngerti! Dan lagi kalau dia baik dia nggak akan mau hamil di luar nikah!!"

"KEYSHA!" Teriak Ridwan, emosinya sudah tidak bisa dibendung lagi, ia berdiri menatap keysha marah, tatapan yang tidak pernah kesysha dapat selama hidupnya.

"Mas..."lirih Widya.

Keysha menganggukan kepalanya lemah berusaha menahan tangisnya, meraih tasnya di atas meja dan berjalan cepat keluar rumah "papa nggak ngerti Keysha!" Pekik Keysha sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu.

Dengan cepat Kelvin berdiri, berniat menyusul Keysha namun langkahnya kembali terhenti saat mendengar ucapan Ridwan.

"Nggak usah dikejar, dia butuh waktu buat mikir dan jadi dewasa" kalimat Ridwan terdengar dingin.

Kelvin menggeleng, menatap Ridwan tidak percaya, papanya benar-benar sudah berubah "Kelvin nggak ngerti jalan pikiran papa"setelahnya Kelvin kembali melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan yang menyesakan itu.

"Wid maafin ucapan anakku, sedikit waktu lagi aku janji mereka akan terima kamu" Ridwan meraih tangan Widya dan menggenggamnya erat, memberi Widya keyakinan.

"Iya, harusnya kamu nggak perlu bentak keysha, semua kata katanya memang benar" Widya menangkup tangan Ridwan dengan telapak tangannya satu lagi, menatap Ridwan lekat masih dengan bekas air mata.

Helaan nafas terdengar, Ridwan merasa juga seperti itu, tapi jika tidak, anak-anaknya tidak akan pernah bisa mengerti. Ridwan tersenyum lembut mengangguk mengiyakan kalimat Widya.

***

Drama sekali chapter kali ini hahaha
Maafkan saya ya teman-teman 🙏otak saya memang otak drama:')

Greget pengen cepet² ending aja rasanya😅

MAGER [COMPLETED✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang