52. Promise

1.1K 88 2
                                        

Jika tidak sanggup menahan beban itu sendirian, kamu bisa berbagi dengan orang yang kamu percaya atau meluapkan semuanya dengan berteriak

***

Ruangan yang didominasi warna putih itu kini kembali menyita perhatian Keysha, ia duduk di sofa dengan sesekali memainkan kaki yang masih memakai sepatu sekolahnya.

Menatap sekeliling ruangan yang masih terlihat sama, menunggu nenek yang sedang berada di kamarnya, kata Gilang nenek harus banyak istirahat, walaupun Keysha tidak setuju dengan definisi istirahat menurut Gilang, karena berbaring dikasur terlalu lama juga tidak sehat.

Tapi mengabaikan semua argumennya yang dia rasa tidak pantas dia keluarkan, Keysha hanya diam saja, Keysha yakin Gilang lebih tahu yang terbaik untuk nenek.

Lama kesyha terdiam, suara pintu terbuka dari kamar yang tidak jauh dari ruang tamu membuat Keysha tersenyum lebar, menatap nenek yang tampak pucat duduk di kursi rodanya.

Ntah kenapa melihat nenek yang tampak semakin lesu membuatnya sedih, namun senyum nenek yang lembut membuat keysha menepis semua prasangka buruk yang ada di kepalanya.

"Keysha..udah lama nunggu??" Tanya nenek setelah berada selangkah lebih dekat dengan Keysha dan di balasan gelengan oleh Keysha.

"Key, aku ganti baju dulu" pamit Gilang setelahnya berlalu pergi menuju kamarnya

Keysha mengangguk walaupun Gilang sudah lebih dulu melenggang meninggalkannya bersama nenek, setelahnya Keysha kembali mengalihkan perhatiannya ke arah nenek.

"Nenek gimana kabarnya??" Tanya Keysha antusias, memilih beringsut turun ke karpet berbulu yang terbentang di bawah kaki sofa, memegang kedua tangan.

"Seperti yang kamu lihat, nenek sangat baik" jawab nenek dengan suara lemahnya. Keysha tersenyum lebar, walaupun dia yakin ada yang tidak beres dari nenek.

"Cucu nenek yang cantik ini gimana kabarnya?"

"Sangat baik" jawab kesyha dengan semangat, kesyha melipat kedua kakinya di atas karpet, mendongak menatap nenek yang masih duduk di kursi rodanya.

"Syukurlah..."lirih nenek dengan tangan yang menepuk nempuk punggung tangan Keysha pelan.

"Nenek mau pindah ke sofa?"

Nenek menggeleng "nggak usah, mending kamu yang duduk di sofa, kenapa malah lesehan di situ"

Kesyha memasang ceringarn khasnya "nggak tau kenapa kalau ngobrol sama nenek suka posisinya gini" nenek terkekeh lemah sembari menggelengkan kepalanya.

"Maaf ya nek, pas nenek keluar dari rumah sakit, Keysha nggak bisa jemput"

"Nggak apa apa, lagian nenek nggak terbiasa di jemput sama banyak orang setiap keluar dari rumah sakit"

"Kenapa nek?"

"Bikin nenek sedih"

Keysha mengulum senyumnya, mencium punggung tangan nenek, membuat nenek tertawa hambar.

Sebenarnya Keysha masih ingin bertanya banyak pada nenek tapi, dia sadar dan merasa tidak pantas.

Suara derap langkah kaki dari belakang Keysha, membuat kedua perempuan berbeda generasi itu kompak menoleh ke arah Gilang yang sudah mengganti seragamnya dengan baju kaos berwarna hitam dan celana jins yang sedikit sobek di bagian lutut.

MAGER [COMPLETED✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang