"Bahwa aku mencintaimu tanpa alasan maka jangan pernah memintaku menjelaskan"
Assalamu'alaikum..aku dateng lagi pemirsa aku harap kalian nggk bosen yahh..
Happy reading
Waktu berjalan melukis berkas-berkas kenangan, yang harus lekas ku lupakan. Aku hanya perlu berjuang untuk masa depan. Melihat ke belakang hanya akan mengingatkanku pada keterpurukan.
Sekarang hasratku hanya memenangkan perang cinta. Dimana lawanku adalah segala penolakan nyata. Aku tidak tau jalan tempuhku yang ku tau jika mencintai mu adalah rasa sakit, maka aku tak akan berkecit, jika mencintaimu itu salah maka aku tak mengharapkan benarnya dan jika mencintaimu adalah dosa, maka letakkan aku di tempat yang paling indah di neraka.
💗💗💗💗💗💗💗💗
Dua minggu sudah pernikahanku dengan Gus Rizal. Keadaan tiada berubah. Selama itu Gus Rizal hanya bersinggah sekali di kamarku. Dia banyak menghabiskan malam bersama dengan Mbak Dela atau keluar entah kamana. Dia hanya datang untuk mengambil pakaian, atau tidak dia hanya mengambil kitabnya. Dia tak pernah berbicara denganku, kecuali pembicaraan yang penting.
Tapi cinta menginginkanku bertahan, di bukit tinggi pengharapan.
"Fi...!"
"Hemm?" Mbak Dela memanggilku di tengah-tengah aku menyimak setoran santri-santri.
"Hari ini aku mau pulang."
"Pulang? Kenapa Mbak?"
"Umi sedang sakit..."
"Astagfirulloh... semoga cepat sembuh ya Mbak."
"Iyo... makasih!"
"Salam yah Mbak buat Uminya Mbak Dela."
"He emm... aku titip santri halaqahku yo... dan juga Mas Rizal. Dia pasti akan membutuhkan bantuanmu."
Gus Rizal?
Dia akan enggan dengan adanya aku.
💗💗💗💗💗💗💗💗
Selepas ngaji pagi, Mbak Dela pulang di antar Pak Rokhim supir ndalem. Gus Rizal memang sedang tidak ada di rumah. Mungkin juga Gus Rizal tidak tau kalau Mbak Dela pulang.
Sudah pukul delapan, aku harus cepat bersiap. Sekarang aku mulai bekerja di rumah sakit umum Surabaya. Sebenarnya aku ingin ke klinikku tapi Abah dan Umi tidak mengizinkan karena jaraknya jauh, yang ada aku tidak akan punya waktu untuk pulang.
Aku mengganti pakaianku. Aku mengenakan gamis maroon dan kerudung yang senada. Aku meraih jasku dari dalam lemari, sembari mengambil tas dari lemari yang lain. Tak lupa aku mengenakan sepatuku.
Ya Allah, sekarang bagaimana caraku barangkat jika Pak Rokhim mengantar Mbak Dela. Ahh... sebaiknya aku pesan Grab saja.
Aku keluar dari kamar dan aku mendapati Bu Nyai sedang duduk di sofa depan televisi dengan Al-Qur'an di pangkuannya.
"Lho... kamu kerja ta Fi...?"
"Nggeh... dua jam lagi jadwal operasi"
"Lha teros piye... mobile di gawe ngeterno Dela..."
"Pon kersane... saya pesan Grab saja..."
Beberapa saat....
"Assalamu'alaikum..." Gus Rizal datang dengan tergesah-gesah.
"Wa'alaikumsalam." jawabku da Bu Nyai.
Gus Rizal berhambur ke kamar Mbak Dela. Wajahnya cemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
MATSNA
RomanceTentang cinta seorang madu yang dengan diamnya hanya menuai berbagai luka.. Tentang cinta yang harus berpijak di atas cinta yang kian merana ikut melara dalam takdir yang memaksa..
