Assalamu'alaikum,maap permirsa aku telat up nya...jangan bosen nunggu yahh🤧
Ya dah lah happy reading_semangat baca,vote,koment,dan satu lagi bantu tandai typo yakk barang kali ada gangguan.
Follow akun NurAzmiSulistiana
Malam datang menghampiri kepedihan. Kemintangpun turut padam dalam temaram.
Gus Rizal masih di dalam. Sepanjang hari dia menemani Mbak Dela. Shalatpun dia tidak mau shalat di mushollah. Bu Nyai dan Pak Kyai baru saja pulang.
Aku masih di sini, menanti akan ada kabar baik yang menghampiri. Sesekali aku masuk, pemandangan masih sama. Gus Rizal duduk di kursi sebelah ranjang dengan menatap wajah Mbak Dela. Gus Rizal enggan untuk makan ataupun minum.aku tau rasa hatinya,aku faham kekhawatirannya.aku hanya berharap allah segera memberi kesembuhan pada mbak dela.aamiin
Aku duduk di sofa ruanganku, menyandarkan punggung untuk sekedar melepas penat. Sampai akhirnya tanpa ku sadari aku terlelap begitu saja.
💗💗💗💗💗💗💗💗
Aku terjaga saat adzan subuh di kumandangkan. Sebaiknya aku shalat dulu. Aku beringsut ke kamar mandi membersihkan diri. Selepasnya aku shalat di ruanganku sendiri.
Ya Allah, untuk saat ini tidak banyak yang ku minta. Aku hanya berharap kesembuhan Mbak Dela dan ketabahan Gus Rizal.
Kemudian aku pergi ke kamar Mbak Dela. Gus Rizal nampak sedang membaca Al-Qur'an. Aku masuk mengontrol kondisi Mbak Dela. Aku berlagak sibuk dengan pekerjaanku, tapi sebetulnya aku sedang mencoba meraih keterpurukan dari hati Gus Rizal. Sampai akhirnya....
"Fi..." Mbak Dela memanggil namaku. Dia sudah sadar.
Aku buru-buru menghampirinya. Aku duduk bersebrang dengan Gus Rizal yang nampak menutup Al-Qur'annya. Dia menatap Mbak Dela yang berusaha membuka matanya.
"Fiha..." panggilnya lagi dengan suara yang parau.
"Iya Mbak... saya di sini." balasku dengan menggenggam tangan Mbak Dela. Kemudian, Mbak Dela membuka mata lebar. Dia melihat ke arah Gus Rizal sebentar setelah itu ke arahku.
"Makasih Fi... kamu sudah baik sama aku." suara mbak dela begitu pelan sehingga aku harus mendekatkan telinga di wajahnya.
"Sudah, Mbak Dela jangan banyak bicara dulu... nanti kalo' sudah sembuh kita ngobrol panjang."
"Tidak ada waktu lagi Fi... aku titip santri-santri yang setoran di aku... aku titip Umi, Abah,umi khodijah tidak punya siapa siapa lagi fi..aku titip umiku fi jaga beliau seperti ibu kamu sendiri aku mohon,dan aku titip hati mas rizal fi"
Ujarnya dengan setitik air mata yang mengalir dari sudut matanya.
" sssttt...sudah Mbak... sudah hiks... hiks... jangan bicara seperti itu."
"Do'akan aku Fi... agar aku masuk surga bersama golongannya Fatimah Az Zahro'." kini ucapannya beradu dengan isak tangis pilu nya.
"..........." aku hanya mangut-mangut denga air mata yang mengalir.
"Dan njenengan... Mas." Mbak Dela mengalihkan pandangan pada Gus Rizal.
"Saya bersyukur pernah mengabdi pada orang semulia njenengan..."
Gus Rizal tak menyahuti hanya sesekali mengecup punggung tangan Mbak Dela.
"Njenengan jangan coba-coba menutup hati... cobalah menyadari bahwa di hati njenengan ada yang lain." mbak dela lancar bebicara tapi sedikit bergetar.
KAMU SEDANG MEMBACA
MATSNA
RomanceTentang cinta seorang madu yang dengan diamnya hanya menuai berbagai luka.. Tentang cinta yang harus berpijak di atas cinta yang kian merana ikut melara dalam takdir yang memaksa..
