Satu minggu setelah acara, aku tidak bertemu dengan Gus Rizal sama sekali. Dia memang senang bepergian entah ke mana, Yang Kutahu sejauh ini dia suka menjelajah alam. Bersama dengan teman-temannya Dia menghabiskan waktu ke pantai, Air Terjun, pegunungan atau yang sejenisnya. Meski seperti itu biasanya dia pergi paling lama 3 hari tapi entah dengan sekarang, bu nyai pun tidak menyinggung tadi saat memasak.
Aku tidak pernah tahu apakah aku merindukannya atau tidak, yang jelas ketiadaannya sekejap saja melonglong kan sesak di Dadaku, setiap saat dan setiap hari. Meski aku tidak memikirkannya rasa itu tetap datang.
Aku tidak ingin gila dalam cinta tapi kenapa semakin hari semakin bertambah kecintaan ini. Tapi aku percaya cintaku tiada sebanding dengan kegilaan Qais dan Laila. Sehingga Qais dibawa oleh ayahnya ke Mekah untuk haji, dia bersimpuh di Multazam, Hajar Aswad dan maqam Ibrahim AS. Dia berdoa panjang tentang pengampunan Dan di penghujung munajatnya Dia berkata "Ya Allah ampunilah segala dosa-dosaku Tapi tidak untuk dosa mencintai Laila "seberapa besar cinta yang dimiliki nya tiada yang tahu hanya Allah dan dia.
Mencapai semacam itu bukanlah aku, Sedangkan selama ini aku berharap aku bisa mencintai seperti Fatimah mencintai Ali dalam diam yang teramat, tiada yang tahu selain Allah. Setan pun tak menguasainya, sedangkan aku? Cinta ini kotor, aku masih senang bermaksiat Atas Nama Cinta. Setan masih bergelayut membara mengompori ku dengan segala muslihatnya.
Kini aku sedang termangu di depan angkruk, lebih tepatnya di anak tangga bambu dengan Alquran yang dibiarkan terbuka. Tadinya aku berniat mendaras tapi sekarang aku malas, rasanya sekarang Aku ingin tidur. Tapi sekarang masih pagi yang ada rezeki mampet dipatok ayam. Sebaiknya sekarang aku ke kamar, menghadap laptop mengirim email pada teman-teman yang sedang menikmati liburan.
Aku beranjak dari tempatku, jarak angkruk dan kamarku cukup jauh. Aku harus melewati Komplek para santri formal, setelah itu complete nonformal dan barulah aku sampai di kamar Mbak Mbak khodimah yang biasanya jam segini mereka mendaras. Ada yang di kamar sendiri, di depan kamar, di mushola, Ada pula yang di taman.
Aku membuka pintu kamar dan melangkahkan kaki masuk. Tapi baru satu langkah_
"fi.."
Ada yang memanggil.aku menoleh ke arah suara berasal.dan mataku membelak saat mendapati bu nyai yang memanggilku.
"nggeh wonten npo bu nyai.."
"tolong gawekno teh karo kopi yo..ono tamu tekan tuban.."
"owhh enggeh enggeh.."
"tolong loh yooo..."
"nggeh.."
Aku mengiyakan permintaan punyai untuk membuatkan teh dan kopi. Tamu dari Tuban? Siapa? akhir ini Pak Kyai sering kedatangan tamu yang entah dari mana. Kemarin saja Pak Kyai kedatangan Gus Yusuf, beliau adalah Gus dari Pondok Al Fatah Temboro. Yang terkenal dengan kesuksesan dakwahnya titik meski sebenarnya Pondok ini tidak ada program dakwah tapi Pak Kyai menghargai betul orang yang berdakwah. Bukan seperti orang yang salah paham kepada orang yang berdakwah, mereka tidak mendengarkan nasihat nya tapi disaat sang pendakwah melakukan kesalahan mereka ikut menyalahkan.
Seharusnya mereka harus paham, selama mereka tidak bisa seperti orang dakwah sebaiknya mereka diam. Kebanyakan orang menganggap wanita bercadar adalah orang gila. Apa mereka bisa menjamin mereka lebih baik dari orang yang bercadar.
💗💗💗💗💗💗
Aku masuk ke dapur comma menyebabkan gelas gelas dan merebus air menuangkan beberapa sendok gula.
Lagu Dia melamunkan hal yang tak jelas Kemana arahnya. Aku tiba-tiba ingin nyekar ke makam ayah dan ibu. Sudah lama aku tidak ke sana, sayangnya makam ayah dan ibu terpisah. Ayah dimakamkan di kampung halamannya Malang, begitupun dengan ibu yang dimakamkan di kampung halaman di Solo. Aku tidak bisa nyekar dua-duanya sekaligus. Jaraknya lumayan jauh.
KAMU SEDANG MEMBACA
MATSNA
RomantikTentang cinta seorang madu yang dengan diamnya hanya menuai berbagai luka.. Tentang cinta yang harus berpijak di atas cinta yang kian merana ikut melara dalam takdir yang memaksa..
