Tentang cinta seorang madu yang dengan diamnya hanya menuai berbagai luka..
Tentang cinta yang harus berpijak di atas cinta yang kian merana ikut melara dalam takdir yang memaksa..
Ketika noval lahir semua berubah. Hidupku dan segalanya. Mbak fiha sudah bekerja di rumah sakitnya sendiri. Allah benar benar memberi kenikmatan tak tanggung tanggung padaku. Caffe di jerman berjalan lancar di ambil alih jack. Dia adalah teman baikku jadi sudah sepatutnya aku membantunya. Dan pondok ini masih selalu menjadi prioritas utama setelah keluarga. Aku ingat betul bagaimana kesungguhan abah dalam mengasuh santri santri. Bagaimanapun aku harus bisa menaungi mereka meski aku tidak bisa seperti abah.
"gus.. Tolong pakaian noval di jemur yahh.. Udah pada abis ini"
Teriak mbak fiha dari dalam kamar. Yah, sepanjang hari dia akan sibuk dengan putranya yang masih berumur 6 bulan itu.
Aku beranjak dari ruang tengah untuk menghampiri mbak fiha.
"assalamu'alaikum"
Ucapku sembari masuk
"wa'alaikumsalam"
"udah di jemur? "
"udah tadi.. "
"ya udah makasih"
"sini biar aku yang jagain noval,biar tak bawa ke pondok sekalian"
"ya udah saya juga mau mandi"
Aku mengambil alih noval dari gendongan mbak fiha dan mulai membawanya jalan jalan ke pesantren.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ini dia...panggil aja gus noval hehehe.. Kek anak gua dahhh
..............
Fiha salsabilla
Aku hanya wanita biasa dan sangat biasa tapi takdir allah telah memberiku hidup yang luar biasa. Dan gus rizal, dia suami yang luar biasa untukku, ayah yang sempurna untuk noval dan anak yang berbakti untuk umi.
Ini adalah langkah yang dulu selalu kutakuti, takut akan banyak halang melintang tapi dengan doa dan ikhtiar allah memberi jalan.
"assalamu'alaikum"
Gus rizal masuk ke kamar
"wa'alaikumsalam"
Jawabku sembari mengeringkan rambut di depan cermin.
"loh noval mana? "
Tanyaku karena gus rizal kembali seorang diri. Jika sudah begini aku tau dimana noval. Dia sengaja memberikan noval pada mbak mbak di pondok. Entah apa yang dia inginkan.
"tadi langsung di minta sama mbak mbak"
"sudah saya tebak.. Selalu yahh kalo njenengan yang bawa pasti anaknya nggak pulang"