Aku mengerjap ngerjapkan mataku karena merasakan ada tangan yang menyentuh puncak kepalaku.sampai akhirnya mataku benar benar terbuka,dan aku mendapati dokter aditya sedang duduk di sebelahku lebih tepatnya di tepi ranjangku.
"dokter?"
Tanyaku pelan dengan merasakan sedikit pening di kepalaku.
"kenapa..?
Tanya dokter aditya
Tapi aku tak sanggup menjawab pertanyaannya karena air mataku mendahuluiku.keluar dengan tenangnya,perih itu tiba tiba mengahantamku lagi.
"fii...katakan ada apa.."
"hiks hiks..."
Bukannya menjawab tangisku semakin pecah hingga sedikit terdengar suara suara kecil disertai sesenggukan.
"apa saya berbuat salah...?"
Dia bertanya.
"........."
Aku menggeleng.
"apa kamjmu sakit..kalau sakit mana yang sakit.."
"........."
Aku menggeleng lagi.
Aku bangkit dari tidurku untuk duduk bersandar kepala ranjang.
"ada apa fi.."
"saya..sa..ya..hiks hiks.."
Dokter aditya langsung memelukku dengan eratnya.
"ada apa fi...jangan buat saya khawatir..saya belum apa apa sudah buat kamu nangis.."
"hiks hiks.."
Suara tangisku sedikit naik,di dada bidang itu aku menumpahkan tangisan atas keegoisan hatiku.dokter aditya mengelus kepalaku pelan,mencoba menenangkan.
Aku bergerak ingin di lepaskan,dokter aditya yang menyadari itu langsung melepas pelukannya.aku mengendalikan hatiku sebentar dan mulai menghapus air mataku.aku menarik nafas dalam dalam.
"ini..!"
Dokter aditya menyodorkan sapu tangannya.aku meraihnya dan memgahapus bersih sisa air mataku dengan sapu tangan biru langit itu.
"ada apa..? Katakan !"
Suara dokter aditya selalu lembut terdengar.
"saya harap kamu nggak akan marah setelah saya katakan semuanya..."
"insyaallah saya nggak akan marah.."
Dia menatapku dengan teduh.
"saya mungkin menerima pernikahan ini tapi untuk hati.."
Aku berhenti sebentar_
"saya masih menyimpan harapan pada hati orang lain..saya benar benar minta maaf..saya sudah berusaha memadamkan perasaan itu tapi tidak bisa.."
"belum bisa.."
Sahutnya masih tenang
"saya minta maaf...saya minta maaf..hiks hiks.."
"kamu nggak salah fi...disini nggak ada yang perlu di salahkan.."
"bagaimana jika nanti saya tidak bisa mencintai kamu.."
"saya akan tetap memperjuangkan hati kamu fi.."
"hiks hiks.."
Tangisku tumpah lagi mendengar ucapannya.
Aku meraih tangannya dan mencium punggung tangannya.cukup lama di tambah dengan dia yang sedang memegang ubun ubunku sembari merapalkan do'a do'a.air mataku membasahi punggung tangannya.setelah aku bangkit dia mengecup keningku singkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
MATSNA
RomantikTentang cinta seorang madu yang dengan diamnya hanya menuai berbagai luka.. Tentang cinta yang harus berpijak di atas cinta yang kian merana ikut melara dalam takdir yang memaksa..
