PART 51

5.7K 581 27
                                        


Hanya suara televisi yang terdengar.

Jeno sedang menonton serial kartun yang sedang tayang. Tiduran di sofa dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.

"Lo makan mie?"

Jeno bertanya. Kepalanya memutar, sedikit terangkat melihat ke arah dapur, tempat Joan duduk di meja makan sana. Baru selesai memasak sesuatu, yang rupanya mie instan. Baunya menggelitik masuk ke hidung Jeno.

"Ya, gue lagi pengen. Kenapa?" tanggap Joan.

"Gak."

Jeno mencoba kembali acuh, menatap layar TV. Tapi sialan, harum mie bikin perutnya terasa keroncongan.

"Jo, gue mau."

Jeno kembali memutar kepala, kali ini bersama tubuhnya yang mengangkat. Hasratnya ingin mengecap makanan instan bermicin itu lagi, ternyata tak bisa ditahan.

"Lo gak boleh makan mie," sahut Joan tanpa melihat Jeno sedikit pun, fokus menyeruput kuah mie yang pasti gurih itu.

"Dosa lo, Jo. Gue udah nyium bau mie yang lo bikin. Lo gak tahu ada hadist. Janganlah kamu menyakiti tetanggamu dengan bau masakan kuah yang direbus di dalam periukmu, kecuali kamu memberi kuah kepada tetanggamu sekadarnya."

Joan melirik, mendengar Jeno yang menceramahi dengan dalih panjang, jelas, dan benar. Belajar dari mana dia?

"Tahu dari mana lo?" tanya Joan.

"Si Abi sering ceramah kek begitu," sahut Jeno.

Joan lantas terkekeh. Dasar, Abi ternyata.

"Lagian, lo bukan tetangga gue," kata Joan. "Lo gak boleh makan mie instan," tegasnya kemudian.

Tatapan mata Jeno menjadi tajam. Joan balas menatapnya lurus, tak takut sama sekali. Kemudian tatapan tajam itu berubah menjadi sayu, memelas.

"Dikit aja, Jo, dikit," pintanya. "Cacing gue kasian tar ileran."

"Mana ada cacing ileran."

Jeno mendesah. Ingin menyerah, tapi indomiiiiieee....

"Dikit aja, Jo. Lima centi dah mienya, lima centi. Kuahnya setengah sendok aja. Jooooo ...." Jeno menatap Joan dengan tatapan sangat melas.

Oke. Kasihan juga. Nanti cacing di perut Jeno beneran ileran. Joan akhirnya beranjak membawa mangkuk mienya, diiringi helaan napas panjang.

Senyum Jeno langsung mengembang.

Joan berdiri di depan sofa, sedikit membungkuk mensejajarkan tubuh dengan Jeno. Dililitnya mie yang kriting itu dengan garpu. "Dikit aja," katanya sembari menyodorkan ke mulut Jeno.

Jeno tersenyum begitu si kriting kuning yang gurih itu dikunyah di dalam mulutnya. "Kuahnya, dong. Pake kornet sama telornya, pelit amat lo."

Joan menurut, memotong telor dan remahan daging sapi olahan itu, sedikit.

Jeno membuka mulut lebar. Mengunyah kemudian mengacungkan dua jempol.

"Indomie di tangan chef rasanya makin juara, ya," pujinya.

"Nih, sayurnya." Joan menyendok pakcoy hijau segar yang sengaja tak dia potong.

"Ogah."

Jeno menolak sembari refleks menjauhkan kepalanya.

Joan mendecih, giliran sayur saja.

"Udah, ya. Lo jangan mau lagi. Gue mau abisin di sana."

"Satu sendok lagi."

He's Jeanno (Selesai) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang