Bab 7 - cemburu

817 70 8
                                        

"Kenapa kamu kerja di sini sih, Jo? Apa kiriman uang dari Bapak nggak cukup?" tanya Salima heran, ketika Jodha sudah selesai dari pekerjaannya.

Saat itu Salima dan Jallal masih nongkrong di café Le Marais, Les Philosophes, café tempat Jodha bekerja, yang terletak di kawasan bohemian megah yang merupakan kafe Paris ikonis.

Dengan konsepnya yang vintage, maka tak heran bila banyak barang-barang kuno yang dipajang di sana dan kafe ini ideal untuk bersantai sambil melihat orang-orang berlalu-lalang di jalan.

"Nggak gitu juga, kak. Jadi tu ceritanya gini, dulu waktu aku datang ke sini, ke negara yang nggak ada bahasa Inggrisnya ini, aku jadi serasa orang asing diantara mereka, karena nggak bisa komunikasi sama siapapun!"

"Tapi kan kamu udah les bahasa Perancis, sebelum kamu ke sini kan?" sela Salima sambil menyesap kopi espresso pesanannya, sementara Jallal hanya terdiam, mengaduk-aduk kopi espressonya dengan sendok, menyimak pembicaraan kakak beradik ini sambil sesekali melirik ke arah Jodha, membuat Jodha jadi salah tingkah lagi.

"Iyaa sih ... aku udah les bahasa Perancis, tapi kan ada juga kata-kata yang nggak aku ngerti. Apalagi bahasa Perancis gitu lhoo, jadi kadang ... kalau aku nggak tahu ngomongnya, aku pake bahasa tubuh gitu, pokoknya segala macam gestur deh! Supaya bisa ngobrol sama mereka, baik di apartemen atau di kampus."

Jallal tersenyum, menyimak celoteh Jodha dengan mimik yang lucu dan menggemaskan, membuat Jodha jadi semakin salah tingkah di depannya.

Apalagi ketika Salima menggelanyut manja di lengan Jallal, perasaan Jodha jadi semakin tidak karuan. 

Jodha akui dirinya cemburu, apalagi ketika Jallal mencium lembut rambut Salima sambil menatap tajam ke arah Jodha, membuat dadanya berdesir sakit.

"Teruuus ..." sela Salima sambil bermanja-manja di lengan Jallal sambil merapatkan tubuhnya di pelukkan Jallal yang membuka tangannya untuk memeluk Salima, membuat Jodha semakin gelisah. Jallal bisa melihat gurat cemburu di mata Jodha.

"Yaaa ... jadi ..." Jodha mencoba menarik nafas untuk menetralisir emosinya. "Ini ... jadi tantangan buatku, supaya bisa ngobrol pake bahasa Perancis!"

"Ini suamiku faseh banget bahasa Perancis dan Jermannya, iya kan, sayang?" ujar Salima sambil mencium pipi Jallal dengan perasaan bangga, Jallal tersenyum lalu mencium balik pipi Salima dengan lembut, dada Jodha berdesir kembali, sakit rasanya.

Salima pun tersenyum lebar, ada rona kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.

"Mereka pasti sudah melakukan malam pertama," bathin Jodha resah.

"Kak Salima terlihat sudah biasa bermanja-manja sama Jallal, pasti mereka sering melakukannya. Ya iyalah! Mereka kan sudah suami istri, sudah sewajarnya mereka melakukan itu, gimana sih kamu, Jodha!" rutuk Jodha dalam hati.

"Vous êtes jaloux (kamu cemburu)?" Jodha tersentak kaget, ketika Jallal buka suara.

"Quelle(apa)?" sahut Jodha bingung.

"Du bist eifersuchtig (kamu cemburu)?" sela Jallal lagi sambil menatap wajah Jodha lekat, mata elang itu mengujam tepat ke jantungnya, membuat Jodha jadi semakin resah.

"Kalian ngomong apaan sih?" Salima ikut menyela sambil merapatkan tubuhnya dipelukkan Jallal dengan memegang lengan Jallal yang melingkar diperutnya.

"Aku cuma memuji Jodha aja, bahasa Perancisnya juga sudah mulai faseh!"

"Nggak juga, makanya aku kerja di café ini. Biar aku terbiasa ngobrol sama mereka pake bahasa Perancis, jadi itu alasannya aku kerja di café ini. Kebetulan kan aku sering lewat sini kalau mau kampus, dari apartemenku kan deket banget. Trus aku lihat ada lowongan pelayan gitu, ya udah aku nyoba nglamar, trus diterima jadi pelayan freelance. Jadi cuma tiga jam aja kerjanya dari jam 6 sampai jam 9 malam atau dari jam 5 sampai 8 malam, tergantung jadwal. Tapi yang pasti sore sampai malam."

SCANDALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang