BAB 55 - pencarian

643 61 11
                                        

"Makan siang apa kita hari ini?" tanya Salima yang tiba-tiba muncul siang itu di ruang makan rumah Jodha, saat Jodha dan Jallal sedang asyik menikmati makan siang bersama.

"Heii ... kakak! Ayoo, sini ... makan bareng! Mbok Nah bikin rendang sama sayur Nangka, enak bangeet!" ajak Jodha sambil melambaikan tangannya ke Salima yang masih berdiri di ujung meja makan.

"Ayoo, Salima! Jangan berdiri saja di situ, ayoo sini!" Jallal menimpali ucapan Jodha sambil menyeringai lebar. Salima pun hanya tersenyum sambil berjalan menghampiri mereka dan duduk di sebelah Jallal, sementara Jodha duduk di sisi lainnya.

"Hmm ... lihat dari bentuk dan aromanya saja, kelihatannya enak sekali rendang ini," sahut Salima sambil mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan rendang special buatan Mbok Nah. "Semua masakan Mbok Nah itu memang enak! Pantas aja Jodha minta Mbok Nah ikut dengannya, biar dimasakin yang enak-enak terus ... iya kan, Jo?" goda Salima sambil menoleh ke Jodha yang tersenyum lebar.

Jodha pun terkekeh mendengar sindiran kakaknya, sementara Jallal menyeringai lebar, melihat kedua istrinya rukun dan saling bercanda satu sama lain.

"Soalnya, kakak tahu sendiri kan? Kalau aku itu paling cocok sama masakan Mbok Nah! Jadi untuk mengamankan perutku agar selalu kenyang dan enak, aku ajak Mbok Nah ke sini!" sahut Jodha yang nggak mau kalah sama Salima, sang kakak.

"Oh ya, Jo ... rencananya besok kakak mau ke tukang jahit langganan kita untuk bikin bed cover gitu untuk tempat tidur, rencananya aku mau buat bed covernya untuk semua ranjang di rumah kita, termasuk ranjang kamu."

"Hmm ... boleh ... boleh ... rasanya aku juga perlu tuu!" sahut Jodha sambil menyesap air putih di gelas.

"Okee, kalau gitu aku minta ijin masuk ke kamar kamu yaa ... karena aku kan kudu ngukur panjang dan lebarnya," ujar Salima penuh semangat. Salima merasa senang karena itu artinya rencananya berhasil, Salima bisa keluar masuk ke dalam kamar Jodha dan mencari buku diary adiknya itu.

"Okee, nggak masalah! Nanti aku akan bilang ke Mbok Nah, untuk ngasih kartu aksesnya ke kakak," sahut Jodha tanpa rasa curiga sedikit pun, sementara Salima menyeringai senang.

"Okee ... makasih, Jodha ... nanti aku akan telfon tukang jahitnya untuk datang besok, pas kamu ke kantor yaa. Maksudnya supaya dia bisa kerja lebih maksimal." Jodha hanya mengangguk menyetujui perkataan Salima.

"Mama ... Mama ... Mama ..." Tiba-tiba Salim berteriak sambil memanggil-manggil Salima dan berlari kearahnya.

"Heii ... Salim ... anak kesayangan Mama sudah pulang sekolah, ayoo kasih salam dulu sama Papa dan Tante Jodha," ujar Salima setelah Salim selesai mencium punggung tangannya, Salim pun mengangguk.

Salim kemudian beralih mencium punggung tangan Jallal dan Jodha. Jodha terharu menatap anaknya ini, ingin rasanya Jodha memeluk Salim dan mendengar Salim memanggilnya dengan sebutan Mama, tapi rasanya hal itu tidak mungkin.

"Oh ya ... Salim belum makan kan? Tante Jodha suapin yaa ...?" pinta Jodha sambil mengambil piring. Namun, Salima segera mengambilnya dan menaruhnya di atas meja. Jodha tertegun.

"Salim belum bisa makan rendang, Jo ... terlalu pedas untuk dia. Biar Salim makan sop iga saja di rumah, kalau gitu kami pamit yaa. Ayook, Salim ... kita makan siang di rumah saja yaa, lagian kamu belum ganti baju kan? Ayook ..." Salima segera menggandeng tangan Salim yang menatap ke arah Jodha, kemudian berlalu meninggalkan mereka.

Jodha mendengkus kesal dengan ekspresi wajahnya yang cemberut. "Kenapa Kak Salima seperti itu? Tentu saja aku nggak akan ngasih rendang ke Salim, aku tahu dia belum bisa makan makanan pedas. Aku kan mau kasih lauk yang lain ... masih ada ayam goreng kan?" gerutu Jodha kesal.

SCANDALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang