BAB 32 - sebuah rencana

457 53 6
                                        

Di Paris ...

Sejak hari itu Jodha hanya fokus memikirkan kesehatan bayi kecilnya, dari hari ke hari ... Jodha selalu memantau perkembangan Salim yang dirawat dalam sebuah tabung incubator. Jari-jari mungilnya selalu menggenggam jari telunjuk Jodha erat, ketika Jodha memberikan ASI melalui pipet plastic yang diteteskan perlahan-lahan ke mulutnya, seolah-olah Salim tahu kalau ibunya yang menyuapinya.

Jodha hanya bisa menangis haru setiap kali merawat Salim kecil, tubuhnya yang begitu kecil dan lemah dengan kabel-kabel yang menempel di sana sini, membuat Jodha selalu bertekad agar selalu kuat, kuat untuk anaknya, agar anaknya juga kuat dan bisa melampui semua rintangan ini.

Sementara itu di Jakarta ...

Jallal lebih suka menyibukkan dirinya di kantor, pulang selalu larut malam, sikapnya juga banyak berubah, tidak ceria atau jahil seperti dulu. Jallal lebih banyak merenung dan tidak banyak bicara. Perubahan sikapnya ini mulai dirasakan oleh Salima, apalagi ketika Jallal tidak semesra dulu.

"Haiii, sayang ... mau pulang jam berapa?" tanya Salima malam itu ketika melihat ruang kerja Jallal yang masih terang benderang, sambil menaruh tasnya di atas meja kerja Jallal.

"Mungkin nanti ... masih ada beberapa berkas yang belum aku cek! Kamu sendiri, tumben belum pulang?" tanya Jallal sambil menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya.

"Aku emang sengaja, nungguin kamu pulang. Kita pulang bareng yaa ... nggak enak tidur sendirian mulu tiap malam," sahut Salima sambil duduk di pangkuan Jallal dan mulai mendekatkan dahinya di dahi Jallal. Salima mengulas senyumnya yang paling manis sambil membelai wajah suaminya lembut, Jallal hanya tersenyum tipis.

Tanpa ragu-ragu Salima lalu mengecup bibir Jallal yang merah, Jallal hanya terdiam dan tidak memberikan respon apa-apa, hingga akhirnya ketika Salima memaksa, Jallal pun menyerah dan melumat bibir Salima perlahan.

Namun, tiba-tiba Jallal segera melepasnya dan membuang muka, menjauh dari Salima, ketika wajah Salima berubah menjadi wajah Jodha. Jallal jadi enggan meneruskan cumbuan mereka.

"Maafkan aku, Salima

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Maafkan aku, Salima ..."

"Kenapa, sayang ...? Kamu kenapa?" tanya Salima penasaran, hatinya sedikit terluka ketika lagi-lagi Jallal menolaknya. Sejak pulang dari Berlin, sikap Jallal jadi aneh, tidak seperti dulu. Jallal yang biasanya selalu mesra, kini jadi dingin dan sering marah.

"Aku nggak papa ... cuma sedikit pusing," sahut Jallal sambil pura-pura memijat keningnya yang sebenarnya tidak pening.

"Aku pijat yaa ... biar pusingnya berkurang ..."

"Nggak usah ... paling nanti juga baikkan, aku mungkin capek aja," sahut Jallal lagi sambil memejamkan mata.

"Atau ... aku bikinin teh panas! Teh panas biasanya juga bisa meredakan rasa pening, aku buatin dulu yaa!"

SCANDALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang