BAB 15 - perjalanan

651 57 7
                                        

"Mister Jallal ada di kamar 1001, Nona bisa langsung ke kamarnya, Mister Jallal sudah menunggu di atas. Nanti biar kopernya saya antar ke atas," ujar sopir Jallal yang bule asal Jerman, tapi faseh berbahasa Indonesia dengan logatnya yang cadel.

Malam itu akhirnya Jodha dijemput oleh sopir suruhan Jallal, yang bernama Oscar dan mengantarkannya ke hotel Crowne Plaza, tempat dimana Jallal berada.

"Terima kasih, Oscar. Aku ke atas yaa ..." sahut Jodha sambil membuka pintu mobil dan bergegas masuk ke dalam hotel.

Malam itu hotel Crowne Plaza terlihat cukup ramai, rupanya rombongan turis asal China baru saja datang dan menginap di hotel tersebut.

Sepertinya mereka ini rombongan piknik sebuah perusahaan, karena mereka ramai-ramai foto bersama dengan sebuah spanduk yang dibentangkan di depan mereka. Jodha hanya tersenyum melihat tingkah mereka yang lucu-lucu, sambil melangkah gontai ke arah lift.

"Jodha, how are you?"

Jodha menoleh ke arah suara yang tiba-tiba memanggilnya. Dilihatnya seorang pria bule dengan perawakannya yang tinggi, nampak berdiri di depan Jodha. Sepertinya Jodha kenal dengan pria bule ini, dia nampak familiar di mata Jodha.

"Damian ...?" 

Laki-laki yang bernama Damian itu pun mengangguk dengan senyumannya yang lebar dan bergegas menjabat tangan Jodha erat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Laki-laki yang bernama Damian itu pun mengangguk dengan senyumannya yang lebar dan bergegas menjabat tangan Jodha erat.

"Kamu kemana saja? I'm so sorry ... I try to speak bahasa, just like you," ujar Damian dengan kedua bolamatanya yang berbinar terang dan senyum manisnya, membuat bule asal Amrik ini semakin terlihat tampan.

"Your bahasa is good! Try more and more practice, kamu pasti bisa!" puji Jodha tulus sambil mengacungkan ibu jarinya, setelah melepas jabatan tangan Damian. 

"Kamu kemana saja? Kenapa saya tidak pernah lihat kamu di café lagi? Kamu sudah tidak kerja di sana?" tanya Damian dengan logat cadelnya, yang rupanya salah satu pelanggan café dimana Jodha bekerja dulu.

"Iyaa, saya sudah keluar. Saya nggak kerja di sana lagi."

"Kenapa? Banyak yang rindu sama kamu, teman-teman saya juga, lalu mau apa kamu di sini?" tanya Damian penasaran.

"Aku mau ... tunggu, kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Jodha penasaran, karena biasanya di jam-jam segini Damian suka sekali nongkrong di cafe tempatnya kerja. 

"Pardon ... maaf I can't understand," sahut Damian dengan raut mukanya yang bingung. Jodha pun terkekeh, tertawa kecil. 

"I mean ... what are you doing here? Do you have to meet someone maybe?" 

Damian mengangguk-anggukkan kepalanya. "Yaaa ... yaaa I can understand, saya mau apa di sini? That's you mean ...?" Jodha mengangguk sambil tertawa kecil. 

"Yes! Itu maksud saya ... tha's my point!"

"Okee ... what I have to say? Hmm ..." Damian terlihat bingung dan mencoba mencari-cari kata yang tepat. "I have to meet someone, saya ada urusan bisnis sama seseorang," sahut Damian dengan logat cadelnya. "So ... what are you doing here?" 

SCANDALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang