Bab 3 - cinta yang salah

723 42 1
                                        

Di rumah Jodha ...

Jodha kembali menyeka ke dua matanya yang terasa basah, semua kenangan masa lalu selalu membuatnya menangis, terutama permintaan ibu yang cukup berat, yang harus dilakukan demi kakak kandungnya sendiri, Salima.

Malam itu hujan masih turun dengan deras di luar sana, suara riuhnya pesta masih terdengar samar-samar di bawah, tiba-tiba pintu kamarnya terkuak kembali, dilihatnya ibu berdiri mematung sambil memegang handle pintu kamar.

"Jodha ... kamu nggak papa, sayang ...?"

Bagaimana bisa Bu Meinawati bertanya seperti itu ke Jodha? Karena Ibu tahu benar apa yang sedang dirasakan oleh putrinya ini.

Ingin rasanya Jodha menjerit dan berteriak dengan lantang ke Ibu sambil berkata kalau dirinya tidak baik-baik saja.

Namun, lagi-lagi yang keluar dari bibir mungilnya hanyalah sebuah ucapan klise yang menyenangkan hati sang ibu.

"Aku nggak papa, Bu ... cuma ... pusing sedikit, mungkin karena kehujanan tadi di luar, jadi agak kurang enak badan," sahut Jodha sambil pura-pura memijat keningnya pelan.

Jodha teringat kalau sebenarnya tadi setelah ijab kabul pernikahan Salima dan Jallal, rencananya akan diselenggarakan di area kebun belakang, dengan tema pesta kebun, tapi gagal, gara-gara hujan yang tanpa permisi tiba-tiba mengguyur kediaman mereka.

Para tamu pun bergegas masuk ke dalam rumah. Untung saja hari itu dekorasi ruangan di rumah sudah disiapkan dan disetting sedemikian rupa sebagai rencana kedua untuk pernikahan Jallal dan Salima, sehingga kemeriahan pesta pernikahan mereka tidaklah berkurang.

Semua tamu masih bisa enjoy menikmati acara demi acara yang digelar sambil menikmati makanan dan minuman yang disajikan di sana.

Namun, sepertinya alam semesta ini enggan memberikan restu untuk pernikahan pasangan sejoli itu, karena hujan tidak juga berhenti sampai malam ini.

Padahal sebentar lagi ada pesta resepsi yang akan diselenggarakan di sebuah gedung yang sudah mereka pesan jauh-jauh hari.

"Kamu sudah minum obat? Apa masih sakit?" tanya Bu Meinawati sambil meraba kening Jodha, untuk mengecek kondisi putrinya ini.

"Sudah nggak kok, Bu ... sudah enakkan, aku nggak papa. Apa semuanya baik-baik saja, Bu? Bagaimana resepsinya, jadi ...?"

"Jadi doong! Sebentar lagi kami mau berangkat, kamu bisa ikutan kan? Kalau kamu sudah baikkan, kamu harus datang. Jangan bikin kakakmu sedih, dia pasti bakal tanya macam-macam tentang kamu kalau kamu nggak nongol di hari pernikahannya," sahut Bu Meinawati dengan senyumnya yang mengembang lebar.

"Jadi Ibu harap, datang yaa nanti ... dan satu lagi ... terima kasih ... akhirnya kamu bisa meyakinkan Jallal untuk menikah dengan kakakmu, sekali lagi Ibu ucapkan terima kasih ... terima kasih banyak, sayang," sahut Bu Meinawati sambil menggenggam tangan Jodha lembut dan mencium kening putri keduanya ini.

Jodha hanya tersenyum dan membalas genggaman erat tangan Ibunya, Jodha berusaha meyakinkan ibu kalau semuanya akan baik-baik saja. 

Dan malam itu benar saja, dengan diwarnai rintik-rintik hujan yang masih mengguyur kediaman mereka, Jallal dan Salima melangsungkan resepsi pernikahannya di sebuah gedung yang di dekorasi dengan konsep yang mewah, persis seperti permintaan Salima.

Dari kejauhan Jodha bisa melihat betapa serasinya pasangan suami istri yang baru saja ditasbihkan ini.

Dengan model baju pengantin yang simple dan elegan warna putih gading yang dipadupadankan dengan warna emas, membuat penampilan Salima semakin memukau dan cantik, serasi dengan ketampanan Jallal yang hanya mengenakan setelan kemeja, vest dan celana kain dengan warna yang senada hitam dan putih gading, plus dasi kupu kupu warna emas sebagai aksesoris pelengkapnya.

SCANDALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang