chapter 16

620 38 0
                                        

"ran ini dari mama" Ardi datang ke taman dimana Raney sedang duduk-duduk sambil bersandar dibawah bangku sedangkan Bara diatas bangku.

Aneh bukan? Ya begitulah Raney dia tau tempat.

"Bilangin makasih" Raney mengambil paper bag yang dibawa Ardi.

"Saya Bara!" Bara mengulurkan tangannya tapi langsung ditarik oleh Raney.

"Gak usah kenalan sama pembunuh" sinis Raney kemudian menarik bara agar tidak berhadapan dengan Ardi.

"Maksud kamu pembunuh?" Tanya Bara bingung.

"Lo gak akan paham dan gue males jelasin"

Flashback on.

Raney memasuki rumah Arka dengan membawa banyak ikat rambut, seperti biasa Raney suka mendandani rambut Arka yang panjang menurutnya.

Ciri khas cowok bad.

Menaiki anak tangga untuk masuk ke kamar Arka Raney mengurungkan niatnya karena melihat punggung Arka yang memasuki kamar lain.

"Kaka" panggil Raney tidak kunjung mendapat sahutan hingga laki-laki itu masuk kedalam sebuah kamar.

Berjalan pelan-pelan seperti seorang maling Raney mengikuti Arka dari belakang, setelah pintunya tertutup Raney membuka pintu kamar itu menampilkan wajah Arka yang bersembunyi dibalik kaosnya.

Arka sedang berganti baju.

Raney mendekat kearah Arka kemudian memeluknya. Arka yang terkejut langsung mengehentikan aktivitas ganti baju nya dan langsung membawa Raney kedinding kamar dan menahan lengannya.

Raney mendongak menatap Arka yang tampak berbeda walaupun dia kurang menyukai gaya Arka yang sekarang.

"Kaka kenapa potong rambut?, terus kenapa pakai jas?, terus kenapa dikamar ini banyak buku? Kaka suka buku?" Tanya Raney meringis karena Arka menekannya lebih keras didinding.

"Saya bukan Arka" kata laki-laki itu dingin, dia melepaskan Raney "pergi dari kamar saya!" Titahnya.

"Enggak mau! Raney tuh kesini mau kepangin rambut kaka, Raney juga mau minjem baju kaka lagi soalnya baju kaka ada harumnya"

Raney terus mengoceh tentang maksud kenapa dia kesini sedangkan laki-laki itu hanya mendengarkan.

Dia keluar dari kamarnya setelah berganti baju di kamar mandi, diikuti oleh Raney.

"Kaka suka buku?" Raney ikut masuk kedalam ruangan besar dengan banyak buku disetiap rak dan juga meja-meja disini.

Laki-laki itu duduk di sebuah kursi besar diikuti oleh Raney yang duduk dibawahnya sambil membaca buku dongeng yang didapatnya di bawah meja.

"Kamu kenapa dibawah?" Tanya laki-laki itu tanpa mengalihkan pandangan pada buku yang dibacanya.

Laki-laki itu dibuat melongo saat dia melepaskan pandangan dari buku yang dia baca dan memandang Raney yang sudah terlelap dengan manisnya di karpet.

"Ini sebabnya saya membenci wanita mereka menyebalkan" laki-laki itu mengangkat Raney dan meletakkan di sofa panjang yang ada disana. Saat dia menurunkan Raney gadis itu tidak mau melepaskan tangannya sehingga dia harus menemaninya tidur.

"Ardi!" Panggil seorang wanita paruh baya kedalam ruangan anak bungsunya.

Ardi menoleh kemudian mengangguk sebagai jawaban. "Ada apa ma?" Tanya Ardi ingin melepaskan tangannya tapi Raney masih terus memeluk tangannya.

Olivia terkekeh "jangan kamu ambil Raney, dia pacarnya adik kamu" kata Olivia kemudian mengelus puncak kepala Raney dan mengusap punggungnya sehingga Raney melepaskan tangannya dan memeluk Olivia.

"Aneh" desis Ardi kemudian keluar dari sana.

"Keduanya berbeda namun memiliki rasa yang sama" batin Olivia.

***

Raney bangun dari tidurnya dan mendapati Arka sedang mengelus surai nya dan menyelipkan anak rambut yang jatuh ketelinga Raney.

Raney duduk dan langsung berjalan mundur dibelakang rak hingga dia menubruk rak tersebut dan menyebabkan buku-buku jatuh, Raney terpejam tapi setelah beberapa saat dia tidak merasakan benda jatuh ditubuhnya tapi malah merasakan deru nafas yang hangat.

"Kaka gak pa-pa?" Raney memeluk tubuh Arka yang dijatuhi oleh buku-buku tebal disana membuat laki-laki itu terkekeh kemudian mengusapi punggung Raney penuh kasih.

"Kenapa lari hmm?" Tanya Arka dengan suara beratnya, Raney mendongak dan mengerjap beberapa kali.

"Kaka kok bisa ganti lagi? Tadinya ran lihat kaka rambutnya pendek sama disisir rapi, terus pake jas tapi udah diganti sih tadi Raney amsuk kekamar kaka tali kok kamar kakaknya ganti, terus Raney juga gak pernah liat kaka pegang buku, tapi kenapa kaka suka buku?"

Arka menangkup kedua pipi Raney "sha gini yang kamu lihat tadi bukan aku, Arka yang ada didepan kamu ini Arka yang asli, yang kamu lihat tadi Ardi kembaran sekaligus kakak aku. Kamu gak diapa-apain kan sama dia?"

Raney menunjukkan tangannya yang memerah karena dicekal oleh Ardi tadi.

"Oh shit Ardi" gumam Arka kesal, dia membopong tubuh Raney kleuar dari sana.

"Kaka aku kesini mau main rambut-rambutan sama kaka" Raney mengeluarkan ikat rambut warna warni di kantong bajunya.

Arka tersenyum "maaf ya, aku tadi ada urusan sama anak-anak, makanya gak ada dirumah. Kenapa gak bilang kalau mau datang?" Tanya Arka menurunkan Raney di tepi kolam.

"Ran udah kirim pesan"

Arka mengecek ponselnya dan ternyata memang benar Raney sudah mengirimkannya pesan tapi Arka tidak mengecek ponselnya tadi.

"Ardi jangan sentuh Raney lagi lo udah bikin tangan dia merah" ucap arka saat Ardi lewat didepannya.

Ardi menoleh "gue gak berniat nyentuh dia, dia yang sembarangan masuk ke kamar gue. Dan satu hal lagi jangan lo kira selera kita sama, lo sama dia cocok dan gue suka yang elegan apaan rata" Ardi melirik dada Raney.

Raney berkaca-kaca tubuhnya bergetar setelah itu dia langsung menangis "huwaaaa kak ardi mau gedeinnya gimana?" Tangis raney pecah dan itu membuat Ardi tertawa cukup keras, adiknya memilih gadis polos untuk dipacari ternyata.

Ardi berbisik ditelinga Raney "minta sama Arka"

Raney menghentikan tangisannya kemudian beralih menuju Arka yang mengerutkan keningnya tak paham "kaka bantuin ran besarin ya"

"Ardi bangsat!"

Flashback on

"Bara pegangin kaki gue!" Kata Raney lalu berbaring ditaman yang langsung dituruti oleh Bara.

Ia mulai melakukan gerakan sit up, sedangkan Bara memegangi kakinya dan melihat kearah lain sebisa mungkin agar tidak terjadi kontak mata dengan Raney.

Setelah beberapa menit Raney selesai dengan  olahraga nya diikuti Bara yang juga sudah selesai memegangi Raney.

"Bara..."

"Bara..."

"Bara..."

"Bara.."

Jujur Bara kelelahan dengan Raney yang terus menyuruhnya, dia seorang dokter bukan atlet yang bisa menyamai lari, dan segala aktivitas Raney yang cukup berat.

***

"Cape?" Tanya Raney saat melihat Bara bersandar disofa rumahnya sedang memejamkan mata.

Bara hanya mampu mengangguk.

"Makanya jangan ngikutin gue terus, lo pikir gak risih"

"Saya hanya mau menolong" kata Bara.

"Gue gak butuh" Raney melenggang pergi dengan santai menuju kamarnya.

"Suatu saat kamu yang bakalan butuh saya" batin Bara.


raneysha (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang