#LavenderWritersSeason4
#TemaMemperjuangkan
#Kelompok4
•••
Hidup dengan segala kemewahan bukan kunci suatu kebahagiaan. Bergelimang harta tak jadi jaminan jika pada akhirnya kamu hidup sendirian, kesepian, dan penuh tekanan. Namun, hidup tetaplah hi...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi harinya, dengan wajah yang bersinar, secerah mentari pagi, yang Zovia lakukan pagi ini setelah selesai mandi adalah membereskan buku nya.
Bibir mungil yang terus tersenyum lebar, tak membuat Zovia berhenti bergumam lirih menyanyikan lagu favoritnya, 'Attention'.
Selesai dengan merapikan pakaian sambil bercermin, Zovia mengambil tas nya, lalu ia sampirkan di pundak kanan nya. Dengan riang ia menuruni tangga, sampailah pada meja makan yang sudah kosong.
Bibir mungil yang tersenyum lebar itu mulai perlahan-lahan pudar. Tergantikan dengan senyuman getir miliknya yang berbeda dari sebelumnya.
"Kenapa mereka tak menungguku?" tanya Zovia pada diri sendiri, dengan lesu ia menuruni tangga terakhir dan berjalan menuju meja makan sambil melamunkan sesuatu.
"Non Zovi?" pertanyaan Bi Imeh tak membuat Zovia sadar dari lamunannya. Bi Imeh yang melihat jelas dari belakang, mendekati Zovia sedang melamun. Bi Imeh menatap sedih Zovia.
"Non?" Tepukan dibahu kiri Zovia membuat Zovia terkejut bukan main. Wajah yang sudah pucat, semakin tambah pucat.
Zovia memegang dadanya sambil menoleh ke kiri. "Bi Imeh? Kirain siapa, buat Zovi kaget aja. Untung gak jantungan,"
Bi Imeh yang melihat wajah panik Zovia, terkekeh kecil sambil menepuk-nepuk pundak Zovia. "Non...non. Lagian masih pagi, lamunin apa sih? Udah, yuk sarapan," ajak Bi Imeh yang langsung diangguki samar oleh Zovia.
Selagi Bi Imeh sibuk dengan urusannya, yaitu merapikan meja makan untuk Zovia, lain halnya dengan Zovia. Zovia asik melamun lagi dan lagi sambil menatap nanar di depannya.
Bi Imeh yang tersadar tak ada tanggapan dari Zovia, dia menoleh dan menghela napas. Dalam batin, Bi Imeh selalu mendoakan kesehatan Zovia, terutama respon keluarga untuk Zovia, yang cenderung tidak peduli pada kesehatan anaknya sendiri.
"Bi? Mama, papa sama Evelyn kemana?" tanya lirih Zovia dengan pandangan kosong. Tangan Bi Imeh yang sedang mengambil lauk untuk Zovia, terhenti. "Udah berangkat duluan, Non," ucapan gugup Bi Imeh membuat Zovia menahan tangis, jika tak ada Bi Imeh, ingin sekali Zovia meluruhkan air matanya sekarang.
Sakit.
Itu yang Zovia rasakan. Sakit batin dan fisik bercampur aduk. Apa tidak ada satu orangpun keluarga ini untuk peduli? Tidak adakah yang bertanya bagaimana kondisi kesehatannya sekarang? Apa mereka tidak senang karena d