Assalamualaikum para readers:)
"Jadilah seorang pemaaf. Karena dengan memaafkan kesalahan orang lain, hati akan menjadi tenang"
•Author•
Mendengar pertanyaan Rafael yang tak kunjung dijawab oleh Aina, membuat kening Ghina berkerut. Ia sedikit bingung dengan sikap anak nya yang terbilang cuek itu. Ia pun berjalan ke brangkar Aina
"Sayang, itu Rafael lagi bertanya loh. Kok nggak dijawab?" Tanya Ghina sambil mengelus kepala Aina yang tertutup khimar.
"Baik" jawab Aina dengan nada dingin.
Seketika, suasana di dalam ruangan menjadi hening. Semua larut dalam pemikiran masing-masing.
"Na, semoga cepat sembuh ya. Maaf, kita nggak bawa apa-apa" ujar Naufal.
"Aamiin, terimakasih banyak ya atas doanya. Iya, nggak papa kok" tutur Aina diiringi dengan senyuman yang manis.
"Tiba sama Naufal, kok lo jadi hangat sih?" Dengus Rafael dalam hati. Tetapi saat melihat senyuman Aina, sontak membuat hatinya tenang dan detak jantungnya berdetak lebih cepat. "Ai. please, jangan senyum. Gue nggak kuat lihatnya" kata Rafael dalam hati.
"Na, lo sakit apa? Perasaan kemarin baik-baik aja" tanya Kevin yang belum mengetahui penyakit Aina.
"Tipes dan terlalu banyak pikiran" jawab Aina.
Kening Danil berkerut. Ia jadi teringat kejadian dimana Aina dibentak oleh Rafael.
"Apa karena pengaruh kemarin?" Tanya Daniel.
Mendengar itu, Aina gelagapan sendiri. Tidak mungkin kan ia menjawab yang sebenarnya. Bahwa ia memang sakit karena terlalu memikirkan ucapan Rafael kemarin. Terlebih, disini ada kedua orang tuanya.
"Emm, nggak kok. Aku sakit karena memang udah takdir dari Allah. Mungkin aku sakit karena terlalu banyak dosa" ujar Aina.
"Apa hubungannya sakit dengan dosa?" Kini Rafael yang angkat suara. Itung-itung, cara ini ia lakukan agar Aina bisa berbicara kepadanya.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Rafael, Aina menghela nafas terbih dahulu. Ia sebenarnya malas untuk berbicara dengan Rafael. Tetapi, karena ini menyangkut tentang ilmu, maka sebisa mungkin ia membagi ilmunya kepada orang lain.
"Dengan sakit, Allah akan menggugurkan dosa kita. Hal ini sesuai dengan hadis yang artinya:
"Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanaan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya". (HR. Bukhari no. 5641).
Mendengar penjelasan dari Aina, membuat Ghina dan Vino bangga. Karena anaknya mampu melibatkan antara kehidupan sehari-hari dengan Allah. Mereka sangat bersyukur karena Allah telah menghadirkan Aina di dalam hidup mereka.
Sementara Rafael, tiba-tiba saja hatinya bergemuruh. Rasa kagumnya terhadap Aina semakin besar. Ia menyunggingkan senyum, hanya sedikit. Bahkan, hampir tak terlihat. "Ini yang gue kagumi dari lo. Lo mampu membuat hati ini sejuk saat mendengar hadits atau ayat Al Qur'an yang keluar dari bibir lo" batin Rafael.
Bukan hanya Rafael yang kagum, tetapi para sahabatnya juga. Karena, mereka baru menemukan seorang wanita yang sangat mengerti ilmu agama seperti Aina.
"Waaah, Keren banget. Gue baru tau masa" kagum Naufal.
"Iya, gue juga baru tau. Walaupun hanya ketusuk duri, tapi dosa juga digugurkan." ujar Kevin semangat.
"Vin, lo sakit gih. Kan dosa lo banyak tuh, jadi dosa Lo bisa berguguran" ucap Daniel sambil menyikut perut Kevin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aina
Dla nastolatków"Ai, jangan dengerin mereka ya," ucap Rafael lembut sambil menatap pucuk kepala Aina. "Ai?" tanya Aina. "Iya. Nama lo kan Aina, jadi gue manggil lo dengan sebutan "Ai". Dan hanya gue yang boleh manggil dengan nama itu," tegas Rafael. "Iya. Terserah...
