40. SATU FAKTA TERUNGKAP?

8.1K 456 16
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•••

Rahang Langit mengeras ketika melihat Nayla sedang bersama cowok lain di depan mata nya. Cowok berbadan besar dengan jaket hitam kebanggaan nya yang melekat ditubuh atletis nya langsung melanjutkan kembali menjalankan motor besar nya itu kedepan gerbang sekolah. Tempat Nayla dan cowok itu berada.

Motor Langit berhenti, tangan nya terkepal erat ketika mengetahui bahwa ternyata Genta yang sedang bersama Nayla.

Dari raut wajah Nayla, ia menahan rasa takut pada Genta. Langit turun dari motor nya lalu berdiri di depan Nayla, menghalangi Genta yang ingin mendekati nya.

"Minggir! Gue mau ngomong sama Nayla." kata Genta, berusaha sabar.

"Kalau gue gak mau?" pertanyaan meremehkan dari Langit membuat emosi Genta memuncak. Namun sebelum itu Nayla menyentuh lengan Langit, ia berkata.

"Udah Kak, mending kita pergi." bujuk Nayla, memelas. Ia hanya tidak ingin ada keributan disini. Karna ia sudah melihat aura peperangan di antara kedua nya.

Baru saja Nayla ingin menarik tangan Langit, Genta justru menahan tangan satu Nayla. Hal itu membuat Langit menatap nya tajam.

"Nay, kasih gue satu kesempatan. Maafin gue. Dulu emang gue deketin lo karna di suruh temen-temen gue, jujur disitu gue bego banget. Tapi Please Nay, maafin gue."ujar Genta, serius.

Nayla menatap Genta, ia meneguk ludah nya susah payah. "Genta, jangan gini. Gue—"

Belum selesai Nayla melanjutkan ucapan nya, Langit melepaskan tangan Genta yang bertengger di tangan Nayla. Lalu kembali menghalangi kedua nya.

"Pergi lo! Nayla gak butuh maaf yang keluar dari mulut banci kayak lo." ujar Langit penuh penekanan. Sorot mata kedua nya pun seperti ada nya sorot kebencian.

"Maksud lo apaaan anjing?!" nada Genta berubah tajam. Ia sudah sabar dan berniat baik untuk meminta maaf kembali pada Nayla.

Namun cewek itu masih saja menolak, dan berusaha menjauh.

Apalagi saat Langit datang, Genta sudah menahan tangan nya untuk tidak memukuli Langit yang berusaha bersikap pahlawan di mata Nayla.

Langit tersenyum miring, "harus nya lo malu. Lo udah jebak cewek, kalau itu adek lo gimana bangsat?!" sentak Langit.

Perkataan Nayla yang belum lama menceritakan, terngiang-ngiang kembali.

"Oke gue salah. Tapi gue udah ada niat baik, minta maaf ke Nayla. Kenapa lo ikut campur anjing?!" hardik Genta. Tangan nya dan rahang nya mengeras. Jika Langit kembali berkata, yang menguji emosi nya, Genta tidak akan berusaha sabar lagi.

LANGIT & NAYLA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang