7. More to Know

3.3K 339 3
                                        

Altaria saat ini sedang berada di rooftop perusahaan karena ia membutuhkan udara alami untuk menghilangkan kepenatannya. Abaikan segala bentuk polusi karena yang dibutuhkan Altaria saat ini adalah udara yang sesungguhnya bukan hanya dalam ruangan. Dengan segelas ice coffee latte Altaria menikmati waktunya di rooftop.

“Nona.”

Kendra saat ini sudah berdiri di sisi Altaria. Wanita itu pun hanya menanggapinya dengan deheman singkat sambil meminum kopinya.

Mr. Do berencana menjual sahamnya.”

Altaria memalingkan kepalanya. “Aku sudah tahu ini akan terjadi. Dasar tua bangka itu. Cari jalang paling mulus dan belum dipakai lebih dari dua kali lalu antar padanya.”

“Baik, Nona.”

Tanpa menanggapinya lagi Altaria kembali menatap langit sambil memutar-mutar gelas kertasnya dengan pelan. Sekitar lima menit ia menatap langit Altaria mengernyit menyadari Kendra masih setia berdiri di sebelahnya.

“Apa lagi?”

“Tuan Besar berencana ke Italia dua hari lagi.”

Keterkejutan dan kemarahannya tidak bisa disembunyikannya. Ia dengan keras melempar gelas kertasnya ke dinding lalu menatap Kendra dengan wajah memerah.

“Beliau akan berada di sana selama tiga hari.”

“Kendra, siapkan mobil. Kita akan menemuinya,” ucapnya dengan tegas dan berlalu dari rooftop.

Tangannya mengepal kuat yang bisa saja membuat kuku-kukunya yang panjang menancap dan menyebabkan luka di telapak tangannya tetapi tidak dipedulikannya. Ia tidak pernah bisa tidak marah jika menyangkut pria yang enggan disebutkannya itu.

Baru saja Altaria menapakkan kakinya di lantai tempat ruangannya berada ia mendapati seseorang sedang duduk di sofa yang memang disediakannya di depan ruangannya. Ia berjalan mendekati orang tersebut dan berdiri di hadapannya.

“Kamu udah lama datang?”

Ethnan tersenyum lalu berdiri. “Belum lama. Baru sepuluh menit kok. Kamu lagi buru-buru ya?”

Karena sudah sering berkunjung dan ke ruangan Altaria jadi karyawan di meja resepsionis pun tidak mencegahnya. Pun juga karena Altaria yang sudah berbicara pada karyawannya jika Ethnan mencarinya makan langsung saja suruh ke ruangannya.

Kembali ke pria itu yang ditatap Altaria. Wanita itu mendesah pelan. Ia melirik Kendra yang baru saja berjalan melewatinya menuju mejanya. “Tergantung tujuan kamu datang kemari itu apa.”

“Saya ingin meminta maaf sama kamu.”

Altaria mengangguk. “Lalu?”

“Dengan mengajak kamu makan siang bersama jika kamu bersedia.”

“Monoton sekali, Pak Hani. Kalo nggak makan siang ya makan malam, cobalah sesuatu yang baru.”

Entah mengapa Altaria merasa lebih tenang begitu sudah berbicara dengan Ethnan. Amarahnya yang tadi membara kini mulai mereda. Ia pun merasa betah berlama-lama bersama Ethnan.

Ethnan tertawa pelan lalu menggaruk alisnya yang tentu tidak gatal itu.

“Saya tahu memang sangat monoton. Tapi hanya dengan makan siang dan makan malam kita bisa lebih mudah bertemu.”

Altaria tersenyum miring. “Pak Hani benar juga. Hmm makan siang ya?” Ia melihat arlojinya. Sepertinya ia harus menunda keinginannya tadi, ia perlu sedikit udara sejuk. “Baiklah. Kita makan siang. Pak Hani, sudah menentukan tempatnya ‘kan?”

Altaria [Completed] || RevisedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang