Altaria tidak henti-hentinya memukul samsak di depannya. Sampai Johansson yang baru datang melihat Altaria yang memukul dengan brutal serta tidak teratur, juga terlihat sudah banjir dengan peluh langsung menariknya. Altaria sempat tersentak namun membiarkan dirinya diseret Johansson menjauh dari samsak.
Johansson mendudukkan Altaria di bangku panjang. Ia mengambil tangan Altaria dan melihat tangan itu sudah memerah. Johansson menghela napas pelan.
“Kenapa lo?” Tanya Johansson tanpa basa-basi seraya menatap Altaria dengan serius.
Altaria memalingkan wajahnya. Ia memilih melepas kain di tangannya.
“Altaria, gue tanya. Lo kenapa?”
Altaria mendengkus keras. Mengingat kembali hal semalam membuatnya meremat tangannya dengan kuat, rahangnya mengeras, matanya mengilat dan itu dapat dilihat Johansson.
Johansson dengan sabar menunggu Altaria berbicara. Ia memilih mengambil tumblr Altaria yang berada di tasnya yang tidak jauh dari mereka. Johansson kembali lalu menyodorkan tumblr tersebut yang disambut Altaria dan langsung meneguk air dari sana.
Johansson pun mengambil tempat duduk di sebelah Altaria sambil menatap ke depan. “Gue tau, menyiksa diri itu bisa buat lo lega tapi lo nggak bisa selamanya gini. Nggak baik, Tira.”
“Terus gue lebih baik nyiksa orang lain gitu?”
“Bukan begitu juga dan lo paham bukan itu maksud gue.” Johansson berpaling menatap Altaria.
Altaria yang sedari tadi menghindari tatapan Johansson pun menoleh menatap Johansson. “Gue cuma marah sama dunia. Gue selalu dihantui perasaan takut.., cemas dan was-was. Gue pengen kayak orang lain yang hidupnya sederhana tanpa harus memikirkan siapa, apa, mengapa dan bagaimana.”
Altaria mengalihkan pandangannya dari Johansson lalu menunduk menatap kedua kakinya yang dilapisi sepatu olahraga itu.
Johansson menyandarkan punggungnya ke dinding.
“Gue nggak bisa bilang apa-apa karna gue nggak pernah ngerasain apa yang lo alami. Hanya saja gue yakin apa pun yang lo alami itu semua nggak bakal pernah nggak bisa lo atasi. Setiap orang bahkan orang sederhana pun punya masalahnya seperti masalah ekonomi, setiap orang sudah dikasih Tuhan porsi tantangan hidupnya masing-masing. Capek lo itu wajar, marah itu wajar, tapi jangan sampe lo nyerah. Tapi mungkin kalo untuk lo ngelepas sesuatu yang membebani lo sepertinya nggak ada salahnya. Lo butuh suatu perasaan menerima, Tira, biar lo bisa lega dan nggak cemas lagi.”
Altaria menatap Johansson yang kini sudah menatapnya. Altaria sangat tidak suka kalau ia sudah begini, menangis. Ia tidak suka menjadi lemah, ia tidak suka menjadi sosok yang tidak berdaya.
“Nggak ada salahnya nangis, Tir, gue udah pernah bilang ‘kan sama lo? Menangis itu juga salah satu pelepasan emosi yang baik. Jangan ditahan yang ada lo makin sakit nantinya tanpa lo sadari.” Johansson pun menepuk pelan pundak Altaria sambil sesekali meremasnya pelan.
Altaria menangis tanpa suara. Ia mengangguk dengan kalimat-kalimat Johansson itu.
“Lo nggak pura-pura kuat, Tir, tapi lo emang kuat.”
Altaria tersenyum di antara tangisnya. “Makasih.”
Johansson membalas senyuman Altaria lalu mengelus pelan kepalanya. Gadis ini sudah dianggapnya seperti Adik kandungnya. Johansson sangat tahu apa yang sudah dialaminya, perasaannya yang terkadang bisa rapuh. Oleh karena itu dalam keadaan apa pun ia akan selalu berada di sisi Altaria, karena hanya itu yang dibutuhkan Altaria.
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)