16. Article

2.7K 267 3
                                        

Tatapan mata menuntut itu tidak lepas dari pada Altaria sejak ia menginjakkan kakinya di restoran. Hingga saat ini setelah selesai makan dan itu membuatnya mau tidak mau mendesah pelan.

“Apa?” Altaria menyerah. Ia jengah ditatap seperti itu oleh sahabatnya.

“Kenapa lo cepat banget pacarannya?”

Altaria sudah tahu pasti karena hal ini. “Bukannya bagus? Lo ‘kan yang waktu itu nawarin kencan buta sama gue?”

Feren menggeleng. “Gue nawarin bantuin lo kencan buta bukan pacaran. Demi langit, Tira. Lo baru putus beberapa bulan yang lalu dan elo baru jalan sama dia beberapa kali terus lo udah pacaran? Nggak bisa dipercaya.”

Altaria memalingkan wajahnya dari Feren dan memilih menatap sekitar restoran itu. “Gue suka? Makanya gue mau pacaran sama dia.”

“Suka? Lo suka apanya? Elo itu kalo pacaran itu cuma karna dua hal. Pertama, emang suka dan kedua, lo mau kasih pelajaran. Dan gue nggak yakin karna lo suka jadi yang mana benar di antara kedua itu?” Feren menatap Altaria dengan tatapan menuduh yang membuat Altaria terkadang berharap ia dan Feren untuk tidak kenal dalam waktu selama ini.

“Bisa nggak lo nggak usah bertanya-tanya motif gue? Diam dan lihat saja,” jawab Altaria berdecak pelan.

“Ini nih. Lo itu selalu aja sakit hati, selalu saja dimanfaatkan karena kelakuan tanpa pikir panjang lo ini.”

“He! Kalo gue nggak pikir panjang yang ada udah dari lama gue diinjak-injak sama laki-laki bajingan.”

“Maka dari itu. Serius, Tiraaa... Gue empat bulan lagi nikah. Terus elo? Masih mau berputar-putar dengan pembalasan yang nggak ada habisnya itu?”

Altaria memandang Feren dengan tajam. Ia tahu, sebagian dirinya salah tapi Feren juga tidak pernah berada di posisinya.

“Mau tukar posisi sama gue nggak? Gue yang hidup jadi lo dan lo hidup jadi gue,” kata Altaria dengan intonasi datar.

Perkataan Altaria itu seakan menyandarkan Feren, ia lalu mendesah pelan. “Sorry. Harusnya gue nggak ngomong begitu. Gue hanya peduli.”

“Musuh yang nggak pernah kita duga-duga itu adalah orang terdekat kita.”

Feren menaikkan salah satu alisnya. Ia menatap Altaria dengan tidak terima. “Maksud lo gue musuh?”

Altaria menggeleng. “Gue nggak pernah bilang begitu.”

“Tapi kata-kata lo menyiratkan begitu,” desis Feren.

“Terus kenapa kalo gue tujukan buat lo?” Altaria menatap Feren tanpa minat. “Capek yang ada gue ngobrol sama lo lama-lama.” Altaria memilih berdiri sambil tak lupa mengambil tas tangannya. “Ketemu lagi nanti. Kalo otak lo udah beres.”

Tanpa perlu menunggu sahutan Feren, hak sepatu berwarna silver itu terdengar di ruang VIP meninggalkan Feren dalam diamnya.

Altaria mengeratkan pegangannya pada tali tasnya. Ia tidak pernah meminta menjadi seperti ini tetapi bukan salahnya juga ia seperti ini. Ia bukan tumbuh di lingkungan biasa, ia tumbuh di lingkungan yang mewajibkannya menjadi petarung kalau tidak ingin dibantai habis. Kapan terakhir kali Altaria merasa benar-benar bahagia? Ia bahkan sudah tidak ingat lagi.

Memang Altaria memilih menjalin hubungan dengan Ethnan ada niat terselubung tapi itu semua dilakukannya untuk melindungi dirinya sendiri.Karena tidak ada yang bisa melakukannya selain Altaria sendiri.

–––––––

Altaria yang sedang menyortir berkas yang sudah ditandatanginya mengangkat kepalanya ketika mendengar ketukan pintu.

“Masuk,” sahutnya lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Nona, ada kabar yang cukup penting.”

“Hmm?” Altaria pun beralih dari tumpukan berkas di atas mejanya pada Kendra yang kini berdiri dalam sikap tegap di depannya.

“Ada sebuah artikel yang baru saja terbit dengan headline kencan antara Nona dan Pak Ethnan,” ujar Kendra.

Altaria memiringkan kepalanya dan menatap Kendra dengan intens.

“Lalu?”

“Sudah kedengaran sampai para direksi dan pemegang saham. Mereka minta rapat segera diadakan dalam kurun waktu satu jam.”

Altaria mendesah pelan. Ia meletakkan pulpennya ke atas kertas.

“Tapi berita itu sudah saya turunkan, meski begitu mereka bersikeras untuk rapat.”

“Oke. Siapkan ruangan.” Altaria menatap Kendra dengan tegas dan setelah mendapat jawaban itu sekretarisnya segera keluar dan menjalankan tugasnya.

Dari semua hubungannya kenapa hanya ini yang terekspos ke media? Dan siapa yang sudah menyebarkan informasi ini?

Altaria berdecak pelan. Ia mengambil telpon kabel yang langsung terhubung ke meja sekretaris.

“Hubungi penulis artikel yang pertama kali memuat berita itu. Negosiasi, kalau tidak mau, ancam.” Setelah berkata begitu, Altaria memilih menyandarkan punggungnya pada kursinya.

Baru beberapa hari menjalin hubungan sudah naik ke portal media.

Ketika sedang mengistirahatkan mata dan juga pikirannya, suara getaran ponselnya yang berada di atas meja terdengar.

Altaria membuka matanya lalu mengambil ponselnya dan mendapati pemanggilnya adalah Tuan Madunya.

“Halo.”

“Halo, Manis. Kamu udah lihat berita itu?” Tanya Ethnan tanpa berbasa-basi.

“Hmm.” Altaria menjawab dengan singkat.

“Maaf karna aku berita tentang kita malah naik ke media. Sekarang aku lagi mengusut siapa yang udah ngasih berita itu jadi kamu nggak usah khawatir ya? Aku akan membantu sebisa aku supaya kamu juga nggak terlalu repot. Kamu bilang, kerjaanmu lagi banyak jadi biar aku yang urus ini.”

Altaria jengah mendengar cerocosan Ethnan itu tapi tidak bisa dipungkiri ada seulas senyum kecil di bibirnya. “Cerewet kamu. Harusnya itu kamu kirim makanan buat aku atau bunga. Bukannya malah bahas berita sampah itu.”

Di seberang sana Ethnan diam kemudian tak lama terdengar tawa pelan. “Aku ‘kan khawatir sama kamu, Manis.”

“Harusnya aku senang ‘kan kamu khawatirin aku tapi kok malah kesel ya?”

“Iya-iya maaf. Jangan kesel ya? Akan aku pesankan sesuatu untuk kamu.”

“Hmm. Kamu sendiri baik setelah berita itu?”

Heboh pastinya tapi bisa aku atasi.”

Tiba-tiba perasaan ingin dimanja itu menelusup di hatinya setelah mendengar suara Ethnan yang lembut. Altaria mengeratkan rahangnya dan menggenggam erat ponselnya untuk menahan diri.

“Kamu nggak usah terlalu cemas sama aku. Aku baik-baik aja dan aku juga pasti bisa mengatasinya.” Altaria berucap dengan tulus. “Kamu sudah makan?” Ia lalu mengganti topik pembicaraan.

Ethnan mendengkus pelan. “Belum. Laper. Masih ada sidang sejam lagi.”

“Kayaknya bukan kamu yang pesenin aku makanan tapi aku yang pesenin kamu makan nanti,” ujar Altaria sambil tersenyum lebar.

Ia merilekskan tubuhnya di kursinya sembari menatap langit sore yang terang.

“Boleh-boleh saja tapi kalau nunggu pesanan yang ada aku udah harus standby di ruang sidang.”

“Kamu fokus aja ya sama sidangnya. Nanti kita makan malam setelah kamu selesai sidang.” Spontan Altaria berucap seperti itu dan itu membuatnya merutuki dirinya sendiri.

Bagaimana bisa ia menawarkan bukan menawarkan lagi tapi menyatakan ajakan makan malam pada Ethnan? Pikiran Altaria pasti sedang tidak berada di tempatnya.

“Di apartemen aku?”

Altaria berdecak pelan. “Otak kamu isinya apaan, Madu?”

“Kamu.”

Altaria terkekeh pelan. “Receh. Ya sudah kalau begitu. Aku harus lanjut kerja dan kamu... Segera cari makan.”

“Oke, Manis. Selamat bekerja.”

“Kamu juga.”

Lalu percakapan via telpon itu pun selesai dan Altaria menatap ponselnya dengan kosong.

Ia harus bisa menahan diri dan perasaannya. Perasaan mungkin akan terbawa tetapi jangan sampai tenggelam olehnya karena perasaan bisa memanipulasinya.

Altaria harus tetap pada tujuan awalnya. Jangan sampai lengah.

–––––––

Ethnan yang sedang menumpuk piring di atas kitchen island kemudian membawanya ke wastafel tak lupa memberi senyuman pada Altaria.

Altaria tidak menggubris Ethnan ia justru kembali teringat dengan rapat tadi siang yang menguras energi dan emosinya.

Meski ia bisa mengatasinya tetapi rasa ketika dipojokkan itu tidaklah enak.

Para pria tua itu hanya mau Altaria lengser dan berbagai cara akan dimanfaatkan mereka seperti menjadikan artikel itu sebagai senjata yang dirasa Altaria bodoh. Sepertinya mereka kehabisan cara untuk menjatuhkan Altaria jadi memakai cara murahan seperti itu.

Altaria tentu tidak menepis tetapi juga tidak membantah. Ia hanya memberi mereka sedikit ancaman meski kembali diserang tetapi Altaria hanya menatap mereka dengan jengah lalu beranjak dari ruang rapat.

Katakanlah ia arogan atau angkuh tetapi Altaria hanya malas mendengar omong kosong mereka.

“Kamu mau mandi?” Tanya Ethnan di sela-sela kegiatannya mencuci piring.

Altaria yang sedang berada di sofa sembari menatap tabletnya dan sedikit melamun itu langsung menoleh pada Ethnan yang hanya menampakkan punggungnya itu.

“Kamu pikir aku siapa sampai mau mandi di sini? Aku bukan mantan-mantanmu yang akan mandi di tempat tinggal pacar,” ujarnya tanpa emosi sama sekali hanya saja ia sedikit tidak suka dengan pertanyaan Ethnan itu.

Sejak kapan ceritanya kita bertamu di tempat tinggal pacar yang hanya bertamu untuk beberapa saat kemudian mandi? Entah ide dari mana itu namun yang pasti Altaria merasa itu hal konyol.

“Siapa tahu saja kamu mau mandi. Apalagi seharian ini kamu beraktivitas,” kata Ethnan.

“Jikalau kamu lupa ruangan di kantor aku ada kamar dan kamar mandinya,” sanggah Altaria lalu mengembalikan tatapannya pada layar tabletnya.

Setelah meletakkan piring pada tempatnya, Ethnan membuka lemari es lalu mengambil sebuah botol besar yang berisi jus jeruk tak lupa membawa dua buah gelas kemudian menghampiri Altaria. Ia mengambil tempat duduk di sisi Altaria dan tidak lupa menuangankan jus ke dalam gelas.

“Cuma perasaan aku atau kamu jawab aku itu kayak lagi sensi?” Ethnan menatap Altaria dengan penuh, sebelah tangannya pun menyandar di atas sofa.

Altaria mendesah pelan lalu meletakkan tabletnya ke atas meja kopi kemudian meneguk jus jeruk. Altaria berpaling menatap Ethnan.

“Enggak kok. Memang kadang-kadang cara aku menanggapi buat orang lain ngira aku marah. Oh, mungkin aku sedikit nggak suka sama pertanyaan kamu.” Altaria mengendik tak acuh lalu bersandar pada sofa. “Pemikiranku perihal hubungan masih sedikit kuno. Soal mandi di tempat pacar?” Altaria langsung menggeleng tegas. “Hanya sahabat dan keluarga yang aku rasa normal dan pantas mandi di rumahku tapi pacar? Untuk apa? Toh nantinya juga akan pulang ke rumah sendiri dan mandi di rumahnya ngapain mandi rumah pacar? Nggak logis buatku.”

Ethnan mengangguk-anggukan kepalanya paham dengan penjelasan kekasihnya. “Tapi misalkan pacar kamu kehujanan di tengah jalan karna mau mampir ke rumahmu?”

Posisi Altaria masih sama namun kini ia bersidekap. “Memangnya aku nggak setoleransi itu?” Altaria memutar kedua bola matanya kesal. “Tentu ada pengecualian seperti itu, Madu,” katanya gemas yang membuat Ethnan tertawa pelan.

Ia lalu mendekat dan menarik kedua tangan Altaria agar ia bisa masuk ke dalam pelukan Altaria.

Ethnan memeluk Altaria dengan erat. “Kalau bisa aku ingin kamu nginep.”

Altaria mendengkus pelan karena perkataan pria itu. Kedua tangannya pun melingkar di tubuh Ethnan yang besar itu. Menyamankan dirinya di dada Ethnan. “Berapa banyak perempuan yang sudah kamu bawa ke sini dan menginap?”

Pertanyaan Altaria itu membuat Ethnan menegang dan Altaria dapat merasakan reaksi tubuh Ethnan itu.

Altaria dibuat mendengkus geli. “Banyak?” Tanyanya sekali lagi dengan sedikit mendesak.

Ethnan dapat merasakannya karena bagaimana pun ia adalah seorang pengacara harus pandai memanipulasi.

I lost count.”

“Bajingan.” Desisan itu tak bisa disimpan Altaria. Ia mengatakan isi benaknya dengan gamblang.

Ethnan yang mendengarnya semakin memeluk Altaria dengan erat. “Nggak sampai belasan, Manis. Hampir sepuluh kalau nggak salah tapi sungguh nggak sebanyak apa yang mungkin ada dalam kepalamu.”

Perkataan Ethnan membuat Altaria menggigit dada Ethnan dengan gemas. “Aku nggak bisa bilang nggak percaya atau percaya sama kamu tapi yang harus kamu tahu jangan macam-macam sama aku. Aku bisa mengerikan kalau marah.”

Ethnan mengangguk di balik ceruk leher Altaria. “Yes, Miss.”

Mendengar itu Altaria lalu mengecup dada bidang Ethnan yang terbungkus kaos hitam itu kemudian memeluknya erat dengan Ethnan yang beberapa kali mengecup pucuk kepalanya. Keduanya saling mendekap erat dan saling menyalurkan rasa nyaman dan hangat.

Bersambung..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Aku gak sempet edit lagi jadi kalo ada typo atau kalimat rancu harap dimaklumi sana akan aku satu nantinya.

And harus gue akui. Kok gue suka panggilan sayang Altaria dan Ethnan sih?? Aaaa!! Maniss!! Lucu ih

Published: April, 9th 2021
Revised: May, 23rd 2024

Altaria [Completed] || RevisedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang