Menjadi seorang pemimpin terlebih perempuan membuatnya selalu diserang oleh mereka yang tidak suka ia yang menduduki kursi kepemimpinan itu. Perusahaan ini memang akan menjadi warisannya meski ia bukan anak laki-laki tetapi tetap saja banyak yang tidak terima akan fakta itu.
Altaria tidak mau menjadi munafik dengan menolak dan membiarkan orang lain yang mengambil alih haknya, hal itu tidak akan pernah terjadi. Anggap saja Altaria serakah tetapi ia serakah karena Mama dan adiknya bukan karena dirinya sendiri. Menurutnya, Mamanya terutama harus menerima hak dan bagiannya karena sudah melahirkan keturunan bagi keluarga itu. Oleh sebab itu Altaria sekeras mungkin menjaga apa yang tetap menjadi miliknya sejak ia lahir karena ia adalah keturunan sah keluarga itu.
Seperti lima menit yang lalu dimana Altaria harus dihadapkan dengan rapat pemegang saham yang mencoba menginjak-injaknya dan ingin mengasingkannya. Bukan sekali dua kali selama ia memimpin hal ini terjadi, sudah berulang kali dan Altaria menolak untuk menyerah. Ia adalah seorang pejuang bukan pecundang.
“Nona.” Altaria yang sedang menikmati teh merah di ruangannya membuka matanya yang sempat dipejamkan karena sedikit sakit kepala yang disebabkan para penjilat perusahaan itu.
“Akan ada makan malam di kediaman utama,” kata Kendra kemudian.
Altaria mengangkat sebelah alisnya bertanya.
“Dan akan ada pembahasan tentang Nona, yaitu rencana perjo—
Mulut Kendra langsung terkatup begitu melihat tatapan tajam Altaria yang seakan ingin mengunyah seseorang hidup-hidup. Kendra juga dapat melihat betapa ketatnya rahang Altaria.
“Mau dia apa? Masih belum puas merusak? Brengsek.” Altaria mengumpat pelan. “Berani sekali dia melakukannya, memangnya dia itu siapa sampai mencoba ikut campur hidup gue?” Altaria mendengkus keras. “Saya akan datang, Ken.”
Kendra menelan salivanya setelah menahannya selama beberapa saat. “Baik, Nona.”
“Kirim seluruh informasi riwayat keluarga entah siapa pun itu pada saya dalam seratus dua puluh menit, Kendra.”
Tak bisa membantah karena Altaria sudah mengeluarkan kalimat perintahnya yang harus dilakukan Kendra. Setelah menerima jawaban dan perintah dari Bosnya, Kendra pun keluar dari ruangan bertema kayu itu.
Altaria meremat pegangan cangkir. Sepertinya orang itu ingin membuatnya kesal karena sudah berbuat seenaknya.
Tapi lihat saja nanti, Altaria akan membuatnya malu.
–––––––
Altaria berjalan dengan cepat ke dalam kafe hendak menemui sahabatnya. Begitu melihat Feren, dengan sedikit berlari ia menghampiri Feren. Lalu ketika sampai ia sedikit memukul meja dengan tasnya dan itu membuat Feren mendesah pelan.
“Kenapa?” Tanpa perlu menegur yang dibutuhkan Altaria sekarang adalah pertanyaan itu.
“Gue pengen bunuh orang.”
“Huss! Dijaga mulut lo.” Feren menyuruh Altaria duduk dengan dagunya.
Altaria mendengkus pelan dengan terpaksa ia menarik kursi di depan Feren lalu duduk. “Gue serius, Ren. Gue muak.”
Feren berusaha mengerti emosi Altaria. Wanita itu terlihat begitu marah matanya, saja terlihat tajam dan sedikit menggelap. “Apa lagi kali ini?”
Altaria tertawa sinis. “Karna gue bertindak cara perjodohan dipake. Bangsat!” Tangannya yang berada di atas meja mengetat erat. Ia benar-benar dibuat emosi—selalu—–dan itu selalu membangkitkan amarahnya.
“Lo mau ngapain? Asal!” Feren menatap Altaria tajam. “No killing!”
Altaria menggeram pelan. “Saran. Gue butuh saran.” Ia menatap Feren lurus meminta jawaban dalam situasi yang sangat mendesak baginya ini.
“Lakukan seperti yang biasa lo lakukan. Mulut lo ‘kan jago, otak lo juga ‘kan licik.” Ditodong seperti itu membuat Feren pun langsung berpikir cepat.
Altaria menatap Feren dengan lekat sebelum menanggapinya. “Gue udah malas berhubungan sama dia lagi. Gue malas lihat mukanya. Sialan. Gue nggak tahan pengen lampiasin.”
“Ya udah temui Bang Johan,” ujar Feren.
“Nggak bisa. Gue habis ini lanjut kerja.” Jona berdecak pelan. “Ada teh merah nggak di sini?”
“Gue bukan pemiliknya, Tira.”
Altaria mencebik bibir dan menatap Feren dengan sengit. Ia lalu memanggil pelayan dan memesan sesuatu yang bisa memenangkannya dan memberi kekuatan padanya untuk sisa hari ini.
–––––––
Sosok Altaria yang dilihat orang banyak adalah seorang perempuan yang angkuh, elegan, berkarisma, sombong dan mempesona. Tetapi harus ditambahkan Altaria adalah seorang yang memiliki masalah emosional dimana ia bisa meledak jika sesuatu memicunya. Namun bisa juga menjadi seseorang yang memendamnya namun menjauh secara nyata. Dan satu hal yang selama ini hanya beberapa orang yang tahu tentangnya bahwa Altaria menderita DID.
Suatu penyakit mental yang diidapnya selama lebih dari satu dekade. Pada awalnya Altaria tersiksa dengan penyakit ini, tetapi berselang waktu ia bisa berteman dengannya. Tentunya setelah menjalani pengobatan selama hampir sepuluh tahun dan baru pada lima tahun terakhir identitasnya yang lain sudah tidak pernah muncul. Meski begitu sampai sekarang ia masih harus mengunjungi psikiater untuk memastikan keadaan mentalnya. Namun sepertinya akhir-akhir ini ia seperti dipicu oleh sekitarnya dan itu membuatnya merasa tidak tenang jika identitas lainnya muncul. Meski di sisi lain ia justru ingin identitasnya yang lain itu muncul dan menggantikan posisinya sementara.
Namun bukan hanya menderita penyakit berkepribadian ganda, tapi ia juga mempunyai PTSD. Ia tidak pernah bisa tidur dengan tanpa obat tidur. Pikirannya akan selalu merasa cemas dan tidak tenang jika tanpa obat. Bahkan dalam kesehariannya pun Altaria harus terus menyugesti pikirannya dengan kalimat-kalimat yang diajarkan oleh psikiaternya.
Jadi sudah lebih dari sepuluh tahun ia tak bisa lepas dari obat untuk membuatnya tetap sadar dan tenang. Akan tetapi meski ia mengonsumsi obat jika ada hal yang terus menerus memicunya maka ia bisa kehilangan kendali dan menjadi sosok yang berbeda.
Altaria menatap kaca yang menjadi penghalang antara gedung dan dunia luar sana. Sore sudah mulai menghampiri dan Altaria baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ia bisa saja langsung pulang tetapi ia ingin menghabiskan waktunya dengan menenangkan diri dalam ruangannya.
Bahkan ia sudah memperingatkan Kendra bahwa tidak ada seorang pun yang boleh masuk dan bertemu dengannya. Ia ingin sendiri.
Iris berwarna icy blue karena lensa kontak itu tak lepas memandang gedung-gedung pencakar langit yang berdekatan dengan perusahaannya. Pemandangan yang menjenuhkan tetapi bisa membuat rileks.
Meski sakit, meski harus tertatih, Altaria harus terus berjuang dan bertahan. Ia tidak boleh menjadi lemah. Altaria harus kuat untuk orang-orang di sekitarnya karena hanya ia yang bisa menjaga mereka.
Altaria mendesah pelan lalu beralih menatap langit. Terlihat awan gelap perlahan mendekati kota. Sepertinya akan turun hujan sebelum jam pulang kantor nantinya. Pasti banyak orang yang akan mengeluh namun Altaria tidak termasuk di antaranya. Ia selalu suka hujan karena bisa membuatnya lupa akan masalahnya.
Setelah puas menatap keluar jendela, Altaria menuju mejanya lalu menekan interkomnya. Tak lama kemudian Kendra masuk setelah mengetuk pintu.
“Siapkan mobil. Ke salon.”
Kendra mengangguk patuh. “Baik, Nona.”
Altaria mulai merapikan atas mejanya dan bersiap untuk pulang. Ia berharap di jalan nanti hujan akan turun untuk membantunya tetap berpikir dengan tenang.
Bersambung..
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Published: March, 26th 2021
Revised: May, 21st 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
Romanzi rosa / ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)