Altaria sedang bersandar di kursi kerjanya ketika pintu ruangannya diketuk. Tanpa membuka matanya Altaria mengizinkan orang tersebut masuk.
“Ada apa, Ken?”
“Nona Dona ingin menemui Anda.”
Kening Altaria mengernyit. “Dona? Dona si Dona itu?” Ia lalu membuka matanya menatap Kendra.
Kendra mengangguk. “Iya, Nona. Dona sahabat Tuan Ethnan.”
Altaria berdehem pelan. “Oke. Dia boleh masuk.”
Kendra pun segera menindaklanjuti perintah Altaria.
Sedangkan gadis itu tetap berada di kursinya dan kembali memejamkan matanya sambil mendengarkan musik instrumen. Biasanya Andhita yang menyukai musik seperti ini.
Altaria tersenyum kecil. Ia menikmati waktunya dan lima menit pun berlalu terdengar kembali ketukan dan suara pintu yang terbuka lalu tertutup.
Gadis bersurai panjang itu membuka matanya dan menatap lurus seorang perempuan di depan mejanya. Altaria mengambil posisi lurus sambil dagunya bertumpu pada kedua tangannya di atas meja.
“Selamat siang, Nona Dona.”
Penampilan perempuan itu sangat layak hanya raut wajahnya terlihat menyedihkan. Dona tersenyum pahit. “Lama tidak berjumpa, Altaria.”
Altaria tersenyum miring. “Saya bukan teman kamu jadi jangan sok akrab.” Ketegasan dan keangkuhan tidak bisa terlepas begitu saja dari Altaria tentu saja. “Ada perlu apa Anda kemari?”
“Boleh gue duduk?”
Altaria mengendik. “Silahkan.” Ia pun keluar dari kursinya dan berjalan menuju sofa diikuti Dona. Setelah ia terlebih dahulu duduk, Dona pun duduk di seberangnya.
“Apa hukuman saya masih kurang? Saya sudah diusir dari rumah, nggak diterima kerja di banyak tempat dan harus terpisah dari anak saya. Apa masih kurang? Saya rindu anak saya. Tolong.., saya ingin ketemu sama dia,” kata Dona.
Altaria dapat melihat kesedihan dan keputusasaan di wajah wanita yang dulunya menatapnya dengan sinis dan sombong itu. Altaria tertawa dalam hatinya.
“Anda datang ke saya untuk meminta uang agar bertemu anak Anda begitu? Apa mantan suami Anda tidak bisa membantu Anda?”
Dona terkejut mendengar perkataan Altaria. “Nona, tahu?”
“Jadi yang mana?” Altaria tak acuh dengan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya itu. Ia mengetuk-etuk jemarinya di lengan kursi dengan malas.
Kesimpulannya Altaria tahu. Tentu saja harusnya Dona sudah tahu itu. Ia tersenyum miris.
“Perkataan Nona benar jadi apa... Eum... Saya akan bekerja keras dan melunasi hutang saya itu. Saya ingin bertemu anak saya, Nona.” Air matanya pun jatuh. “Rasanya seperti tercekik karna merindukan orang yang tidak bisa saya temui dan lihat.” Dona menghapus air matanya. “Akan saya lakukan apa pun, Nona. Tolong saya, Nona.”
Wajahnya yang memelas dan tatapan yang menyedihkan menjadi pemandangan Altaria. Ia diam, bukan karena sedang berpikir hanya saja ia sedang mengantuk. “Temui sekretaris saya dan kamu akan diberi petunjuk berikutnya dari dia.”
Kedua bola kata Dona membesar. “Nona?”
Altaria memiringkan kepalanya menatap Dona dengan malas. “Katakanlah saya kasihan sama kamu. Setelah ini jangan pernah lagi muncul di hadapan saya. Untuk hutang kamu juga nanti hubungi sekretaris saya.”
“Terima kasih, Nona. Terima kasih banyak. Saya janji saya tidak akan—
Altaria mengangkat tangannya menginterupsi ucapan Dona. “Silahkan keluar. Saya mengantuk dan mau tidur.”
Dona tersenyum lega. Ia menghapus air matanya dengan cepat meski terus mengalir. Ia tidak menyangka Altaria akan begitu mudah menolongnya padahal ia sudah siap dengan segala kemungkinan buruk. Hal ini sama sekali tidak terduga.
“Terima kasih, Nona Altaria.” Sebelum disembur Altaria, Dona bergerak cepat keluar dari ruangan itu.
Setelah wanita itu pergi, Altaria menuju mejanya untuk menghubungi Kendra lewat interkom. “Tiga puluh menit ke depan tidak boleh ada yang mengganggu saya.”
Lalu ia melangkah ke sisi kanan ruangan. Altaria menekan tombol yang ada di sebelah rak buku, begitu rak tersebut terbuka tampaklah sebuah kamar tidur ukuran minimalis. Altaria lalu masuk tak lupa mengunci pintu dan tanpa menunggu lama, ia melempar kedua sepatu haknya dan langsung melemparkan diri di atas kasur.
Saatnya untuk tidur karena hari ini rasanya cukup melelahkan.
–––––––
“Kudengar Dona menemuimu.”
Altaria mengernyit, ia langsung menoleh pada pria yang sedang bersamanya di dalam mobil dan sedang menyetir itu.
“Dia yang mengatakannya padaku.”
“Kalian tentu saja masih berhubungan. Punya anak,” gumam Altaria yang tentu saja dapat didengar Ethnan.
Pria itu tersenyum kecil. “Kamu bisa memeriksa ponselku kalau tidak percaya.”
Altaria menggeleng pelan, ia menyandarkan kepalanya pada sisi kursi, matanya memandangi lampu-lampu jalanan.
“Nggak sesederhana itu. Tapi aku nggak bisa melarang itu. Kalian sudah lama bersahabat.” Altaria menoleh menatap Ethnan yang juga sedang melihatnya. “Terkadang untuk maju kita harus meninggalkan masa lalu. Tentu saja masa lalu itu berharga dan menjadi suatu cerita untuk hari ini. Tapi masa lalu tidak akan pernah bisa dibawa di masa sekarang atau masa depan. Dengan membuang jauh barulah bisa hidup di masa kini dan nanti.”
Altaria mengalihkan pandangannya ke depan. Dapat dilihatnya motor dan mobil yang saling menyalip. Bangunan-bangunan yang berjejer rapi membuat perasaannya menjadi jauh lebih tenang.
Ethnan bungkam. Ia seolah tak mempunyai kata untuk berbicara. Jemarinya meremat setir mobil dengan cukup kuat.
“Aku tahu.” Ethnan berbicara setelah beberapa saat diam. “Maaf.”
Altaria menggeleng cepat. “Kamu nggak memiliki kewajiban meminta maaf sama aku.” Ia menatap Ethnan lalu tersenyum. “Kita makan di mana?”
Ethnan tahu Altaria mengalihkan pembicaraan dan yang bisa dilakukan Ethnan adalah mengikuti alur gadis itu. Ethnan mendesah pelan dan tanpa ketahuan Altaria.
“Kita makan pizza saja bagaimana? Tiba-tiba aku ingin makan pizza.”
Altaria semakin melebarkan senyumannya. Ia mengangguk cepat. “Tentu saja aku mau. Kita makan pizza.”
Ethnan tersenyum. Ia melirik Altaria yang masih setia tersenyum sambil melihat ke depan.
Ethnan ingin menjadi sumber senyuman Altaria. Ia ingin menjadi tempat bersandar bagi gadis itu tetapi ia sadar tidak semudah itu. Kepercayaan Altaria padanya minus jadi ia harus terus mengusahakan suatu bentuk kepercayaan pada mantan kekasihnya itu.
–––––––
“Kamu tahu, Aria? Tadi itu klien aku resenya bukan main. Udah aku bilang ‘kan? Kalau mau aku bantu harus berbicara jujur tapi dia malah bohong udah gitu pake ngancem-ngancem aku segala. Dia ngira aku baru dalam hal gini kali ya.”
Altaria melihat Ethnan yang bercerita mengenai pekerjaannya. Setiap ekspresi wajahnya terlihat di mata Altaria dan itu terlihat menarik. Dimana matanya berbinar dalam bercerita dan semangatnya jika kasusnya akan menang atau kekesalannya pada klien.
Pemandangan ini yang dulu dilihat Altaria. Dan ia selalu suka mendengar Ethnan bercerita.
Altaria tersenyum kecil. “Terus?”
“Ya udah aku ngikutin aja dulu maunya dia apa. Kalau tambah ngeyel baru aku kasih petunjuk yang baik dan benar.”
Sontak perkataan Ethnan itu membuat Altaria tertawa. “Apa sih kamu? Ada ada saja. Memangnya petunjuk aturan minum obat apa?”
Renyah sekali tawa yang terdengar dari Altaria sehingga membuat Ethnan terkesima. Ia memandangi gadis itu dengan penuh minat, senyuman manis pun tersungging di wajahnya.
“Kamu cantik.”
Altaria menoleh bertemu pandang dengan Ethnan yang masih memandanginya. Ia menghentikan tawanya dengan perlahan dan menyisakan senyuman. “Aku tahu.”
Ethnan terkekeh kecil. “Akhir pekan nanti mau jalan nggak?”
“Ke mana?”
“Taman hiburan?”
Altaria tersenyum cerah. “Boleh. Terus kita ke rumah alam ya?”
Ethnan mengangguk. “Keinginan Nona Altaria adalah perintah bagi saya.”
Altaria terkekeh kecil. “Bagus. Nanti aku bawain bekal, aku cuma bisa buat sandwich jadi itu aja ya?”
Ethnan menatap Altaria, senyuman sudah sampai di kedua matanya. “Sesederhana apa pun makanan buatan kamu itu nggak masalah. Yang penting niatnya.”
“Meski pun gosong?”
Ethnan tertawa. “Enggak gosong juga, Aria.”
Altaria ikut tertawa. “Baiklah. Enggak gosong tapi setengah mentah.”
“Aria.”
Altaria semakin mengeraskan tawanya dan pemandangan ini tak akan terlewat barang sedetik pun bagi Ethnan. Tidak peduli harus sampai berjuta kali Ethnan mengulanginya namun wajah bahagia Altaria adalah hal yang selalu ingin dilihatnya di wajah gadis itu.
“Iya, iya, tenang. Nggak usah panik gitu.”
“Habis kamu ada-ada aja.”
“‘Kan bercanda, Hani.”
Ethnan mengulas senyuman lembut. “Iya..”
Altaria tersenyum kecil. Ia kembali memakan cemilan buatan Ethnan.
Terkesan membosankan sepertinya tempat temu mereka. Kalau tidak di apartemen pria itu maka di restoran atau di kafe namun mereka justru tak masalah. Mungkin karena hidup mereka yang sudah membosankan jadi hal itu biasa saja. Mereka justru lebih memilih tempat yang sepi dan tenang karena pekerjaan mereka yang mewajibkan bertemu banyak orang membuat tenaga mereka terkuras banyak. Jadi tempat yang tenang dan sepi tentu adalah pilihan yang tepat..
“Enak. Udah disisihkan satu toples ‘kan untuk aku?” Altaria menunjuk toples berisi kue kering yang terbuat dari oatmeal itu pada Ethnan.
Ethnan mengangguk. “Dua toples buat kamu.”
“Kamu emang yang paling tahu.”
“Tentu saja karena hanya semua ingatan tentang kamu yang aku simpan.”
Kedua mata itu saling bersitatap sebelum Altaria yang lebih dulu memutus adu pandang itu. “Kamu tetap manis.”
Ethnan tersenyum masam. Mungkin karena dulu yang memulai hubungan adalah Altaria dan penerimaan Altaria membuat Ethnan mudah mendapatkannya. Namun sekarang, meski fisik mereka berada di satu tempat yang sama dan duduk berdekatan tetapi entah mengapa terasa jauh.
Ethnan menghembuskan napas pelan. Ia harus berusaha lebih keras lagi. Selama Altaria masih memberi kesempatan ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan kembali hati Altaria.
“Aku tidur di sini ya malam ini? Aku malas pulang.”
Ethnan mengangguk. “Tentu. Kamar kamu selalu sama.”
Altaria tersenyum tulus. “Terima kasih.”
Ethnan selalu mengingatnya dan menghargainya sehingga membuat Altaria tersentuh. Pria manis di depannya ini pantang menyerah dan Altaria harus mengakui usahanya. Namun apakah hatinya sudah mulai menerima Ethnan ataukah ia justru ingin menjauh dari Ethnan?
Bersambung..
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Halooo.. Aku gak publish seminggu apa dua minggu sih? 😹
Semoga masih ada yang pada nungguin pasangan ini yaa hahaha
Published: August, 14th 2021
Revised: June, 9th 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)