23. Oh? Who's The Villain Here?

2.1K 250 28
                                        

Baru saja Altaria masuk ke dalam ruangannya, pintu yang baru saja tertutup itu terbuka kembali dan menampakkan saudara sepupunya. Altaria menatap wanita itu dengan jengah.

“Apa lagi mau lo?”

Respati berdiri di depan meja Altaria dengan angkuh. “Gue pinjam 500 juta.”

“Untuk apa?”

“Biaya pengacara.”

Altaria menatap Respati dengan sangsi. “Ternyata yang selingkuh lo ‘kan?”

Mendengar pertanyaan ejekan Altaria membuat Respati mengeraskan rahangnya dengan kesal. “Jangan asal nuduh lo.”

Altaria mendengkus geli. “Coba lo minta sama Lian, siapa tau dikasih.” Altaria mengendik tak acuh lalu memilih mengalihkan perhatiannya pada komputernya.

Respati menatap Altaria dengan tajam. “Gue nggak pernah rebut calon lo itu. Dia sendiri yang mau sama gue.”

Sentakan yang terdengar menyebalkan itu membuat Altaria menatap Respati malas. “Hei, bangun. Gue nggak pernah menganggap suami lo itu calon gue.” Altaria menggelengkan kepalanya dan merubah tatapannya pada Respati menjadi menyedihkan. “Dengar, Nyonya Anggoro. Selama gue hidup enggak pernah sekali pun lo membantu kesusahan gue. Lo hidup di atas penderitaan gue bahkan turut tertawa bahagia. Terus lo malah nyolot ke gue. Tapi nggak papa kita lupakan itu. Gue bakal kasih lo 500 juta tanpa bunga dan tanpa perlu dikembalikan karna gue sebaik itu.” Ia tersenyum yang dibuat semanis mungkin.

Respati menahan amarahnya. Kalau bukan karena ia butuh bantuan Altaria tidak akan pernah mau kakinya menginjak tempat ini lagi. Dengan kesal Respati berbalik lalu meninggalkan ruangan itu dengan langkah menghentak.

Begitu Respati keluar, asisten sekretaris Kendra yaitu Richard masuk.

Altaria menatap Richard dengan serius. “Pastikan keluarga mereka memiliki utang dan skandal yang bagus karna saya tidak percaya dengan wanita itu.”

Richard mengangguk paham. “Baik, Nona.”

“Satu lagi. Persiapkan amunisi kita satu per satu.”

“Iya, Nona. Enam dari sepuluh petinggi sudah kami pegang kartu AS mereka tinggal seorang lagi.”

Altaria tersenyum miring. “Bagus sekali.” Lalu tatapannya berubah tajam. “Cari sedetail mungkin dan serapi mungkin. Bergeraklah secara cepat dan lincah karena saya tidak mau ada satu kecacatan.”

Setelah Richard mengerti, lelaki itu pun mulai membacakan jadwal Altaria untuk satu hari ini dan hanya akan rapat satu kali saja di luar selebihnya ia akan di kantor.

–––––––

Altaria mengetuk-etukkan hak sepatu hijaunya ke lantai marmer itu dengan pelan sambil melirik ke arah pintu masuk. Sudah sekitar lima belas menit Altaria berada di sini dan sosok yang ditunggu kehadirannya belum juga muncul. Altaria mendesah pelan, ia tidak tahu jadwal kerja pria itu hari ini jadi dengan bermodalkan nekat ia datang.

Sampai beberapa saat kemudian pria yang dinantikannya muncul dengan tidak seorang diri. Altaria menatap kedua orang yang sedang berjalan hendak melewatinya itu dengan datar. Pandangan mereka saling tertuju seolah tanpa menyadari kehadiran Altaria di sisi lobi itu. Namun baru beberapa langkah sepertinya Ethnan sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan. Jadi ia langsung menoleh ke sebelah kanan dan mendapati Altaria yang tengah menatapnya.

Altaria [Completed] || RevisedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang