9. Asumsi

3K 324 1
                                        

Beberapa orang yang dilewatinya membungkukkan badan dan menyapanya dengan sopan. Wanita itu hanya menunduk sekilas dengan tatapan mata langsung pada setiap orang yang menyapanya. Tentunya tanpa senyuman karena karyawannya sedang menjelaskan perihal permasalahan yang terjadi di salah satu pabrik.

Setelah selesai dengan penjelasan itu Altaria mengangguk. “Kenapa baru beritahukan ketika alatnya sudah rusak?” Tatapan Altaria tajam dan menusuk lawan bicaranya.

Bukannya langsung menjawab malah meminta bantuan lewat lirikan mata pada rekan-rekannya dan itu semua tidak luput dari penglihatan Altaria.

“Lagipula harusnya ‘kan langsung diganti. Dananya ‘kan ada, sudah tersedia jika sewaktu-waktu hal seperti ini terjadi atau mungkin yang lebih buruk,” ujar Altaria lagi masih dengan pembawaannya yang santai.

Langkah kelima orang itu berhenti tepat di depan pintu pabrik.

Altaria berbalik menatap karyawannya yang menjabat sebagai manajer operasional di pabrik ini dengan tajam. “Gunakan uang perusahaan sebijak mungkin, karna setelah saya pergi dari sini laporan keuangan pabrik ini harus masuk pada saya, termasuk semua stok bahan. Sebelum jam pulang kantor sudah harus saya terima di e-mail. Jika ada kejanggalan...” Altaria menyipitkan matanya pada pria berusia tiga puluhan tahun itu. Altaria tersenyum miring. “Jeruji menanti tentunya.”

Setelah berkata begitu Altaria dan diekori oleh Kendra berlalu dari ketiga orang yang memiliki jabatan tinggi di pabrik itu.

Altaria memasang kacamata hitamnya dengan pandangan lurus ke depan sambil berkata, “urus masalah ini, Ken, dan sampaikan hasilnya pada saya besok pagi.”

Kendra mengangguk patuh. “Baik, Nona.”

⭐⭐

Altaria berulang kali menguap karena acara yang dihadirinya ini sama sekali tidak menarik. Acara ulang tahun dari anak salah satu pemegang saham perusahaan.

Pestanya memang diadakan mewah dan meriah tetapi terlalu banyak anak muda dan Altaria jengah melihatnya. Kalau tidak terlalu muda maka terlalu tua. Maka dari itu Altaria sedari tadi sudah menepi di sudut ruangan sambil memegang gelas sampanyenya. Sambil sesekali ia menyesap minumannya dengan pandangan tanpa minat ke arah panggung yang tengah menampilkan seorang penyanyi.

“Hai.”

Altaria mengernyit. Ia menoleh. “Oh, hai, mantan.”

Andrew, yang lebih akrab disapa Drew itu tertawa kecil karena perkataan Altaria itu. “Acaranya membosankan.”

“Hmm.” Altaria menganggapinya dengan tak acuh. Ia memainkan gelas di tangannya dengan memutar-mutarkannya.

“Ulang tahunmu juga nggak lama lagi, Aria.”

“Lalu?”

“Siapa tahu kamu mau merayakannya?”

Membuat Altaria mengulum senyum kecil. “Jangan menjual bisnis pacar lo ke gue, Bang.”

“Kamu tahu?” Tawa Drew pelan.

Altaria memutar bola mata jengah. “Apa gunanya media sosial?”

“Oh iya. Kamu benar.” Drew kembali tersenyum dan memilih bersandar pada tiang yang tak jauh dari Altaria.

“Kapan diseriusin?” Altaria menoleh dan menatap Drew dengan lekat.

Drew membalas tatapan Altaria. “Tidak lama lagi.”

“Bagus deh. Gue turut senang,” kata Altaria dan kembali menyesap minumannya lalu menjauhkan tatapannya dari Drew.

“Kita benar-benar nggak bisa balik lagi, Aria?” Kini tatapan Drew pada Altaria sendu.

Sontak gadis itu menoleh dan pandangannya yang tadinya ramah kini datar. “Nggak ada tempat buat pengkhianat.” Ia menegak habis sampanyenya setelah itu memilih berlalu dari hadapan Drew.

Altaria rasa sudah cukup dengan acara monoton ini. Lebih baik ia pulang ke rumah dan menghabiskan waktu dengan film-film dokumenternya.

Baru saja Altaria menapaki kakinya di lobi hotel matanya mendapati sosok pria yang beberapa waktu belakangan ini mendekatinya. Pria itu terlihat tidak sendiri melainkan bersama seorang perempuan.

Sebenarnya Altaria ingin bertahan di sini dan menyaksikan kedua orang itu namun Altaria sedang malas. Lagipula ia tidak ada hubungan dengan pengacara itu selain teman kencan beberapa kali. Jadi, ia memilih melanjutkan langkahnya keluar untuk pulang.

Namun belum sempat Altaria masuk ke dalam mobilnya seseorang sudah lebih dulu masuk ke dalam dan membuat Altaria terkejut. Ia menatap tajam pada orang yang dengan lancang masuk mobilnya.

“Cepat masuk, Nona. Saya dalam bahaya.”

Altaria mengerutkan keningnya. “Keluar kamu.”

Ethnan menggeleng. Ia menarik tangan Altaria lalu menutup pintu mobil dengan cepat dan menyuruh supir Altaria untuk mengemudikan mobil keluar area hotel.

Setelah mobil bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya, Altaria menoleh dan menatap Ethnan dengan tajam. Ethnan yang tahu dirinya ditatap seperti itu memandang Altaria dengan tenang.

“Akan saya jelaskan nanti.”

Altaria mengernyit tetapi memilih menghadap ke depan dan berbicara pada supirnya untuk membawa mereka ke sebuah kafe. Altaria tidak akan mengantar Ethnan pun tidak akan membawa Ethnan ke rumahnya.

Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit kini Altaria dan Ethnan sudah berada di sebuah kafe. Pesanan pun sudah dilakukan bahkan sudah ada di hadapan mereka masing-masing karena Ethnan dan Altaria memesan hal yang sama teh mint.

Altaria duduk sambil bersandar dengan tangan menyilang di depan, menatap lawan bicaranya dengan datar menunggu Ethnan berbicara.

“Maaf atas tindakan saya tadi. Saya kepepet,” ujar Ethnan.

Altaria mengernyit sebelum Ethnan kembali lanjut berbicara.

“Saya tadinya udah ngelihat kamu pas baru muncul di lobi. Saya juga hadir di pesta itu. Saya berniat menghampiri kamu. Tapi seorang wanita menghadang saya dan memaksa saya untuk mengobrol. Tapi karna saya tidak mau saya dipaksa sampai saya ngelihat kamu yang mau masuk mobil maka sisa ceritanya kamu sendiri sudah tahu.”

Teh yang sudah sempat diminum Altaria kembali menyapa mulutnya dan membasahi tenggorokannya. “Mantan teman kencan kamu?”

Ethnan mengangguk. “Nggak lama hanya dua bulan.”

“Oh,” tanggap Altaria singkat sebelum ia kembali minum tehnya.

“Meski nggak sering tapi saya beberapa kali memang berkencan, hubungan serius saya hanya lima kali. Saya hanya ingin jujur sebelum kamu tahu dari orang lain atau berpikir macam-macam tentang saya,” kata Ethnan. Ia menatap kedua iris Altaria dengan serius.

Altaria menatap iris Ethnan tanpa minat. “Lalu kenapa kamu menjelaskannya pada saya?”

Kedua sudut bibirnya tertarik sedikit ke atas. “Agar kamu tidak salah berasumsi tentang saya.”

“Memangnya kenapa kalau saya salah berasumsi?”

“Kalau sampai begitu maka kamu akan menjauhi saya sedangkan saya tidak menginginkan itu terjadi.”

Altaria menelisik iris hitam itu dengan tajam. Apa pun yang disampaikan Ethnan semuanya ditepis Altaria mentah-mentah. Tanpa dikatakannya tentunya.

Senyuman tipis terbit di wajahnya. “Kita lihat saja nanti tergantung interpretasi dari hal yang saya lihat.”

Bersambung..

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Published: March, 13th 2021
Revised: May, 17th 2024

Altaria [Completed] || RevisedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang