50. Pantas Bahagia

7.2K 344 42
                                        

Kalau ditanya seperti apa konsep bahagia Altaria tidak tahu jawabannya karena ia lupa rasanya. Tapi Altaria tahu bahwa ia pernah merasakan keceriaan meski harus berjuang melawan para pencemooh di sekelilingnya. Walau memang pernah merasakannya tapi ia sudah lupa.

Namun begitu saat ini Altaria sudah mulai menjalani hari-hari dengan semakin bebas dan semakin baik dari hari ke hari. Tidak seperti belasan tahun lalu.

Altaria menatap interaksi orang tuanya dengan lekat. Sudah satu minggu mereka dirawat di rumah sakit dan keduanya menolak pulang sampai benar-benar sehat. Alasan lainnya karena ingin lebih menghargai hidup yang dikasih dengan saling memberi kasih dan melupakan hal yang di belakang.

Altaria tidak bisa ikut campur dalam pengambilan keputusan mereka itu. Itu hidup mereka bukan hidupnya jadi Altaria hanya bisa mendukung dari belakang.

“Bukankah mereka terlihat bahagia.”

Altaria menoleh ke sebelah kirinya dan mendapati Helva telah berdiri di sampingnya.

Altaria mengangguk. “Ya.”

“Kakak, nggak pengen seperti itu?”

Keduanya berdiri bersisian sambil menatap orang tua mereka yang sedang duduk di bangku taman rumah sakit sambil berangkulan dan tersenyum lembut.

Altaria menarik kedua sudut bibirnya dengan tipis. “Lo baru sampai?” Enggan menjawab pertanyaan itu jadi lebih baik ia mengalihkannya dengan bertanya.

Namun Helva tidak bergeming, ia menatap kakaknya dengan sendu. “Gue mau liat Kakak kayak Mama sama Papa. Gue tahu di lubuk hati Kakak yang dalam pengen kayak gitu. Wujudkan, Kak. Kakak berhak bahagia.”

Altaria mendesah pelan. Angin sore itu meniup dengan lembut membuat rambutnya yang panjang berayun halus. “Tidak semudah itu, Dek.”

“Gue tahu. Tapi sekali aja, ikuti kata hati Kakak. Kita emang nggak akan pernah benar-benar sembuh, Kak. Meski begitu nggak harus jadi momok yang terus menghantui kita seumur hidup. Gue nggak mau menghabiskan hidup gue dengan cara seperti itu. Gue juga masih dan selalu usaha, Kak. Selama gue punya Kakak, Mama dan Papa gue pasti bisa lebih kuat dan lebih percaya diri lagi.”

Altaria menatap adiknya yang ternyata sudah menangis. Dengan lembut Altaria menghapus air mata Helva. Manik keduanya pun bersirubuk. Altaria memberi senyum lembut lalu mengusap kepala Helva dengan sayang.

“Lo ternyata kuat ya.”

Mendengar itu Helva tertawa pelan dengan derai air mata yang masih mengalir. Ia menghapus air matanya dengan cepat. “Kakak, benar-benar...”

Altaria tersenyum lebar. “Gue.. bakal coba, La. Tapi janji sama gue. Lo sama Mama akan selalu ada sebagai tempat ternyaman gue.”

Helva tentu mengangguk. Altaria langsung memeluk Helva sambil keduanya menatap orang tua mereka yang kini terlihat saling menjahili.

Pemandangan yang hangat dan indah di minggu pagi ini.

⭐⭐⭐

“Udah gue bilang berulang kali, Tira. Jangan sesederhana ini. Lo itu kaya.” Feren mendelik tajam pada Altaria.

Altaria sendiri mengangkat sebelah alisnya lalu mengendik tak acuh. “Lo tau gue nggak suka yang namanya buang-buang uang.”

Altaria [Completed] || RevisedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang