“Pavo mana, Bun?”
Altaria yang sedang menyiapkan sarapan menatap suaminya yang baru turun dari kamar.
“Di belakang.”
Ethnan pun langsung ke halaman belakang rumah mereka.
“Bundaaa. Yayah nakall.” Suara teriakan memanggil Altaria seraya terdengar langkah kaki kecil yang menghampirinya.
“Yahh..”
“Yayah cuma bantuin Pavo kasih makan Diddle aja kok.” Ethnan ikut masuk menyusul bocah kecil yang tengah mengadu pada Bundanya itu.
Altaria menggelengkan kepalanya karena kelakuan dua pria berbeda usia itu. “Pavo jadi ke rumah Nana sama Pops?”
“Jadi dong.” Perhatian anaknya itu pun langsung teralihkan. Ia berusaha menaiki salah satu kursi yang ada sambil menatap Altaria yang baru saja mematikan kompor.
“Pavoo..”
“Tuh siapa tuh.” Pria kecil yang baru duduk di kursi itu langsung bergegas turun untuk menyambut suara yang memanggil namanya itu.
“Mamiiii.” Pavo langsung melompat dalam pelukan Helva yang baru datang itu yang tentu saja disambut Helva. Tak lupa memberi kecupan-kecupan kecil yang membuat Pavo tertawa.
“Hai, jagoann.”
“Nana.. Mami, turun, Mamiii..”
Helva merengut menatap Pavo namun tak urung menuruti kemauan keponakannya itu.
“Hai, Sayang.” Raline berjongkok lalu memeluk cucunya.
“Kok Nana ke sini? Bunda bilang nanti Bunda yang anterin,” ujar balita itu.
Pavo Abdiel adalah anak satu-satunya dari Ethnan dan Altaria. Anak yang mereka dapatkan lima tahun lalu. Anak yang merupakan suatu anugerah dalam hidup Ethnan dan Altaria.
“Nana kangen sama Pavo makanya Nana ke sini.” Raline memberi senyuman hangat pada cucunya itu.
“Pops sama Nana nggak sabar pengen ketemu Pavo.”
“Pops.” Pavo berganti memeluk Altair.
Dari balik counter Altaria menyaksikan semua interaksi itu. Dalam hatinya ia mengucap syukur dengan apa yang dimilikinya saat ini. Siapa yang menyangka bahwa ia dapat membangun rumah tangga dan memiliki seorang anak. Semua ini masih sering dianggapnya sebagai sebuah mimpi. Mimpi yang tidak pernah jadi mimpi namun malah nyata terjadi dalam hidupnya.
“Aku masih sering ngerasa ini semua tuh mimpi tahu nggak?”
Ethnan yang berdiri di sebelah Altaria merangkul pundak istrinya lalu mengusapnya lembut. “Sama. Aku nggak nyangka kita sampai di titik ini.”
Altaria menoleh menatap Ethnan. “Makasih ya, Madu. Makasih karena terus nambah kadar kebahagiaanku.”
Ethnan tersenyum lembut. Ia mengusap pipi Altaria dengan penuh sayang. “Makasih karena kamu mau jadi istri aku bahkan jadi Bunda buat Pavo. Perjalanan kita masih panjang. Kamu siap ‘kan?”
Dengan tegas Altaria mengangguk. “Asal sama kamu.”
“Asal kita bersama.”
“Bunda Cassieee… Iyu boyeh main tama Diddle?”
“Noo.. Jangan ganggu Diddle.” Pavo yang sedang bermain dengan kakek dan neneknya langsung teralihkan karena ucapan sepupunya itu tentang kelinci kesayangannya.
“Iyu nggak ganggu. Cuma mau ajak main.”
“Nggak.”
“Kakak, pelit.” Sirius Andromeda, anak pertama Helva dan suaminya itu berlari ke halaman belakang untuk meledek kakak sepupunya itu. Tentu saja tanpa menunggu lama Pavo langsung mengejarnya. Dan kedua sepupu itu pada akhirnya saling bermain kejar-kejaran di halaman belakang dengan diawasi suami Helva.
KAMU SEDANG MEMBACA
Altaria [Completed] || Revised
ChickLitMenjadi anak sulung dari dua bersaudara yang mana adiknya merupakan seorang perempuan juga membuat Altaria harus mau menjadi pemimpin perusahaan. Namun sebelum ada adiknya, Altaria sendiri sudah belajar keras dan melatih dirinya nanti untuk kelak me...
![Altaria [Completed] || Revised](https://img.wattpad.com/cover/249975217-64-k908567.jpg)